RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM — Di antara puluhan kecamatan di Kabupaten Bojonegoro, ada beberapa wilayah yang masuk daftar “top penerima” bantuan sosial (bansos). Jumlahnya bukan sedikit, bahkan nilai yang digelontorkan pemerintah cukup signifikan. Berikut datanya :
Kecamatan “Langganan” Penerima
Menurut data publik dari portal SiBantu Bojonegoro, sejumlah kecamatan selalu muncul sebagai penerima bansos terbanyak, yaitu Baureno, Kanor, Kedungadem, Kepohbaru, Dander, Temayang, danBojonegoro Kota. Berdasarkan pengamatan lokal dan daftar lampiran Perbup menyebut nama kecamatan tersebut sebagai lokasi dengan konsentrasi tinggi penerima bantuan.
Nilai Bansos: dari Rp 600 Ribu hingga Jutaan per Keluarga
Untuk memberi gambaran nilai bantuan yang diterima, berikut data berdasarkan berbagai sumber:
- BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai) untuk periode tiga bulan diberikan senilai Rp 600.000 per keluarga penerima.
- PKH (Program Keluarga Harapan) tergantung kategori:
- Ibu hamil & anak usia dini (0–6 tahun): Rp 3.000.000 per tahun.
- SD/sederajat: Rp 900.000 per tahun.
- SMP: Rp 1.500.000 per tahun.
- SMA: Rp 2.000.000 per tahun.
- Lansia 60+ / disabilitas berat: Rp 2.400.000 per tahun.
- Korban HAM berat: hingga Rp 10.800.000 per tahun.
- Program bantuan sosial provinsi / daerah / DBHCHT (dana bagi hasil cukai tembakau) juga disalurkan ke buruh rokok dan petani tembakau. Tahun 2025, Pemkab Bojonegoro mengalokasikan Rp 34 miliar untuk bantuan ini.
- Gubernur Jawa Timur menyerahkan bansos senilai Rp 6,748.477.300 di Kabupaten Bojonegoro sebagai bagian dari bantuan provinsi yang mendukung program sosial di daerah.
Jadi, tidak jarang keluarga penerima bansos di kecamatan dengan jumlah penerima tinggi bisa menerima kombinasi bantuan: BPNT + PKH + program lokal. Akumulasi bantuan bisa menambah puluhan ratus ribu atau jutaan per tahun, tergantung kategori dan kelayakan.
Mengapa Kecamatan Tersebut Penerima Bansos Terbanyak?
Apa penyebab wilayah seperti Baureno atau Kanor muncul “teratas”? Ada beberapa faktor yaitu :
- Kepadatan penduduk dan basis keluarga miskin lebih besar di daerah pedesaan dan pinggiran kota.
- Struktur perekonomian lokal: banyak penduduk bekerja di sektor informal, pertanian, buruh, dan dengan penghasilan tidak tetap.
- Pelaporan dan pendataan desa yang aktif: perangkat desa dan pendamping sosial di kecamatan tersebut kemungkinan besar lebih aktif mendata keluarga pra-sejahtera agar terdaftar di “Data Tunggal” (DTSEN / Data Terpadu).
Tips bagi Warga: Cek & Pastikan Nama Anda Masuk
Agar warga tidak tertinggal informasi terkait data penerima bansos, inilah tips-nya:
- Cek melalui situs https://cekbansos.kemensos.go.id
- Masukkan provinsi, kabupaten, kecamatan, desa, nama penerima.
- Gunakan portal SiBantu Bojonegoro untuk melihat jenis bantuan dan status penerima di kecamatan/desa.
- Jika belum terdaftar, ajukan bantuan melalui kantor desa atau pendamping sosial, sambil melengkapi data keluarga (KK, KTP, kondisi ekonomi).
Bantuan Nyata, Harapan Nyata
Kecamatan-kecamatan seperti Baureno, Kanor, dan Kedungadem memang menjadi sorotan karena tingginya jumlah penerima bansos. Tapi angka-angka itu bukan sekadar statistik, ada nilai rupiah nyata yang menyentuh rumah tangga, dari ratusan ribu hingga jutaan per tahun.
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dan Pemprov Jatim tampak serius menggelontorkan anggaran sosial, seperti dana DBHCHT ratusan miliar dan bantuan provinsi senilai miliaran, agar program bansos tidak hanya formalitas.
Bagi warga di kecamatan-kecamatan tersebut: bila nama Anda belum muncul di daftar penerima, pastikan memantau portal resmi dan menghubungi kelurahan/desa setempat. Karena bantuan sosial bukan hanya kebijakan, melainkan harapan untuk hidup yang lebih lapang. (feb)
Editor : Yuan Edo Ramadhana