Dunia pendidikan di Bojonegoro pada 20 tahun lalu sempat tercoreng. Siswa SMK Siang Bojonegoro tak lulus ujian melakukan protes ke sekolah hingga melakukan pengerusakan di sekolah hingga rumah kepala sekolah. Terlebih ada dugaan siswa tak lulus diberi kunci jawaban salah oleh pihak sekolah.
Berdasarkan arsip Jawa Pos Radar Bojonegoro, pertemuan wali siswa SMK Siang Bojonegoro dengan pihak sekolah berakhir tanpa hasil pada 11 September 2005. Para siswa tak lulus juga melaporkan pihak sekolah ke polisi dengan tuduhan penipuan.
Dalam pertemuan antara pihak sekolah, wali siswa tak lulus, komite sekolah, serta siswa tak lulus, pihak SMK Siang Bojonegoro mengusulkan agar siswa tak lulus mengikuti kejar paket c yang akan berlangsung November 2005. Namun usulan tersebut langsung ditolak oleh wali siswa dan siswa. Terlebih SMK Siang Bojonegoro adalah sekolah kejuruan. Sedangkan kejar paket c untuk SMA. Sehingga tak sesuai dengan ilmu pengetahuan yang didapat ketika bersekolah. Juga ijazah bakal diterima bukan ijazah keahlian, tapi hanya ijazah setingkat SMA.
Pertemuan tersebut diwarnai lemparan ke arah kepala sekolah beserta guru. Untungnya pihak keamanan segera mengncegak agar situasi tak semakin parah.
Salah satu siswa yang kala itu ikut melakukan protes yaitu Rameli merasa ditipu sehingga meminta ujian diulang. Terlebih ketika unas tahap kedua tepatnya mata ujian Bahasa Inggris terdapat guru yang mendatangi setiap kelas untuk memberikan 40 jawaban. Juga meminta peserta unas menjawab dengan kunci jawaban telah diberikan.
"Itu dilakukan oleh guru sekolah ini," ungkap siswa jurusan mesin otomotif tersebut dalam pertemuan.
Namun kenyataannya, ketika menggunakan kunci jawaban tersebut siswa justru tidak lulus. Padahal sebenarnya ketika guru memberikan kunci jawaban para siswa sudah menyelesaikan beberapa soal.
Kepala SMK Siang Bojonegoro kala itu Wik Usodo mengatakan pihak sekolah tidak bisa berbuat apa-apa terkait hasil ujian. Juga mengaku tak mengetahui adanya pembagian kunci jawaban.
Sementara itu, Kapolres Bojonegoro yang kala itu dijabat AKBP Herri Wibowo mengatakan laporan dari sejumlah siswa SMK Siang Bojonegoro yang tidak lulus telah diterima. Dan segera dilakukan pengembangan penyidikan.
"Keputusan menunggu hasil pengembangan," ungkapnya.
Setelah pertemuan wali siswa tak lulus dan pihak SMK Siang Bojonegoro tak membuahkan hasil. Rumah kepala sekolah di Jalan Basuki Rachmat diserbu siswa tak lulus. Bahkan terkadang perusakan pada 13 September 2005. Buntut kerusuhan tersebut 19 siswa diamankan.
Perusakan rumah Kepala SMK Siang Bojonegoro Wik Usodo bermula saat siswa tak lulus ujian nasional mendatangi rumah kepala sekolah sekitar pukul 14.00. Lalu pukul 14.15 siswa merusak rumah tersebut. Selang 10 menit polisi datang dan perusak melarikan diri kembali ke sekolah. Terlebih d sekolah sedang berlangsung rapat antara wali siswa dengan pihak sekolah. Perusakan berlanjut di sekolah. Beberapa barang seperti bangku dirusak. Kemudian polisi menangkap delapan orang dan membawa ke mapolres sekitar pukul 14.00.
Kasubdinmenum Dinas Pendidikan Daerah (Disdikda) Bojonegoro Zainuddin menyatakan menyesalkan kejadian tersebut. Terlebih perusakan berlangsung di sekolah.
Zainuddin menjelaskan Disdikda telah membentuk tim khusus untuk menangani dugaan kebocoran soal yang diketahui Wakil Kepala Disdikda kala itu Djoko Supeno.
Wakadisdikda Djoko Supeno menyampaikan pihaknya tetap menerapkan peraturan pemerintah. Sehingga tak bisa meluluskan siswa tidak lulus unas. Namun memfasilitasi untuk mengikuti kejar paket c.
''Mengikuti kejar paket c atau mengulang kelas 3 dengan biaya seminimal mungkin," terangnya.
Kasat Reskrim Polres Bojonegoro saat itu AKP Masduki mengatakan dari kejadian tersebut 19 siswa diamankan. Siswa dimintai keterangan di Mapolres.
''Jika terlibat, dijadikan tersangka," ungkapnya. (irv/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana