Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

7 Hal Kecil yang Diam-Diam Ditiru Anak dari Orang Tuanya

Hakam Alghivari • Jumat, 23 Mei 2025 | 14:19 WIB
Hati-hati, anak merupakan peniru ulung. Ajari buah hati kalian dengan sikap yang baik.
Hati-hati, anak merupakan peniru ulung. Ajari buah hati kalian dengan sikap yang baik.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Dalam dunia Parenting, anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang secara eksplisit diajarkan, tapi juga dari apa yang mereka amati setiap hari. Mereka seperti spons, menyerap informasi dari lingkungan terdekat, terutama dari orang tua. Banyak perilaku yang terlihat sepele ternyata meninggalkan jejak mendalam dalam karakter dan kebiasaan anak di masa depan.

Sebagai orang tua, penting untuk menyadari bahwa tindakan sehari-hari—baik atau buruk—seringkali memiliki dampak lebih besar daripada kata-kata. Maka dari itu, memahami hal-hal kecil yang diam-diam diserap anak bisa menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan tumbuh kembang yang sehat dan positif.

Berikut 7 hal yang sering diserap anak tanpa disadari oleh orang tua:

1. Cara Mengelola Emosi

Anak-anak belajar tentang emosi dengan cara mengamati bagaimana orang dewasa mengekspresikan dan menangani perasaan mereka. Ketika orang tua marah lalu berteriak atau membanting barang, anak bisa meniru cara yang sama saat mereka merasa frustrasi. Sebaliknya, jika orang tua mampu berbicara dengan tenang, menarik napas panjang, atau mencari solusi saat sedang stres, anak-anak pun akan meniru regulasi emosi yang lebih sehat.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di Journal of Child Psychology and Psychiatry menegaskan bahwa regulasi emosi orang tua sangat memengaruhi perkembangan emosional anak (Morris et al., 2007). Anak dari orang tua yang mampu mengelola stres dengan baik cenderung memiliki tingkat kecemasan lebih rendah dan keterampilan sosial lebih baik.

2. Kebiasaan Komunikasi

Anak-anak menyerap cara berkomunikasi dari orang tua mereka: nada suara, pemilihan kata, intonasi, dan bahkan bahasa tubuh. Jika orang tua sering berbicara dengan empati dan menghargai pendapat orang lain, anak pun akan tumbuh menjadi pribadi yang bisa berkomunikasi secara asertif dan penuh respek.

Menurut Verywell Mind, observational learning atau pembelajaran melalui pengamatan adalah salah satu mekanisme utama dalam perkembangan anak, termasuk dalam hal komunikasi interpersonal. Mereka belajar dengan memperhatikan interaksi sehari-hari, bahkan tanpa disadari oleh orang tuanya.

3. Reaksi terhadap Rasa Sakit atau Ketidaknyamanan

Cara kita bereaksi ketika mengalami sakit—baik sakit fisik maupun emosional—juga diperhatikan dan dipelajari anak. Misalnya, jika seorang ibu panik setiap kali si kecil terjatuh, maka si anak cenderung akan tumbuh lebih cemas terhadap rasa sakit atau perubahan tubuh.

Sebuah studi yang diterbitkan di Journal of Pain mengungkap bahwa sikap orang tua terhadap rasa sakit sangat memengaruhi persepsi dan sensitivitas anak terhadap nyeri (Goubert et al., 2011). Artinya, reaksi kecil seperti mengatakan “tidak apa-apa” sambil memeluk anak bisa memberikan efek menenangkan yang berdampak jangka panjang.

4. Perilaku Sosial Sehari-hari

Anak belajar bagaimana bersikap kepada orang lain dari interaksi sosial yang dilakukan orang tua, baik kepada pasangan, teman, maupun orang asing. Apakah Anda bersikap sopan kepada pelayan di restoran? Apakah Anda membantu tetangga tanpa pamrih? Semua itu akan diamati dan menjadi standar anak dalam bersosialisasi.

Michigan State University Extension menulis bahwa anak-anak usia dini mengembangkan perilaku prososial lebih baik ketika mereka melihat orang dewasa mencontohkannya secara konsisten. Memberi salam, menyampaikan terima kasih, dan mendengarkan dengan penuh perhatian adalah perilaku sederhana yang dapat memberikan dampak besar.

5. Pola Hidup Sehari-hari

Kebiasaan harian seperti waktu tidur, konsumsi makanan, kebersihan, dan screen time sangat mudah diserap oleh anak. Bila orang tua cenderung begadang, makan sambil menonton TV, atau sulit lepas dari gawai, kemungkinan besar anak akan mengikuti kebiasaan yang sama.

Menurut Times of India dan WHO, anak-anak usia dini yang tumbuh dalam rutinitas sehat (makan teratur, tidur cukup, aktivitas fisik) memiliki fungsi kognitif dan emosi yang lebih stabil. Ini membuktikan bahwa hal kecil seperti makan bersama tanpa gadget bisa sangat berarti dalam jangka panjang.

6. Sikap terhadap Kejujuran

Saat orang tua memilih untuk berkata jujur meskipun dalam situasi sulit, anak menangkap pesan bahwa kejujuran adalah nilai penting. Namun, jika anak menyaksikan orang tua berbohong—meskipun tampak sepele seperti alasan tidak datang ke acara—anak bisa menilai kebohongan sebagai sesuatu yang normal.

Penelitian dari University of Toronto dan University of California menunjukkan bahwa anak-anak sudah mulai mengenali kebohongan sejak usia 4 tahun dan bisa kehilangan kepercayaan ketika menyaksikan inkonsistensi antara ucapan dan tindakan orang dewasa.

7. Cara Menyelesaikan Konflik

Ketika orang tua menghadapi konflik secara sehat—dengan berdiskusi, mendengarkan, dan menyampaikan perasaan—anak belajar bahwa konflik tidak harus disertai kemarahan. Namun, jika konflik selalu diselesaikan dengan teriakan atau diam-diaman, maka anak akan menganggap cara tersebut sebagai solusi umum.

Dilansir dari Psychology Today, pengasuhan yang mencontohkan resolusi konflik secara dewasa dapat menghindarkan anak dari pola hubungan yang penuh kekerasan verbal atau emosional saat dewasa. Anak belajar bahwa perselisihan adalah hal wajar dan bisa diselesaikan dengan baik.

Perilaku kecil sehari-hari seringkali terlewat dari perhatian orang tua, padahal justru di sanalah anak paling banyak belajar. Dengan menjadi contoh yang positif, kita bisa membentuk karakter anak yang tangguh, penuh empati, dan siap menghadapi tantangan kehidupan.

Anak mungkin tidak selalu mendengar apa yang kita katakan, tapi mereka selalu melihat apa yang kita lakukan. (kam) 

Editor : Hakam Alghivari
#Sosial #perilaku #anak #orang tua #Emosional #parenting