RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kesehatan mental anak seringkali luput dari perhatian, padahal gangguan mental bisa terjadi bahkan sejak usia dini. Anak-anak bukan hanya rentan terhadap gangguan fisik, tetapi juga mental dan emosional, yang jika tidak ditangani dengan tepat bisa mempengaruhi tumbuh kembang mereka secara menyeluruh. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami tanda-tanda awal gangguan mental serta langkah-langkah pencegahannya.
Mengutip dari kanal YouTube RS Premier Bintaro, Monica Sulistiawati, M. Psi, psikologi klinis menjelaskan salah satu hal pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan screening perkembangan sejak dini, idealnya mulai dari usia 6 bulan. Tujuannya adalah untuk memantau milestone perkembangan anak dan mendeteksi apakah ada keterlambatan perkembangan yang signifikan. Keterlambatan ini bisa memengaruhi aktivitas harian anak, termasuk bagaimana mereka berpikir, merasakan, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Pada rentang usia 0-5 tahun, milestone perkembangan seperti kemampuan berbicara, menunjuk objek, atau merespons interaksi sosial sangat penting untuk diperhatikan. Misalnya, anak usia satu setengah tahun yang belum bisa mengucapkan satu kata atau belum mampu menunjuk sesuatu dapat menjadi indikasi adanya keterlambatan perkembangan. Dalam banyak kasus, hal ini memerlukan evaluasi lebih lanjut dan penanganan melalui terapi.
Semakin bertambah usia, gejala yang muncul bisa semakin kompleks. Pada anak usia 3 tahun, contohnya, tantrum berulang, ledakan emosi, atau perilaku marah berlebihan bisa menjadi tanda adanya gangguan emosional. Anak bisa mudah terpancing emosi hanya karena hal-hal kecil, lalu menangis histeris, berguling di lantai, atau mengurung diri. Di sini penting bagi orang tua untuk mengevaluasi penyebabnya: apakah karena karakter bawaan, ada keluhan fisik, atau adanya kecemasan yang belum tersampaikan.
Anak-anak di bawah usia 8 tahun sering mengalami separation anxiety atau kecemasan saat berpisah dengan orang tua. Namun, bentuk kecemasan lain juga bisa muncul, termasuk yang dipicu oleh gangguan sensori. Anak dengan gangguan sensori cenderung merasa ragu memulai aktivitas karena merasa tidak nyaman terhadap rangsangan tertentu, seperti suara, cahaya, atau tekstur tertentu.
Penanganan gangguan mental pada anak perlu pendekatan yang sesuai. Psikolog dan psikiater memiliki peran yang berbeda. Psikolog umumnya menangani kasus dengan psikoterapi seperti talking therapy, di mana anak diajak berbicara untuk menggali sumber masalah. Terapi lain seperti play therapy, art therapy, atau terapi juga sering digunakan untuk anak-anak. Sementara itu, penggunaan obat-obatan hanya dapat diresepkan oleh psikiater.
Yang tak kalah penting adalah peran orang tua dalam mengenali perubahan perilaku anak. Anak yang biasanya cerewet dan terbuka, tiba-tiba menjadi pendiam, lebih sering mengurung diri, atau mengalami gangguan makan, perlu mendapat perhatian khusus. Begitu pula ketika anak sering mengeluh sakit fisik seperti pusing, mual, atau lemas padahal hasil pemeriksaan medis menunjukkan kondisi yang normal—ini bisa menjadi sinyal adanya gangguan psikis.
Menjaga kesehatan mental anak sebaiknya dimulai sejak masa kehamilan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kecemasan, stres, atau depresi yang dialami ibu hamil bisa mempengaruhi kondisi janin. Ketika ibu mengalami stres, ritme detak jantungnya berubah dan hal ini dirasakan oleh janin melalui plasenta. Jika janin terbiasa dengan kondisi yang tidak nyaman, ia bisa tumbuh menjadi anak yang lebih rentan terhadap kecemasan.
Ada juga pandangan bahwa gangguan mental bisa diturunkan secara genetik. Oleh karena itu, penting bagi kedua orang tua—bukan hanya ibu—untuk menjaga kondisi mental selama kehamilan. Peran ayah sebagai pendamping siaga sangat dibutuhkan agar ibu merasa didukung secara emosional dan psikologis.
Sebagai penutup, kesehatan mental anak adalah tanggung jawab bersama yang memerlukan perhatian sejak dini. Orang tua diharapkan lebih peka terhadap perubahan perilaku anak serta memberikan lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang. Semakin cepat gangguan terdeteksi, semakin besar peluang anak untuk tumbuh sehat secara fisik maupun mental. (oss/mgg)
Editor : Hakam Alghivari