RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Lembaga pendidikan menjunjung tinggi kesetaraan gender. Buktinya, tercatat 14 kepala sekolah (KS) perempuan yang memipin SMA, SMK, serta Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PK-PLK) atau Sekolah Luar Biasa (SLB) negeri di Bojonegoro.
Jumlah tersebut mengalami peningatan dibandingkan sebelumnya. Banyaknya KS yang memimpun sekolah di lingkup Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Jawa Timur Wilayah Bojonegoro-Tuban menunjukkan kesetaraan gender di bidang pendidikan.
Terlebih secara kinerja KS perempuan tak kalah dengan KS laki-laki.
Baca Juga: BKPP Bojonegoro Temukan Ada Lebih Banyak ASN Perempuan di Lingkungan Pemkab
Kasubag TU Cabdindik Bojonegoro-Tuban Zuliati mengatakan KS perempuan di wilayah Bojonegoro berjumlah 14 orang. Baik di SMA, SMK, maupun PK-PLK negeri.
Pengawas Sekolah Cabdindik Bojonegoro-Tuban Anis Fatul Cholis mengatakan, kinerja kepala sekolah perempuan SMA/SMK/SLB selama ini menunjukkan hasil yang baik dan profesional.
Buktinya, mereka banyak menorehkan prestasi, dan mendapat kepercayaan memimpin sekolah sekolah favorit.
Anis menjelaskan KS Perempuan mampu menjalankan fungsi manajerial, kepemimpinan pembelajaran, serta membangun komunikasi yang efektif dengan warga sekolah.
Bahkan, banyak kepala sekolah perempuan yang menunjukkan ketelatenan, empati, dan ketegasan dalam mengambil keputusan.
‘’Sehingga berdampak positif terhadap iklim sekolah dan peningkatan mutu pendidikan,” jelasnya.
Terkait perbedaan KS perempuan dan laki-laki, menurut Anis secara prinsip, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal kompetensi maupun tanggung jawab antara kepala sekolah perempuan dan laki-laki. Keduanya memiliki peluang yang sama untuk menunjukkan kinerja terbaik.
Perbedaan yang mungkin terlihat lebih pada gaya kepemimpinan, di mana perempuan cenderung lebih komunikatif dan kolaboratif. Namun, banyak juga yang tegas, sementara laki-laki seringkali lebih tegas dan langsung.
Baca Juga: 8 Tanda Psikologis Perempuan Berhati Mulia, Ada di Dekatmu?
‘’Namun, hal ini tidak bersifat mutlak karena sangat bergantung pada karakter individu masing-masing,” terangnya.
Anis menilai meningkatnya jumlah kepala sekolah perempuan dapat menjadi indikator positif bahwa kesetaraan gender di bidang pendidikan di Bojonegoro sudah berjalan dengan baik.
Hal ini menunjukkan bahwa kesempatan untuk memimpin tidak lagi dibatasi oleh gender, melainkan berdasarkan kompetensi dan kinerja.
‘’Namun demikian, upaya untuk menjaga dan meningkatkan kesetaraan tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan agar semua pihak mendapatkan kesempatan yang adil,” ungkapnya. (irv/msu)
Editor : Bhagas Dani Purwoko