RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Para petani mengeluh, musim panen raya yang seharusnya penuh sukacita berpotensi diwarnai duka karena kendala alat.
"Saya ingin menyampaikan masalah pertanian ini pertama tentang pengairan, ingin ganti panel surya. Karena kalau listrik sebulan mencapai Rp 60 juta per bulan," kata Bang Jeck salah satu petani Desa Ngraho, Kecamatan Gayam mengungkapkannya saat Bupati Medhayoh di desa setempat kemarin (11/6)..
Pengurus Himpunan Perkumpulan Petani Pemakai Air (Hippa) Tirto Sumber Makmur itu menuturkan, dengan penggantian tenaga listrik dapat memangkas biaya dan menyejahterakan masyarakat.
Selain itu, para petani setempat juga mengeluh perihal panen raya saat musim rendeng atau hujan. "Musim rendeng, saat panen raya terkendala peralatan seperti blower dan kombi. Harapan kami pengurus hippa, poktan (kelompok tani) punya kombi yang bisa digunakan sama-sama," ujar dia.
Baca Juga: Musim Kemarau Tiba di Bojonegoro, Petani Mulai Tanam Tembakau
Menanggapi permintaan penggantian panel listrik, Bupati Setyo Wahono menyampaikan, sepakat jika mengurangi biaya operasional melalui itu.
Namun, listrik dan migas ada regulasi tersendiri. Di bawah pemerintah pusat. "Tenaga surya boleh, harus izin ke PLN dulu, ada regulasinya," jelas dia.
Sementara, terkait alat panen, pria kelahiran Kecamatan Tambakrejo itu mengarahkan ke kepala dinas pertanian dan ketahanan pangan (DKPP) untuk menjawab. "Untuk kombi ini minta tolong pak kadin pertanian yang menjawab karena ada skema yang diatur kalau pinjam dinas pertanian," imbuhnya.
Kepala DKPP Bojonegoro Zaenal Fanani menanggapi, perihal kombi harga cukup mahal. Sehingga, dari sisi kedinasan belum bisa menganggarkan.
Namun, ada bantuan kombi dari pemerintah pusat dengan mengajukan proposal. "Dari kami ada inovasi Manak Kombi, skemanya pinjam ke DKPP. Dinas punya enam kombi," kata Zaenal.
Dia menjelaskan, syarat peminjamannya yakni mengirim surat pinjam ke DKPP, satu desa dikombi oleh poktan atau gabungkan kelompok tani (gapoktan), dan hasilnya dibelikan kombi. "Kami beri (pinjamkan, red) satu kombi, kalau tidak cukup dua atau tiga kombi," imbuh dia.
Zaenal menambahkan, satu desa akan melaksanakan skema tersebut, yakni Desa Mulyorejo, Kecamatan Balen. Rencana dilakukan Agustus mendatang. "Aturan pinjam 14 hari bisa diperpanjang dua kali sampai 30 hari untuk satu desa. Kalau kesulitan menjual hasil panen, kami bekerja sama dengan perumda pangan mandiri untuk membeli gabah," beber dia. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana