Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Bojonegoro Masih Jadi Langganan Banjir dan Kekeringan, Butuh Solusi Jangka Panjang

Dhani Wahyu Alfiansyah • Rabu, 24 Desember 2025 | 15:00 WIB
EVAKUASI: Petugas sedang mengavakuasi korban di Bengawan Solo. Banjir dan kekeringan menjadi bencana langganan di Bojonegoro.
EVAKUASI: Petugas sedang mengavakuasi korban di Bengawan Solo. Banjir dan kekeringan menjadi bencana langganan di Bojonegoro.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Banjir dan kekeringan menjadi bencana yang paling berdampak pada masyarakat Kabupaten Bojonegoro, sepanjang Januari hingga Desember 2025.

Berdasarkan hasil rekapitulasi dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, kedua bencana tersebut memengaruhi lebih dari 7 ribu kepala keluarga, lahan pertanian, serta aktivitas pendidikan.

Sepanjang 2025, BPBD mencatat 130 kejadian banjir yang meliputi banjir luapan, bandang, dan genangan. Dampaknya menjangkau lebih dari 2.800 KK, dengan 395 hektare sawah terendam. Banjir juga menyebabkan satu korban jiwa di Kecamatan Kalitidu, serta 16 ekor ternak hanyut.

Sementara itu, kekeringan tercatat sebanyak 21 kejadian, berdampak pada sekitar 1.100 KK atau 4.400 jiwa yang mengalami krisis air bersih. Kondisi ini turut memengaruhi sektor pendidikan, dengan lebih dari 700 siswa dan guru terdampak keterbatasan air.

BPBD juga mencatat 85 kejadian angin kencang yang menyebabkan satu orang luka-luka dan kerusakan pada lebih dari 220 unit rumah, termasuk fasilitas sekolah, kendaraan, dan jaringan listrik. Adapun tanah longsor terjadi sebanyak 75 kejadian, mengakibatkan enam jembatan putus atau ambles, 22 rumah rusak, serta 115 KK terancam.

Selain itu, BPBD mencatat 31 kejadian lain-lain yang meliputi orang tenggelam, tersambar petir, dan kegagalan industri. Dari jumlah itu, 27 orang meninggal dunia akibat tenggelam, satu orang luka bakar akibat kebocoran gas rawa, serta dua rumah dan satu mushola rusak tersambar petir.

Kepala Pelaksana BPBD Bojonegoro Heru Wicaksi menyampaikan, pihaknya terus memperkuat upaya mitigasi, khususnya banjir dan kekeringan, melalui pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana). “Saat ini tercatat 135 desa di 25 kecamatan sudah terbentuk,” kata Heru.

Menurutnya, arah penanganan bencana di Bojonegoro disusun berdasarkan kajian risiko bencana dan penguatan kapasitas masyarakat. “Kami juga menyampaikan peringatan dini cuaca yang bersumber dari BMKG kepada masyarakat,” ujarnya. (dan/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#destana #Bencana #penanggulangan bencana #kekeringan #bpbd bojonegoro #banjir #bojonegoro #bpbd #angin kencang #BMKG #desa tangguh bencana