Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Moms, Anak Sering Main Sampai Lupa Waktu? Bisa Jadi Itu Tanda Kemandirian, Bukan Nakal

Hakam Alghivari • Senin, 30 Juni 2025 | 00:22 WIB

 

Ilustrasi foto anak bermain di luar rumah.
Ilustrasi foto anak bermain di luar rumah.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Ketika anak pulang terlambat karena terlalu asyik bermain di luar, tak sedikit orang tua yang langsung melabelinya “nakal” atau “tidak tahu waktu.”

Padahal, perilaku seperti ini bisa jadi merupakan tanda perkembangan positif: anak mulai merasa nyaman mengambil keputusan sendiri, menjelajah dunia di luar rumah, dan mengatur aktivitasnya tanpa pengawasan langsung.

Menurut psikologi perkembangan, fase usia di atas lima tahun adalah masa transisi penting dari ketergantungan menuju kemandirian. Anak mulai menunjukkan kebutuhan untuk mengeksplorasi lingkungan sosialnya dan mengambil inisiatif dalam aktivitas sehari-hari.

Eksplorasi dan Kebutuhan Otonomi Anak

Dalam teori Self-Determination yang dikembangkan oleh Edward Deci dan Richard Ryan, disebutkan bahwa anak-anak memiliki tiga kebutuhan dasar psikologis: otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Ketika seorang anak memilih bermain di luar dalam waktu lama, sebenarnya ia sedang memenuhi kebutuhan otonomi—yakni rasa kendali atas pilihan dan tindakannya sendiri.

Studi yang dipublikasikan dalam Developmental Psychology (2021) menyatakan bahwa anak-anak yang diberi ruang untuk membuat keputusan dalam kegiatan bermain cenderung menunjukkan tingkat kepercayaan diri dan regulasi diri yang lebih tinggi di kemudian hari.

Tahap Perkembangan Inisiatif Anak

Dilansir dari teori psikososial Erik Erikson, anak usia 5–7 tahun berada dalam tahap perkembangan yang disebut initiative vs guilt. Di tahap ini, anak mulai aktif mencoba hal-hal baru dan berinisiatif mengatur waktu bermain, berinteraksi, serta menyusun rencana sederhana.

Orang tua yang terlalu cepat mengintervensi justru berisiko menumbuhkan rasa bersalah pada anak atas tindakan eksploratifnya. Sebaliknya, ketika anak diberi batas yang jelas tapi tetap diberi ruang eksplorasi, mereka belajar memahami konsekuensi secara alami.

Main Sampai Lupa Waktu, Wajar atau Perlu Dikhawatirkan?

Dalam konteks perkembangan normal, bermain dalam durasi panjang bukanlah masalah selama anak:

Namun, jika anak terus-menerus menolak aturan atau menunjukkan perilaku yang membahayakan dirinya atau orang lain, perlu ada evaluasi lebih lanjut. Dalam hal ini, pendekatan dialog dan keterlibatan aktif orang tua menjadi kunci.

Dikutip dari jurnal Journal of Child and Family Studies (2019), anak-anak usia sekolah yang diberi tanggung jawab ringan dan kebebasan bermain terbimbing justru menunjukkan kemampuan sosial dan problem-solving yang lebih matang.

Baca Juga: 10 Jenis Pertanyaan untuk Deep Talk Bareng Anak, Bikin Anak Lebih Terbuka dan Bijaksana

Peran Orang Tua: Menjadi Penjaga Ritme, Bukan Pengendali Mutlak

Kemandirian tidak muncul dalam ruang hampa. Anak tetap membutuhkan struktur dan arahan dari orang tua, tapi bukan dalam bentuk kontrol total.

Memberikan batas waktu yang disepakati bersama, menjadwalkan waktu istirahat, dan membangun komunikasi terbuka adalah cara efektif mendampingi anak membentuk kontrol diri.

Orang tua juga perlu menyesuaikan ekspektasi dengan usia anak. Anak 6 tahun tentu berbeda dengan remaja. Bila anak belum bisa menakar waktu secara akurat, itu bukan bentuk pembangkangan, melainkan keterbatasan kognitif yang akan berkembang secara bertahap.

Bermain sampai lupa waktu bukan selalu tanda kelalaian, melainkan bagian alami dari perkembangan sosial dan psikologis anak.

Alih-alih langsung memarahi atau menarik kebebasan anak, orang tua bisa melihat momen ini sebagai peluang untuk menanamkan nilai tanggung jawab secara perlahan—dengan cara yang mendukung, bukan mengekang. (kam)

Editor : Hakam Alghivari
#Otonomi #anak #Psikologi perkembangan anak #anak mandiri #Anak sering main di luar #pola asuh