Motor Listrik Bekas: Jangan Tertipu Odometer, Begini Cara Mengecek Kondisi Baterainya

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 20:00 WIB
Kebiasaan buruk pengguna motor listrik seringkali menyebabkan kerusakan yang fatal pada motor. (GEMINI AI/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)
Kebiasaan buruk pengguna motor listrik seringkali menyebabkan kerusakan yang fatal pada motor. (GEMINI AI/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Membeli motor listrik bekas tidak cukup hanya melihat kondisi bodi, tahun produksi, atau angka pada odometer.

Ada satu komponen yang justru perlu mendapat perhatian lebih, yakni baterai. Sebab, kondisi baterai berhubungan langsung dengan jarak tempuh dan biaya yang mungkin harus dikeluarkan pemilik setelah membeli kendaraan.

Odometer yang masih rendah pun tidak otomatis menjamin baterai dalam kondisi prima. Cara penggunaan, pola pengisian daya, suhu lingkungan, hingga usia baterai dapat memengaruhi tingkat degradasinya.

Baca Juga: Baterai Motor Listrik Bisa Awet Berapa Tahun?

Lantas, bagaimana cara mengecek kondisi baterai motor listrik bekas sebelum membelinya?

1. Jangan Hanya Melihat Persentase Baterai

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah perbedaan antara persentase baterai dan kapasitas baterai.

Indikator 100 persen hanya menunjukkan bahwa baterai telah mencapai batas pengisian yang ditentukan sistem. Angka tersebut tidak berarti kapasitas baterainya masih sama seperti ketika kendaraan baru.

Dalam teknologi kendaraan listrik, kondisi baterai dapat digambarkan melalui istilah State of Health (SOH). Secara sederhana, SOH menunjukkan seberapa besar kemampuan penyimpanan energi baterai yang tersisa dibandingkan kondisi ketika masih baru.

Baca Juga: Mau Beli Motor Listrik? Kenali Perbedaan Sewa, Beli, dan Swap Baterai untuk Pekerja hingga Ojol

Data Geotab menjelaskan bahwa SOH merupakan perbandingan kapasitas baterai yang masih dapat digunakan dengan kapasitas awalnya.

Karena itu, calon pembeli sebaiknya menanyakan apakah motor memiliki sistem diagnostik yang dapat menunjukkan informasi kesehatan baterai.

2. Perhatikan Jarak Tempuh Saat Baterai Penuh

Cara sederhana berikutnya adalah membandingkan jarak tempuh motor ketika baterai terisi penuh dengan kondisi ketika masih baru.

Misalnya, sebuah motor diklaim mampu menempuh sekitar 80 kilometer dalam kondisi tertentu. Jika saat baru mampu mendekati angka tersebut, tetapi kini dengan baterai penuh hanya menunjukkan kemampuan yang jauh lebih rendah, calon pembeli perlu mencari tahu penyebabnya.

Namun, angka jarak tempuh tidak boleh dijadikan satu-satunya patokan.

Baca Juga: 5 Fakta Insentif Motor Listrik Prabowo

Kecepatan, berat pengendara, kondisi jalan, tekanan ban, gaya berkendara, hingga suhu lingkungan dapat memengaruhi konsumsi energi. Karena itu, pengujian sebaiknya dilakukan dalam kondisi yang relatif sama.

3. Lakukan Test Ride, Jangan Sekadar Menyalakan Motor

Motor listrik bekas sebaiknya tidak dibeli tanpa melakukan uji jalan.

Perhatikan perubahan persentase baterai selama digunakan. Jika penurunan persentasenya terlihat sangat cepat dalam perjalanan singkat, kondisi tersebut patut ditanyakan kepada penjual.

Calon pembeli juga dapat memperhatikan apakah performa motor berubah ketika kapasitas baterai mulai menurun.

Pengujian semacam ini memang tidak dapat menentukan SOH secara akurat, tetapi bisa menjadi pemeriksaan awal untuk menemukan gejala yang tidak wajar.

Baca Juga: Tersangka Kasus Korupsi MBG Bertambah, Komisaris Vendor Motor Listrik Dijerat Kejagung

4. Tanyakan Riwayat Pengisian Baterai

Riwayat pemakaian baterai juga penting.

Tanyakan kepada pemilik sebelumnya bagaimana kebiasaan pengisian dilakukan. Apakah motor lebih sering diisi menggunakan pengisian normal atau pengisian berdaya tinggi, jika model tersebut mendukungnya.

Studi Geotab terbaru terhadap lebih dari 22.700 kendaraan listrik menunjukkan bahwa penggunaan pengisian cepat berdaya tinggi menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap degradasi baterai.

Kendaraan yang sering menggunakan pengisian DC berdaya lebih dari 100 kW memiliki tingkat degradasi hingga sekitar 3 persen per tahun, dibandingkan sekitar 1,5 persen pada kelompok yang lebih banyak menggunakan pengisian berdaya rendah.

Meski demikian, temuan tersebut berasal dari kendaraan listrik yang diteliti Geotab dan tidak bisa langsung disamakan dengan seluruh jenis motor listrik. Teknologi baterai, sistem manajemen baterai, kapasitas, serta metode pengisian setiap kendaraan dapat berbeda.

Baca Juga: Update Harga Motor Listrik Honda 2026: Intip Spesifikasi dan Varian Termurah

5. Periksa Usia dan Riwayat Baterai

Jangan lupa menanyakan kapan baterai diproduksi atau mulai digunakan.

Jika motor sudah beberapa tahun digunakan, tetapi baterainya masih bawaan, informasi tersebut penting untuk dipertimbangkan bersama hasil pemeriksaan lainnya.

Sebaliknya, baterai yang pernah diganti bukan berarti motor otomatis buruk. Justru pembeli perlu mengetahui kapan penggantian dilakukan, apakah menggunakan baterai resmi, dan apakah masih memiliki garansi.

Dokumen servis atau bukti penggantian baterai akan lebih meyakinkan dibandingkan sekadar pernyataan dari penjual.

6. Perhatikan Kondisi Fisik Baterai dan Rumahnya

Pemeriksaan fisik juga tetap diperlukan.

Lihat bagian rumah baterai dan area konektor untuk memastikan tidak terdapat tanda kerusakan, korosi, bekas terbakar, atau indikasi pernah terkena air secara berlebihan.

Jika terdapat kerusakan fisik pada bagian baterai, jangan langsung mengambil keputusan sebelum mendapatkan pemeriksaan dari teknisi yang memahami sistem kendaraan listrik.

Pasalnya, kondisi bagian luar tidak selalu menggambarkan kondisi sel baterai di dalamnya.

Jangan Terkecoh Motor dengan Odometer Rendah

Baterai memang mengalami degradasi secara alami seiring waktu dan penggunaan. Namun, tingkat degradasinya tidak sama pada setiap kendaraan.

Data Geotab terbaru mencatat rata-rata degradasi baterai kendaraan listrik sekitar 2,3 persen per tahun. Faktor seperti suhu, pola pengisian dan penggunaan dapat membuat kondisi antar kendaraan berbeda.

Artinya, membeli motor listrik bekas sebaiknya tidak hanya berdasarkan angka kilometer.

Baca Juga: 5 Motor Matic Paling Ringan dan Gampang Diparkir Cewek, Mana Pilihanmu?

Motor dengan odometer rendah belum tentu memiliki baterai paling sehat. Sebaliknya, motor dengan jarak tempuh lebih tinggi juga tidak otomatis memiliki baterai buruk.

Jika memungkinkan, pemeriksaan terbaik adalah melihat data kesehatan baterai melalui sistem diagnostik atau pemeriksaan teknisi, kemudian mencocokkannya dengan hasil test ride dan riwayat pemakaian.

Dengan begitu, calon pembeli tidak hanya membeli motor yang terlihat bagus dari luar, tetapi juga mengetahui kondisi komponen yang menjadi salah satu bagian terpenting dari kendaraan listrik tersebut. (kam/bgs) 

Editor : Hakam Alghivari
kondisi baterai cara cek Bekas motor listrik