Opini: Mencintai Indonesia di Tengah Budaya Sinisme Digital

Muhammad Suaeb • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:20 WIB
SIAP DIKIBARKAN: Duplikat bendera pusaka akan dikibarkan dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI). (HAKAM ALGHIFARI/RADAR BOJONEGORO)
SIAP DIKIBARKAN: Duplikat bendera pusaka akan dikibarkan dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI). (HAKAM ALGHIFARI/RADAR BOJONEGORO)

Oleh: SUPRAPTO ESTEDE *)


Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, ruang digital kembali dipenuhi berbagai ungkapan tentang Indonesia. Sebagian mengungkapkan rasa bangga atas berbagai pencapaian bangsa, sementara sebagian lainnya melontarkan kritik yang keras terhadap berbagai persoalan yang masih dihadapi negeri ini. Kritik tersebut merupakan bagian yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Namun, ada satu gejala yang patut direnungkan bersama, yaitu semakin menguatnya budaya sinisme di media sosial.

Istilah-istilah satiris yang digunakan untuk menyebut Indonesia kini semakin akrab di telinga masyarakat, terutama generasi muda. Berbagai meme, komentar, dan konten humor kerap kali menggambarkan Indonesia sebagai negeri yang identik dengan korupsi, ketidakadilan, birokrasi yang rumit, atau penegakan hukum yang dianggap belum memenuhi harapan. Tidak sedikit yang menganggap cara seperti itu sekadar hiburan. Padahal, jika terus diulang tanpa diimbangi sikap yang sehat, sinisme dapat membentuk cara pandang yang keliru terhadap bangsa sendiri.

Sinisme berbeda dengan kritik. Kritik lahir dari kepedulian untuk memperbaiki keadaan. Sinisme justru berangkat dari anggapan bahwa segala sesuatu sudah buruk dan hampir tidak mungkin berubah. Kritik mendorong orang mencari solusi, sedangkan sinisme kerap berhenti pada ejekan, sindiran, atau cemoohan. Dalam jangka panjang, budaya semacam ini dapat mengikis optimisme sosial dan melemahkan rasa memiliki terhadap negara.

Media digital memiliki kekuatan yang luar biasa dalam membentuk opini publik. Algoritma media sosial cenderung lebih cepat menyebarkan konten yang mengundang emosi dibandingkan informasi yang bersifat seimbang. Akibatnya, narasi negatif lebih mudah menjadi viral daripada kisah tentang keberhasilan masyarakat, inovasi daerah, atau kerja keras banyak anak bangsa. Lama-kelamaan, ruang digital dipenuhi persepsi bahwa Indonesia hanya berisi kegagalan, sementara berbagai kemajuan nyaris tidak memperoleh perhatian yang memadai.

Baca Juga: Opini: Merawat Nasionalisme di Era Digital Artificial Intelligence

Padahal, kenyataan Indonesia jauh lebih kompleks daripada yang tampak di layar gawai. Bangsa ini memang masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari korupsi, kesenjangan ekonomi, hingga tantangan dalam pelayanan publik. Semua itu tidak boleh disangkal. Akan tetapi, Indonesia juga terus bergerak melalui pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah, kemajuan di beberapa sektor pendidikan, perkembangan teknologi digital, serta lahirnya generasi muda yang semakin kreatif dan inovatif. Kedua sisi tersebut harus dilihat secara utuh agar penilaian kita tetap adil.

Kemerdekaan yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 bukan sekadar membebaskan bangsa ini dari penjajahan fisik. Kemerdekaan juga mengandung makna membangun karakter warga negara yang percaya pada kemampuan bangsanya untuk berkembang. Para pendiri bangsa mewariskan optimisme, bukan keputusasaan. Mereka mampu membayangkan Indonesia merdeka ketika kenyataan saat itu justru penuh keterbatasan. Semangat seperti inilah yang seharusnya diwarisi oleh generasi sekarang.

Mencintai Indonesia bukan berarti menutup mata terhadap berbagai kekurangan. Sebaliknya, kecintaan kepada tanah air justru mendorong setiap warga negara berani menyampaikan kritik secara bertanggung jawab. Kritik yang dilandasi rasa memiliki akan melahirkan gagasan, solusi, dan partisipasi. Sebaliknya, sinisme yang berlebihan hanya akan melahirkan sikap apatis dan menjauhkan masyarakat dari tanggung jawab untuk ikut memperbaiki keadaan.

Baca Juga: Opini: Nobar dan Perekat Solidaritas Sosial

Di era digital, nasionalisme tidak lagi diwujudkan hanya melalui upacara bendera atau peringatan hari besar nasional. Nasionalisme juga tercermin dalam cara kita berkomunikasi di ruang digital. Menyebarkan informasi yang benar, berdiskusi secara santun, menghargai perbedaan pendapat, serta menghindari penyebaran kebencian merupakan bentuk nyata cinta tanah air. Ruang digital yang sehat akan memperkuat persatuan, sedangkan ruang digital yang dipenuhi sinisme hanya akan memperbesar polarisasi.

Momentum peringatan kemerdekaan hendaknya menjadi kesempatan untuk menata kembali cara kita memandang Indonesia. Negeri ini memang belum sempurna, tetapi tidak pernah berhenti berbenah. Indonesia bukan sekadar kumpulan persoalan, melainkan rumah bersama yang dibangun melalui perjuangan, pengorbanan, dan harapan jutaan anak bangsa dari generasi ke generasi.

Mari kita rawat kemerdekaan dengan tetap kritis tanpa kehilangan rasa cinta. Sebab, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang bebas dari masalah, melainkan bangsa yang memiliki warga yang mampu mengkritik dengan nurani, bekerja dengan penuh tanggung jawab, dan terus percaya bahwa Indonesia hari esok dapat menjadi lebih baik daripada Indonesia hari ini.

*) Dosen STIEKIA,

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sinisme indonesia kemerdekaan digital