RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Ikatan Guru Olahraga Nasional (Igornas) Jawa Timur menilai konten game PUBG banyak tindakan kekerasan. Juga tak layak disebut sebagai olahraga. Sehingga, Igornas mendukung pemerintah apabila hendak memblokir PUBG.
Ketua Igornas Jatim Anam Syaifuddin mengatakan, setuju dengan wacana pembatasan pemainan PUBG dari pemerintah. Terlebih di dalam game tersebut banyak tindakan kekerasan. Serta pakaian karakternya tidak mencerminkan budaya Indonesia.
Anam mengaku heran PUBG bisa disebut sebagai olahraga. Terlebih definisi olahraga tidak cocok dengan pemainan tersebut. ''Lebih cocok untuk hiburan, walau perkembangan saat ini sesuai dengan minat dan kesukaan masyarakat," ujarnya.
Sementara itu, akademisi olahraga Mohammad Dai mengatakan, game dengan unsur kekerasan memang perlu diawasi. Namun, solusinya bukan hanya membatasi atau melarang. Terpenting adalah memberikan literasi digital, mengatur waktu bermain, mendorong aktivitas fisik, dan memperkuat komunikasi keluarga.
Menurut Dai, game juga bisa diarahkan menjadi hal positif, misalnya e-sport atau media pembelajaran. Sehingga, persoalan ini sebaiknya dipandang sebagai tanggung jawab bersama antara sekolah, keluarga, dan lingkungan, bukan hanya salah satu faktor saja.
Dai menjelaskan, dalam pendidikan olahraga, masalah utama biasanya muncul ketika anak terlalu lama bermain game tanpa keseimbangan dengan aktivitas fisik. Jika anak tetap aktif bergerak, punya jadwal belajar yang teratur, dan didampingi orang dewasa, maka game tidak otomatis berdampak buruk. (irv/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana