RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Bupati Blora Arief Rohman gencar membawa potensi pertanian organik daerah ke lingkungan perguruan tinggi. Dalam beberapa kesempatan, Bupati Arief telah menyambangi sejumlah kampus untuk mengenalkan produk pertanian organik Blora, sekaligus membuka peluang kerja sama pengembangan pertanian.
Beberapa perguruan tinggi yang telah menjadi tempat Arief memperkenalkan potensi pertanian Blora diantaranya Universitas Brawijaya, Universitas Islam Malang (Unisma), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, serta sejumlah perguruan tinggi lainnya.
Bupati Arief menyebut, langkah itu dilakukan sebagai bagian dari upaya Pemkab Blora memperluas jejaring pengembangan pertanian organik. Dia menilai, kampus memiliki peran strategis dalam memberikan pendampingan, riset, inovasi hingga pengembangan teknologi pertanian.
‘’Kita ingin produk pertanian organik Blora ini dikenal lebih luas. Kita kenalkan ke kampus-kampus dan kita dorong adanya kerja sama. Harapannya pertanian organik kita bisa semakin berkembang,’’ kata Arief.
Di Universitas Brawijaya, Arief bahkan mendorong Blora menjadi pilot project pertanian organik. Potensi beras organik yang telah dikembangkan sejumlah kelompok tani menjadi salah satu komoditas yang diperkenalkan.
Baca Juga: Bupati Blora Terima Penghargaan Padi Organik dari Kemendes
‘’Pengembangan di tingkat desa juga terus berjalan. Sejumlah desa telah menghasilkan beras organik dengan dukungan berbagai pihak, termasuk CSR perusahaan dan organisasi kemasyarakatan,” jelasnya.
Ia menyebut, salah satunya PUSAKA BLORA bersama Pertamina yang telah mengembangkan 30 hektare lahan padi organik di Desa Sidorejo, Kecamatan Kedungtuban.
‘’Sementara ada juga pendampingan PCNU dan LPPNU mencakup 41,3 hektare lahan dan 139 petani binaan, dengan estimasi produksi sekitar 120 ton gabah kering panen,” jelasnya.
Pihaknya juga menyiapkan perda pertanian organik sebagai payung hukum agar pengembangan program semakin masif. Targetnya, lahan organik bisa mencapai 295 hektare dengan mendorong setiap desa/kelurahan menyediakan minimal satu hektare lahan bengkok sebagai demplot.
‘’Kita ingin ekosistemnya terbentuk. Ada produksi, pendampingan, inovasi, kemudian produk kita kenalkan dan pasarkan lebih luas,’’ tandas Arief. (hul/ind)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah