RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Tidak semua bentuk kasih sayang berakhir baik. Di tengah kesibukan orang tua masa kini, pola pengasuhan kerap berjalan otomatis tanpa refleksi.
Padahal, cara orang tua mendidik anak sejak usia dini terbukti membentuk bukan hanya sikap, tapi juga karakter, kepercayaan diri, dan kesehatan mental anak di masa depan.
Sebuah studi terbaru dari Elan dan Handayani (2023) berjudul Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7(3), 2951–2960 menyoroti pentingnya peran pola asuh yang tepat dalam pembentukan karakter anak usia dini.
Penelitian tersebut memperingatkan bahwa pola asuh otoriter dan cuek (neglectful) bukan hanya menghambat perkembangan emosional, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak psikologis jangka panjang.
Dua Pola Asuh yang Harus Diwaspadai
Setiap orang tua memiliki pendekatan berbeda dalam membesarkan anak. Namun, menurut teori psikologi perkembangan klasik dari Diana Baumrind, setidaknya ada empat tipe pola asuh: otoriter, permisif, otoritatif, dan neglectful. Penelitian Elan & Handayani fokus pada dua pola yang paling rentan menimbulkan masalah, yaitu otoriter dan cuek.
1. Pola Asuh Otoriter: Tertib Tapi Membatasi Kepercayaan Diri
Pola asuh otoriter dikenal dengan ciri khas penuh aturan ketat, hukuman tegas, dan minim komunikasi dua arah. Orang tua otoriter seringkali menuntut ketaatan tanpa memberi ruang dialog atau penjelasan.
Akibatnya, anak mungkin tumbuh dalam lingkungan yang tampak disiplin, namun kehilangan kepercayaan diri dan rasa aman dalam mengambil keputusan.
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan secara otoriter cenderung merasa takut gagal, kurang berani menyampaikan pendapat, dan rentan terhadap tekanan sosial.
Dalam jangka panjang, mereka bisa mengalami kesulitan dalam mengekspresikan emosi serta merasa ragu-ragu saat menghadapi tantangan di kehidupan dewasa.
2. Pola Asuh Cuek: Bebas Tapi Mengabaikan Kebutuhan Emosional
Berbanding terbalik dari otoriter, pola asuh cuek atau neglectful ditandai dengan minimnya perhatian, keterlibatan, dan pengawasan dari orang tua. Anak dibiarkan tumbuh tanpa arahan, seolah-olah bebas, padahal sejatinya terabaikan secara emosional dan sosial.
Studi yang dimuat dalam Jurnal Obsesi ini mengungkap bahwa anak-anak dari keluarga neglectful cenderung mengalami kesepian, perasaan tidak diinginkan, dan gejala awal gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi.
Mereka pun lebih rentan terhadap pergaulan negatif karena tidak memiliki fondasi nilai dan batasan yang kuat sejak kecil.
Mengapa Usia Dini Begitu Kritis?
Usia dini (0–6 tahun) merupakan masa keemasan perkembangan otak, emosi, dan karakter anak. Ini adalah fase ketika anak menyerap nilai dan perilaku melalui observasi dan interaksi langsung dengan orang tua.
Apa yang mereka alami di masa ini akan meninggalkan jejak jangka panjang dalam membentuk identitas dan cara mereka menanggapi dunia.
Elan & Handayani dalam penelitiannya menekankan bahwa kegagalan dalam menerapkan pola asuh yang sehat di masa ini akan berdampak pada:
-
Kemandirian yang lemah
-
Kontrol emosi yang buruk
-
Rendahnya kemampuan sosial
-
Ketidakmampuan mengambil keputusan dengan percaya diri
Dengan kata lain, karakter anak tidak terbentuk secara optimal, membuat mereka lebih sulit beradaptasi saat memasuki usia sekolah, remaja, hingga dewasa.
Otoritatif: Gaya Asuh Ideal untuk Anak Tangguh dan Sehat Mental
Jika pola otoriter dan cuek berisiko tinggi, apa pendekatan terbaik? Jawabannya adalah pola asuh otoritatif.
Pola asuh otoritatif menggabungkan kontrol dan kedekatan emosional. Orang tua otoritatif tetap memberi batasan yang jelas, namun disertai penjelasan, empati, dan kesempatan bagi anak untuk menyampaikan pendapat. Disiplin tetap ditegakkan, tapi bukan melalui kekerasan atau ketakutan, melainkan dengan dialog dan konsistensi.
Dalam jangka panjang, pola asuh ini telah terbukti secara ilmiah:
-
Meningkatkan kepercayaan diri anak
-
Mengembangkan kemampuan berpikir kritis
-
Menumbuhkan empati dan keterampilan sosial
-
Menurunkan risiko depresi dan kecemasan di masa remaja
Tantangan Orang Tua Masa Kini
Di era digital dan kesibukan kerja yang tinggi, banyak orang tua menghadapi dilema. Waktu terbatas, stres meningkat, dan tuntutan finansial sering membuat interaksi dengan anak jadi sekadarnya.
Dalam situasi ini, sangat mudah untuk terjerumus ke pola otoriter karena ingin semuanya cepat, atau ke pola cuek karena merasa terlalu lelah untuk terlibat.
Namun, seperti yang dijelaskan dalam studi Elan & Handayani (2023), peran orang tua tidak bisa digantikan oleh sekolah, teknologi, atau lingkungan sosial. Membangun karakter anak adalah proses jangka panjang yang menuntut kesadaran, kedekatan, dan konsistensi.
Karakter anak tidak dibentuk dalam semalam, tetapi dalam keseharian yang penuh interaksi. Pola asuh otoriter yang keras dan pola asuh cuek yang abai sama-sama membawa risiko bagi perkembangan mental dan emosional anak.
Studi dari Elan & Handayani menegaskan bahwa hanya pola asuh otoritatif—yang tegas tapi penuh empati—yang dapat membentuk anak menjadi pribadi tangguh, percaya diri, dan sehat mental.
Di tengah tantangan zaman, menjadi orang tua bukan hanya soal memberi makan atau pendidikan formal, tapi juga soal menjadi figur yang hadir, mendengarkan, dan memberi arah. Karena dari rumah lah karakter manusia terbentuk, dan masa depan bangsa ditentukan. (kam)
Editor : Hakam Alghivari