RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi turut angkat bicara mengenai kecelakaan kereta api (KA) yang terjadi pada Senin malam (27/4) lalu. Arifah mengusulkan perubahan konfigurasi gerbong KA komuter berkaca pada dampak kecelakaan tersebut.
Sebagai informasi, pada Senin malam KRL Komuter TM 5568A menjadi korban benturan dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. Gerbong khusus perempuan milik KRL Komuter berada di ujung belakang rangkaian gerbong kereta tersebut.
Berhubung KA Argo Bromo menghajar KRL Komuter dari belakang, mayoritas korban kecelakaan berasal dari gerbong khusus perempuan yang nyaris tak bersisa. Hingga Selasa sore (28/4), terdapat 88 korban luka-luka yang dibawa ke rumah sakit, serta total 15 penumpang dinyatakan meninggal dunia.
“Kalau tadi kita ngobrol dengan KAI, kenapa ditaruh di paling depan atau paling belakang supaya tidak terjadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah. Jadi yang laki-laki di ujung, depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah,” jelas Arifah saat mengunjungi korban luka-luka pada Selasa sore, sebagaimana dikutip dari Jawa Pos.
Arifah menjamin bahwa seluruh korban bakal menerima tanggungan melalui PT KAI, dan kementerian yang dipimpinnya bakal memberikan pendampingan fisik dan psikologis. Namun dirinya juga mendorong berbagai perusahaan yang mempekerjakan korban kecelakaan agar dapat memberikan keringanan hingga korban dapat pulih.
Baca Juga: Evakuasi Kecelakaan KA Stasiun Bekasi Timur Dinyatakan Selesai, 15 Penumpang Meninggal Dunia
“Bagi mereka yang sebagai pekerja, kami berupaya agar perusahaan di mana mereka bekerja bisa memberikan keringanan sampai mereka pulih baru bisa masuk lagi ke tempat kerja. Ini yang akan kita upayakan bersama, mudah-mudahan ini bisa dilakukan oleh beberapa perusahaan,” tambah Arifah.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono memahami kekhawatiran yang disuarakan Arifah tersebut. Terlebih kejadian kali ini tergolong luar biasa, karena baru sekali terjadi.
“Memang belum pernah terjadi sebelumnya ada tumbukan dari KRL dari belakang dihantam oleh kereta api jarak jauh. Dan kebetulan yang paling belakang adalah kereta khusus wanita. Jadi pasti ada concern mengapa justru yang paling rentan yang kita siapkan secara khusus selama ini gerbongnya, justru yang mendapatkan, bisa dikatakan resiko yang paling tinggi," papar Agus di kesempatan yang sama.
Namun pria yang akrab disapa AHY tersebut menambahkan, benar memang masyarakat perempuan berada dalam posisi rentan dengan rangkaian gerbong saat ini, namun keselamatan merupakan hak semua lapisan masyarakat tanpa pandang gender. Sehingga pembenahan keselamatan transportasi tidak hanya perlu dilakukan melalui pergeseran gerbong saja.
"Jadi yang kita fokuskan adalah bukan perempuan dan laki-lakinya, tetapi bagaimana sistem transportasi kereta dan sistem transportasi publik lainnya ini aman, selamat. Menghadirkan rasa aman, nyaman dan juga safety first itu benar-benar bukan hanya menjadi jargon, tapi benar-benar bisa kita terapkan dengan baik,” jelas AHY. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana