Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Simak 5 Tips Menyikapi Anak yang Mulai Menyukai Lawan Jenis! Peran Penting Orang Tua dalam Masa Transisi Remaja

Hakam Alghivari • Jumat, 23 Mei 2025 | 13:55 WIB
Ilustrasi remaja yang mulai menyukai lawan jenisnya
Ilustrasi remaja yang mulai menyukai lawan jenisnya

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Masa remaja adalah fase krusial dalam tumbuh kembang anak. Pada masa ini, anak mulai mengalami berbagai perubahan baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Salah satu tanda bahwa anak mulai memasuki usia remaja adalah munculnya ketertarikan terhadap lawan jenis. Ini merupakan hal yang wajar dan alamiah, namun seringkali membuat orang tua merasa canggung atau bahkan khawatir.

Bagi orang tua, masa remaja anak bisa menjadi masa yang penuh tantangan. Anak yang sebelumnya terbuka dan dekat, bisa saja menjadi lebih tertutup dan menjaga jarak. Mereka mulai menyimpan rahasia, merasa malu berbicara tentang perasaan, dan cenderung enggan untuk berbagi cerita mengenai ketertarikannya pada lawan jenis. Dalam situasi ini, peran orang tua sangat penting untuk memberikan pendampingan, pemahaman, dan dukungan tanpa menghakimi. 

Melansir dari laman Parentalk, ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk menyikapi anak yang mulai menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis. Langkah-langkah ini tidak hanya membantu menjaga komunikasi yang sehat, tetapi juga mendidik anak agar bisa membangun hubungan yang positif dan bertanggung jawab. Berikut ini beberapa tips yang bisa menjadi pedoman:

1. Beri Batasan yang Jelas 

Memberikan edukasi tentang batasan merupakan langkah pertama yang penting dalam mendampingi anak yang mulai menyukai lawan jenis. Orang tua perlu menjelaskan bahwa menyukai seseorang bukanlah hal yang salah, tetapi tetap harus ada batasan dan tanggung jawab yang menyertainya. Misalnya, menjelaskan tentang pentingnya menjaga privasi, batas fisik, serta mengenalkan risiko dari hubungan yang terlalu dini.

Batasan ini juga bisa menjadi bentuk perlindungan agar anak tidak terjebak dalam hubungan yang tidak sehat. Orang tua sebaiknya menyampaikan batasan ini dengan pendekatan yang tenang dan terbuka, bukan dengan nada menghakimi atau memaksa. Jika anak merasa dihargai, mereka akan lebih mudah menerima dan memahami maksud baik dari orang tuanya.

2. Beri Perhatian Positif 

Langkah penting lainnya adalah memberikan perhatian yang positif kepada anak. Ini bukan hanya soal hadir secara fisik, tetapi juga secara emosional. Orang tua perlu menunjukkan bahwa mereka ada untuk mendengarkan tanpa menghakimi. Ketika anak mulai terbuka, tugas orang tua adalah menemani, bukan menginterogasi. 

Dengan perhatian yang positif, anak akan merasa aman dan nyaman untuk berbicara tentang perasaannya. Hindari memberikan label negatif atau menyindir saat anak mulai menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis. Sebaliknya, jadilah teman diskusi yang menyenangkan, yang siap memberi nasihat saat dibutuhkan tanpa memaksakan kehendak.

3. Sosial Media adalah Dua Sisi Mata Uang 

Di era digital saat ini, media sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja. Informasi mengalir dengan sangat cepat dan bebas, termasuk informasi tentang hubungan, perasaan, dan gaya hidup yang bisa mempengaruhi cara berpikir anak. Dalam proses mencari jati diri, anak bisa dengan mudah terombang-ambing oleh informasi yang mereka temui. 

Oleh karena itu, orang tua perlu berperan aktif dalam mendampingi anak menggunakan media sosial. Ajarkan anak cara melakukan filterisasi informasi—membedakan mana yang sesuai dengan nilai keluarga dan mana yang sebaiknya dihindari. Alih-alih melarang secara keras, bantu anak memahami manfaat dan risiko dari konten yang mereka konsumsi.

4. Beri Contoh yang Baik

 Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari apa yang mereka lihat. Oleh karena itu, menjadi contoh yang baik adalah hal utama dalam mendidik anak menghadapi masa remajanya. Orang tua yang mampu menunjukkan hubungan yang sehat, saling menghargai, dan penuh komunikasi terbuka akan menjadi teladan yang kuat bagi anak.

Dalam keseharian, orang tua bisa menunjukkan bagaimana cara menyelesaikan konflik dengan pasangan, cara saling mendukung dalam kesulitan, dan bagaimana menjaga batasan dalam hubungan. Sikap-sikap ini akan secara tidak langsung membentuk pemahaman anak tentang hubungan yang sehat dan layak untuk ditiru.

5. Bangun Karakter Anak Sejak Dini

Pendidikan karakter merupakan investasi jangka panjang yang tidak bisa dibentuk secara instan. Orang tua perlu mulai membangun karakter anak sejak dini, dengan menanamkan nilai-nilai seperti tanggung jawab, empati, jujur, dan percaya diri. Karakter yang kuat akan menjadi bekal penting saat anak mulai mengenal dan menjalani relasi sosial, termasuk ketertarikan pada lawan jenis.

Anak yang memiliki karakter kuat cenderung lebih bijak dalam menyikapi perasaannya. Mereka tidak mudah terbawa arus, lebih mampu mempertimbangkan dampak dari keputusan, dan bisa membedakan antara rasa suka sesaat dan perasaan yang lebih dalam. Dalam hal ini, orang tua berperan sebagai pembimbing yang konsisten dan penuh kasih sayang.

Masa remaja adalah masa yang penuh warna, di mana anak mulai belajar mengenali dirinya sendiri dan orang lain. Ketertarikan pada lawan jenis adalah bagian alami dari proses ini. Daripada menghindari atau menghakimi, orang tua sebaiknya mengambil peran sebagai pendamping yang sabar, terbuka, dan bijak. Dengan memberikan batasan yang jelas, perhatian yang positif, bimbingan dalam penggunaan media sosial, keteladanan, dan pendidikan karakter yang konsisten, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang matang dalam menyikapi perasaan dan relasi sosialnya. (oss/mgg)

Editor : Hakam Alghivari
#sosial media #Perhatian #remaja #lawan jenis #karakter #Anak Muda #perang orang tua #tips