RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Aroma malam panas dan warna-warna batik memenuhi ruang Griya Batik Jonegoroan, Jalan Basuki Rahmat Gang Tanggul Timur No. 102 Bojonegoro, kemarin (5/2). Di tempat ini murid SMP Muhammadiyah 9 Bojonegoro belajar membatik. Bukan sekadar sebuah keterampilan, tetapi perjalanan mengenal identitas budaya daerah.
Kunjungan ke Griya Batik Jonegoroan merupakan bagian dari contextual teaching and learning yang diwujudkan dalam kegiatan kokurikuler bertema BANGKIT (BAtik Nusantara dalam Gerak, Kreasi, dan Inovasi Tradisi). Tema ini dirancang untuk menumbuhkan kesadaran murid terhadap pentingnya pelestarian batik sebagai warisan budaya bangsa.
Tak sekadar melihat, para murid yang terbagi menjadi beberapa kelompok juga mencoba langsung proses membatik. Kegiatan dimulai dengan murid-murid berdoa dan murajaah bersama. Setelah itu, seluruh murid melakukan senam Anak Indonesia Hebat. Usai senam, murid menerima materi dari tim Griya Batik Jonegoroan dan langsung praktik mengenal serta mewarna batik.
Tahap pertama mereka mencoba melakukan pewarnaan terhadap batik telah disiapkan. Puluhan kain putih telah dijajar dan dicap motif batik, langsung dieksekusi oleh masing-masing kelompok.
Tahap selanjutnya, mereka mencoba membuat batik tulis pada tote bag telah disiapkan. Dengan canting di tangan, mereka membubuhkan malam pada motif batik yang telah mereka lukis terlebih dahulu. Setelah itu, mereka melanjutkan ke tahap pewarnaan. Suasana belajar terasa hidup, penuh antusiasme sekaligus kehati-hatian agar garis motif tetap rapi.
Melalui pengalaman langsung ini, murid tidak hanya memahami bagaimana teknik membatik, tetapi juga memahami nilai kesabaran, ketelitian, dan kreativitas yang menjadi ruh dari setiap lembar kain batik.
Owner Griya Batik Jonegoroan, Nanik Lusetyani, S.Sos., M.M., menjelaskan bahwa griya batik tersebut berdiri sejak 2009 pada era kepemimpinan Bupati Kang Yoto. Kehadirannya merupakan bagian dari program pemerintah daerah untuk mengangkat kearifan dan kekayaan lokal Bojonegoro melalui batik.
Menurutnya, saat ini Griya Batik Jonegoroan memiliki 12 karyawan aktif yang terus memproduksi batik. "Kita juga membuka kesempatan luas bagi masyarakat dan pelajar yang ingin belajar membatik." Ujarnya.
Salah satu karyawan yang telah 10 tahun berada di Griya menyampaikan bahwa alat cap batik dipesan langsung di Kota Solo. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas batik yang diproduksi dalam Griya Batik Jonegoroan bisa awet sampai lebih dari 5 tahun.
Selain menerima kunjungan, Griya Batik Jonegoroan juga siap datang ke sekolah atau instasi lain untuk memberikan pelatihan terkait batik.
Kepala SMP Muhammadiyah 9 Bojonegoro, Ferry Yudha Pratama, S.Pd., M.Pd., Gr., menyampaikan bahwa kegiatan kunjungan ke Griya Batik Jonegoroan merupakan bagian penting dari proses pembelajaran kontekstual bagi murid.
“Melalui kegiatan ini, murid tidak hanya belajar tentang teknik membatik, tetapi juga menanamkan karakter sabar, teliti, dan kreatif. Yang lebih penting, mereka diajak mengenal serta mencintai budaya lokal sebagai identitas daerah dan bangsa,” ujarnya.
Ia berharap pengalaman belajar langsung dari para perajin batik ini dapat membangkitkan kesadaran murid untuk ikut melestarikan batik sebagai warisan budaya, sekaligus menumbuhkan rasa bangga menjadi generasi muda Bojonegoro yang berakar pada kearifan lokal. (*/irv)
Editor : Yuan Edo Ramadhana