RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Di tengah kalender yang menunjukkan musim kemarau, sebagian wilayah Indonesia justru mengalami fenomena yang kontradiktif: kemarau basah. Ini adalah kondisi di mana curah hujan masih tetap tinggi, bahkan di atas normal, pada periode yang seharusnya kering.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi fenomena ini sebagai akibat dari dinamika atmosfer regional dan global yang kompleks, membawa serta beragam dampak bagi kehidupan masyarakat.
Fenomena kemarau basah, seperti yang diulas oleh BMKG, bukanlah hal baru. Ia sering dipicu oleh faktor-faktor seperti suhu muka laut yang hangat di perairan Indonesia dan sekitarnya, aktivitas angin monsun yang masih kuat, serta pengaruh fenomena global seperti La Niña dan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif.
Sebagai contoh, BMKG mencatat bahwa kemarau basah pada tahun 2020 banyak disebabkan oleh La Niña, yang membuat sejumlah wilayah mengalami curah hujan di atas normal selama musim kemarau.
Dampak Kemarau Basah: Dua Sisi Mata Uang
Fenomena ini membawa dampak yang bervariasi, memiliki sisi positif maupun negatif, tergantung pada sektor yang terdampak:
Sisi Positif:
Peningkatan Pasokan Air: Bagi sektor perairan, kemarau basah berarti pasokan air yang lebih melimpah. Waduk-waduk dan sumber air permukaan lainnya cenderung memiliki volume air yang cukup, yang tentu bermanfaat untuk kebutuhan air bersih masyarakat dan irigasi di beberapa daerah.
Sisi Negatif dan Tantangan:
Ancaman Sektor Pertanian: Ini adalah sektor yang paling rentan terdampak negatif. Kondisi tanah yang terlalu lembap dan terus-menerus diguyur hujan dapat menyebabkan gagal panen pada komoditas pertanian tertentu yang tidak toleran terhadap genangan air atau kelembapan berlebih.
Peningkatan Hama dan Penyakit Tanaman: Kelembapan tinggi dan suhu yang tidak terlalu panas menciptakan lingkungan ideal bagi perkembangbiakan berbagai jenis hama dan penyakit tanaman, yang dapat merugikan produksi pertanian.
Kesulitan Perencanaan Pertanian: Pola hujan yang tidak menentu dan tidak sesuai dengan perkiraan musim kemarau yang normal menyulitkan para petani dalam merencanakan jadwal tanam, panen, serta penggunaan pupuk dan pestisida. Hal ini bisa berdampak pada produktivitas dan pendapatan petani.
Risiko Kesehatan: Seperti yang juga diulas oleh Metrotvnews.com, kondisi lembap dan curah hujan sporadis dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) karena perkembangbiakan nyamuk, serta infeksi kulit dan penyakit pernapasan.
Potensi Bencana Hidrometeorologi: Meskipun di musim kemarau, curah hujan tinggi tetap membawa risiko bencana seperti banjir bandang dan tanah longsor, terutama di daerah-daerah dengan topografi rentan atau sistem drainase yang kurang memadai.
Kesiapsiagaan Menjadi Kunci
Untuk mengantisipasi dampak yang mungkin timbul, BMKG merekomendasikan masyarakat dan berbagai pihak untuk:
- Terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG.
- Memperbaiki dan menjaga infrastruktur seperti sistem drainase dan waduk.
- Meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana.
- Bagi petani, adaptasi dan pemilihan jenis tanaman yang tepat menjadi sangat penting.
- Meningkatkan kesadaran akan kebersihan lingkungan dan kesehatan diri.
Fenomena kemarau basah adalah pengingat akan kompleksitas iklim di Indonesia dan pentingnya adaptasi serta mitigasi dini untuk menghadapi tantangan cuaca yang semakin dinamis. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko