Diskusi Mencari Solusi Penanganan Anak Tidak Sekolah Kabupaten Bojonegoro

M. Irvan Romadhon • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 09:00 WIB
MENCARI SOLUSI: Tim Redaksi Radar Bojonegoro menggelar diskusi mencari solusi tentang pencegahan dan penanganan ATS kemarin (21/7), diskusi yang melibatkan organisasi masyarakat sipil, OPD teknis, hingga pemangku kebijakan itu berlangsung gayeng. (FARHAN REZA ARDIYANSYAH/RADAR BOJONEGORO)
MENCARI SOLUSI: Tim Redaksi Radar Bojonegoro menggelar diskusi mencari solusi tentang pencegahan dan penanganan ATS kemarin (21/7), diskusi yang melibatkan organisasi masyarakat sipil, OPD teknis, hingga pemangku kebijakan itu berlangsung gayeng. (FARHAN REZA ARDIYANSYAH/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Menyongsong Hari Anak Nasional (HAN) 2026 yang berlangsung besok (23/7), Jawa Pos Radar Bojonegoro menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pencegahan dan Penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS), di kantor Jalan Ahmad Yani Nomor 39 Bojonegoro kemarin (21/7).

FGD berlangsung mulai pukul 13.00 tersebut diikuti berbagai stakeholer dan pihak terkait ATS. Mulai dari Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Jawa Timur Wilayah Bojonegoro-Tuban, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Dinas Pendidikan (Disdik), Dinas Sosial (Dinsos), Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB), dan Pengadilan Agama (PA) Bojonegoro, serta Kepala SMKN Margomulyo.

Juga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Kartini, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Daerah (Orda) Bojonegoro, Inspirasi Akademisi dan Periset Bojonegoro (Inspira Risbo), Aliansi Perlindungan Perempuan dan Anak (APPA) Bojonegoro, Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Bojonegoro, hingga LPM Istek Icsada Bojonegoro.

Baca Juga: Dewan Pendidikan Bojonegoro Bangun Sinergi dengan Pemkab, Bahas Roadmap hingga Anak Tidak Sekolah

FGD tersebut bertujuan untuk membangun ekosistem kolaborasi lintas sektor untuk akselerasi penuntasan angka ATS di Bojonegoro. Tentu melalui pendekatan terpadu.

Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Bojonegoro Muhammad Suaeb mengatakan, tantangan dunia pendidikan di Bojonegoro masih dihadapkan isu krusial. Angka ATS yang menyentuh angka 4.749 hingga 5.610 anak.

Berdasarkan pemetaan, faktor utama disebabkan oleh keterbatasan ekonomi keluarga, pernikahan usia dini, tuntutan anak untuk bekerja.

‘’Hingga rendahnya kesadaran kolektif terhadap pentingnya wajib belajar 12 tahun,” ungkapnya.

Baca Juga: DPRD Bojonegoro: Anak Tidak Sekolah Mengancam Masa Depan Daerah

Suaeb menjelaskan, penanganan ATS tidak hanya dibebankan pada sektor pendidikan formal. Namun diperlukan intervensi terpadu yang melibatkan aspek perlindungan sosial, penegakan hukum perkawinan, optimalisasi dana desa, hingga pneran aktif sektor swasta.

Melalui FGD, Jawa Pos Radar Bojonegoro berupaya menawarkan referensi solusi mewujudkan zero ATS.

‘’ATS tidak bisa diselesaikan sendiri, diskusi ini panggilan hati, berkolaborasi merumuskan solusi menuju Bojonegoro zero ATS,’’ tandasnya. (irv/msu)

 

 

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
Anak Tidak Sekolah ATS radar bojonegoro bojonegoro ISTek ICsada