Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Dari Rasa Takut Jadi Cita-Cita: Anak Tasya Kamila Ingin Jadi Engineer Gara-Gara Kipas

Hakam Alghivari • Kamis, 19 Juni 2025 | 19:40 WIB
Arrasya Wardhana Bachtiar, anak dark Tasya Kamila punya hobi yang unik.
Arrasya Wardhana Bachtiar, anak dark Tasya Kamila punya hobi yang unik.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Setiap anak punya caranya sendiri dalam mengenal dunia. Bagi Arrasya Wardhana Bachtiar, putra dari pasangan Tasya Kamila dan Randi Bachtiar, kisahnya dimulai dari rasa takut terhadap benda yang berputar dan berbunyi: kipas angin.

Namun siapa sangka, justru dari rasa takut itulah tumbuh minat yang besar hingga menjadi cita-cita: menjadi seorang engineer.

Perjalanan ini menjadi contoh menarik tentang bagaimana anak bisa berubah melalui proses eksplorasi yang positif dan peran orangtua yang mendampingi.

Dulu Takut Kipas, Sekarang Jadi Kolektor Kipas Kecil

Dilansir dari kanal YouTube Raditya Dika pada Kamis (19/6). Tasya Kamila mengisahkan bahwa sejak bayi, Arrasya sempat menunjukkan rasa takut terhadap kipas. Suara dan bentuknya membuat ia enggan mendekat. Tapi alih-alih memaksa, Tasya dan suaminya memilih memberi dukungan dengan cara halus.

“Awalnya dia tuh takut sama kipas. Jadi setiap ada kipas, dari umur sebelum satu tahun lah, dia takut. Tapi kita selalu bilang, 'nggak apa-apa, nggak apa-apa',” ujar Tasya.

Proses ini menjadi fase penting dalam pembentukan keberanian Arrasya. Hingga suatu hari, ketertarikannya muncul saat melihat kipas kecil di sebuah video YouTube. Tasya kemudian mencarikan lebih banyak konten tentang kipas, yang ternyata tersedia cukup banyak untuk anak-anak.

“Ternyata banyak konten kreator kipas angin untuk anak-anak, dan dia masuk ke komunitas tersebut,” ungkapnya.

Perkembangan Imajinasi dan Kreativitas Lewat Kipas

Seiring bertambah usia, Arrasya mulai menjadikan kipas sebagai objek eksplorasi. Ia bukan hanya mengoleksi, tapi juga belajar warna, menyusun, hingga membongkar dan membuat kreasi sendiri dari bahan bekas.

“Dari pas umur 1 tahun, dia cuman suka jajar-jajarin koleksinya. Lalu dia belajar warna. Terus dia mulai tertarik dengan komponen kipas. Rumah jadi kayak bengkel, pagi-pagi tuh suara ‘tak tak tak tak’ itu kipas lagi diapain,” ujar Tasya sambil tertawa.

Kini di usia lima tahun, Arrasya mulai berani membuat bentuk kipas dari kardus, botol, dan material sederhana lainnya. Imajinasi dan motorik halusnya berkembang pesat—semua berawal dari rasa takut yang berhasil dikelola.

Cita-Cita yang Muncul dari Rasa Penasaran

Kebiasaan ini membuat orangtuanya memberi label baru pada impian anak mereka: menjadi engineer. Terlebih, sang ayah memang seorang engineer, sehingga menjadi panutan yang dekat dan realistis bagi Arrasya.

"Dia pengen jadi engineer. Jadi dari sekarang udah kita plotkan dia mau jadi engineer, gitu kayak Papahnya,” kata Tasya.

Cita-cita ini bukan dipaksakan, tapi tumbuh secara alami dari pengalaman pribadi Arrasya. Dalam dunia parenting modern, ini dikenal sebagai interest-based learning, pendekatan belajar yang menyesuaikan dengan minat anak untuk menumbuhkan motivasi dan rasa percaya diri.

Refleksi: Anak Tak Selalu Butuh Arah, Tapi Butuh Ruang

Kisah Arrasya menunjukkan bahwa tidak semua minat anak langsung muncul dalam bentuk yang menyenangkan. Terkadang, rasa takut bisa menjadi awal dari ketertarikan—selama ada ruang dan dukungan dari lingkungan.

Dalam banyak kasus, anak-anak yang diberi kebebasan eksplorasi dan tidak ditekan cenderung mengembangkan kreativitas dan ketangguhan lebih tinggi. Peran orangtua bukan untuk mengarahkan minat anak secara kaku, tapi membuka jalur agar rasa penasaran bisa bertumbuh. (kam) 

Editor : Hakam Alghivari
#enginer #kisah #koleksi kipas angin #Arrasya Wardhana Bacthiar #tasya kamila #parenting