KONDISI minimnya penguasaan Bahasa Inggris anak-anak di desanya, mendorong Fevi Mike Ofviana membuka bimbingan belajar (bimbel). Sejak 2024 lalu Fevi rutin memberi bimbingan kepada anak-anak duduk di bangku SD sekitar rumah.
‘’Mengajar bimbel Bahasa Inggris di rumah ketika akhir pekan untuk siswa SD kelas 1 hingga 6,” ungkap mahasiswi tinggal di Desa Senganten, Kecamatan Gondang.
Fevi sadar disparitas (ketimpangan) kemampuan bahasa asing antara anak-anak di desa dan kota berbeda jauh. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, hanya 20 persen anak desa terpapar bahasa asing. Sementara di kota 70 persen anak telah terpapar bahasa asing.
Ketimpangan ini yang mendorong Fevi untuk membuat bimbel. Sehingga anak-anak di desa bisa menguasai bahasa asing. Juga mampu bersaing dengan anak di kota.
Mahasiswi 19 tahun itu senang melihat anak-anak desa yang dulu asing total sama Bahasa Inggris sekarang lancar berbicara Bahasa Inggris. Tentu menjadi bukti dampak sosial dari bimbel yang dilakukan.
Namun mengatur jadwal dengan kesibukan sebagai mahasiswi menjadi tantangan. Bahkan jadwal bimbel sering berubah setiap semester. Tentu menimbulkan protes dari orang tua.
Mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Unugiri Bojonegoro itu ingin terus membimbing anak desa agar maju seperti anak kota lainnya. Tentu dengan komunikasi Bahasa Inggris lancar untuk masa depan.
‘’Kemampuan Bahasa Inggris penting untuk buka pintu kerja global, kuliah di luar negeri, hingga berwirausaha,” terangnya. (irv/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana