RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Operasi evakuasi penumpang yang terjebak dalam puing-puing kereta api (KA) dalam insiden kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur dinyatakan tuntas oleh Badan SAR Nasional (Basarnas) pada Selasa sore (28/4). Semua penumpang tersisa telah berhasil diselamatkan, termasuk beberapa korban meninggal dunia.
Sebelumnya pada Senin malam (27/4), KRL Komuter PLB 5181 menemper sebuah taksi listrik di perlintasan yang terletak dekat dengan stasiun. Akibatnya, KRL TM 5568A yang sedang melintas di jalur berlawanan harus berhenti di Stasiun Bekasi Timur untuk menunggu proses evakuasi kecelakaan terpisah tersebut.
Nahas, dari arah yang sama dengan KRL Komuter TM 5568A, diduga KA Argo Bromo Anggrek tidak menerima sinyal untuk turut berhenti, sehingga kereta antar kota tersebut langsung menghajar gerbong belakang KRL TM 5568A saat tiba di stasiun. Bagian depan KRL, serta sebagian besar KA Argo Bromo masih utuh, namun gerbong belakang KRL ringsek nyaris tak bersisa.
Menurut Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Muhammad Syafii, evakuasi dilakukan oleh tim SAR gabungan sejak malam hari hingga Selasa pagi. Seluruh korban telah dikirimkan ke rumah sakit di sekitar stasiun untuk menjalani perawatan medis, serta identifikasi bagi korban meninggal.
”Alhamdulillah atas kerja sama dari seluruh unsur, bahwa operasi SAR bisa kami laksanakan sesuai dengan yang kita harapkan. Dan tadi pagi pukul 08:00 WIB sudah selesai, seluruh Tim SAR kami kembalikan ke home base masing-masing,” ujar Marsekal Syafii sebagaimana dikutip dari Jawa Pos.
Dari seluruh penumpang yang berhasil diselamatkan, tujuh diantaranya memerlukan manuver dengan peralatan khusus karena terhimpit dua kereta tersebut, sehingga KA Argo Bromo tidak dapat langsung dimundurkan. Lima diantaranya berhasil dievakuasi dengan selamat, sementara dua sisanya dinyatakan meninggal dunia.
"Kita tahu pada saat dua kereta berbenturan, dari situ kita sama-sama melihat bahwa lokomotif bisa sampai masuk ke satu gerbong Komuter. Dari situlah sebenarnya adanya korban baik itu yang kita evakuasi dalam kondisi meninggal hampir semuanya karena terjepit. Begitu juga korban 5 korban yang kita evakuasi dalam kondisi selamat juga dalam kondisi terjepit material," papar Marsekal Syafii.
Selain itu, karena gerbong yang ringsek merupakan gerbong khusus perempuan, mayoritas korban selamat dan meninggal juga merupakan masyarakat perempuan. ”Yang kami evakuasi 100 persen perempuan,” tambah Marsekal Syafii.
Menurut laporan yang disampaikan oleh Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, hingga Selasa sore terdapat 88 korban yang selamat, namun mengalami luka-luka hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Sementara itu, jumlah korban meninggal resmi bertambah menjadi 15 orang.
“Sampai dengan jam 1 siang tadi ada 15 orang yang meninggal dunia dan 88 orang yang masih dirawat. Termasuk ada tiga yang tadinya terjepit bisa kita evakuasi dan masih dalam perawatan di rumah sakit," ujar pria yang akrab disapa AHY tersebut.
Selain itu, PT KAI juga masih menyelesaikan evakuasi puing-puing gerbong dari stasiun. “Saya lihat di bawah memang masih diupayakan agar sore ini benar-benar bisa diangkat atau diangkut dari rel kereta, yaitu gerbong khusus wanita KRL,” tambah AHY.
Sementara itu, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, serta Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin kompak menunggu hasil investigasi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Selain untuk memperoleh kronologi lebih detil, juga untuk mengurangi asumsi terhadap penyebab kecelakaan.
"Karena ini adalah kecelakaan dan kita penanganannya harus sesuai dengan aturan. Jadi kita menyerahkan semua kepada KNKT," jelas Bobby yang turut hadir dalam pemeriksaan KNKT bersama AHY dan Dudy.
Selain itu, Dudy juga berharap agar seluruh pihak terkait dan masyarakat dapat bersabar sepanjang proses investigasi. “Kami tidak ingin mendesak atau memburu-buru KNKT karena memang mereka tentunya punya metodologi maupun cara bagaimana melakukan investigasi terhadap kecelakaan kereta api,” jelas Dudy. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana