Pemkab Blora Sebut Pertanian Organik Dinilai Jadi Solusi 

Rahul Oscarra Duta • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 07:10 WIB
CARI SOLUSI: Petani harus memutar otak untuk mengantisipasi serangan hama tikus. (IST./RDR.BJN)
CARI SOLUSI: Petani harus memutar otak untuk mengantisipasi serangan hama tikus. (IST./RDR.BJN)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM — Serangan hama tikus yang meluas di Kecamatan Todanan menjadi alarm bagi sektor pertanian di Blora. Dalam kondisi tersebut, Pemkab Blora mulai mendorong pertanian organik, sebagai salah satu model pertanian yang lebih ramah lingkungan dan mengutamakan keseimbangan ekosistem.

Sebelumnya diberitakan, serangan tikus di Todanan bahkan telah menjangkau 22 dari 25 desa. Hama tersebut menyerang berbagai komoditas, mulai padi, jagung, tebu, hingga tanaman hortikultura. Sejumlah petani bahkan memilih tidak menanami lahannya karena khawatir kembali merugi.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pengembangan pertanian organik dinilai penting. Bupati Blora Arief Rohman mengatakan, pertanian organik bukan berarti tanaman terbebas dari hama.

Namun, sistem tersebut mendorong pengelolaan lahan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman, dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan.

‘’Pertanian organik bukan berarti bebas hama. Tetapi bagaimana kita membangun ekosistem pertanian yang sehat dan pengendalian hamanya dilakukan dengan cara yang tepat,’’ kata Arief.

Menurut dia, pengembangan pertanian organik harus dilakukan secara bertahap. Tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia sintetis, tetapi juga memperkuat penggunaan pupuk organik dan pengendalian hama secara terpadu.

 ‘’Kita ingin pertanian organik ini tidak hanya menjadi gerakan di beberapa desa. Harapannya bisa berkembang lebih luas dan menjadi bagian dari pertanian Blora kedepan,’’ ujarnya. (hul/ind)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
pertanian organik Bupati Blora Arief Rohman Pemkab Blora blora