Oleh: Choirul Anam*)
HARI pertama sekolah selalu menghadirkan dua perasaan yang saling berkejaran: semangat dan cemas. Di halaman sekolah, wajah-wajah baru tampak sibuk mencari ruang kelas, sesekali melirik kanan-kiri, berharap menemukan teman yang bisa diajak berbincang. Ada yang datang dengan penuh percaya diri, tetapi tidak sedikit yang menggenggam tasnya erat-erat, seolah tas itulah satu-satunya teman yang dikenalnya.
Di masa lalu, masa orientasi siswa sering kali identik dengan hukuman, bentakan, atau tugas-tugas yang tidak masuk akal. Dalihnya untuk melatih mental. Padahal, tidak sedikit peserta didik yang justru membawa pulang luka batin. Pengalaman buruk itu bahkan masih membekas hingga bertahun-tahun kemudian.
Kini, wajah orientasi berubah. Melalui Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di sekolah umum maupun Masa Ta'aruf Siswa Madrasah (MATAMUDA) di lingkungan madrasah, orientasi tidak lagi dimaknai sebagai ajang senioritas, melainkan sebagai proses penyambutan yang hangat. Tujuan utamanya sederhana tetapi sangat penting: membantu peserta didik mengenal lingkungan belajar sekaligus membangun budaya saling menghargai sejak hari pertama.
Baca Juga: Semangat Baru Dalam Memaknai MPLS Ramah
Dari sudut pandang akademik, MPLS dan MATAMUDA sesungguhnya merupakan investasi pendidikan. Peserta didik yang memahami tata tertib, budaya belajar, fasilitas sekolah, hingga cara berinteraksi dengan guru akan lebih cepat beradaptasi. Mereka tidak lagi menghabiskan energi untuk mengatasi rasa takut atau kebingungan, melainkan dapat memusatkan perhatian pada proses belajar.
Lebih jauh lagi, kegiatan-kegiatan yang dirancang secara kolaboratif—diskusi kelompok, permainan edukatif, hingga pengenalan organisasi sekolah—mendorong lahirnya kerja sama antarsiswa. Ketika sejak awal mereka dibiasakan bekerja bersama, muncul kesadaran bahwa teman bukanlah lawan yang harus ditaklukkan, melainkan rekan yang perlu dirangkul. Dalam suasana seperti inilah benih-benih perundungan sulit tumbuh.
Secara sosiologis, MPLS dan MATAMUDA berperan sebagai ruang pembentukan budaya sekolah. Sekolah bukan sekadar tempat transfer ilmu, tetapi juga tempat membangun karakter sosial. Nilai saling menghormati, gotong royong, toleransi, dan kepedulian tidak cukup diajarkan melalui ceramah. Nilai-nilai itu harus dialami secara langsung.
Bayangkan seorang siswa baru yang berasal dari desa kecil bertemu teman-teman dengan latar belakang ekonomi, budaya, bahkan bahasa yang berbeda. Tanpa proses pengenalan yang baik, perbedaan itu bisa menjadi bahan ejekan. Namun jika sejak awal sekolah menghadirkan aktivitas yang mengajarkan pentingnya menghargai keberagaman, maka perbedaan justru berubah menjadi kekayaan bersama.
Di madrasah, MATAMUDA memiliki nilai tambah berupa penguatan akhlak. Peserta didik diajak memahami bahwa menghina teman, mengejek fisik, mengucilkan seseorang, ataupun menyebarkan gosip merupakan perilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam. Nilai ukhuwah, kasih sayang, dan saling menjaga kehormatan sesama muslim menjadi benteng moral yang kuat dalam mencegah perundungan.
Sementara itu, dari perspektif psikologis, dampaknya jauh lebih mendalam. Masa transisi dari SD ke SMP atau MI ke MTs, bahkan dari SMP ke SMA, merupakan fase yang penuh tantangan. Anak-anak sedang mencari jati diri. Mereka ingin diterima dalam kelompok pertemanan. Pada fase ini, pengalaman pertama sangat menentukan.
Baca Juga: MPLS; Pencegahan Kekerasan sejak Dini
Apabila hari-hari awal sekolah dipenuhi rasa aman, penghargaan, dan perhatian dari guru maupun kakak kelas, peserta didik akan membangun kepercayaan diri. Mereka merasa sekolah adalah rumah kedua yang nyaman. Sebaliknya, apabila pengalaman awal diwarnai intimidasi atau penghinaan, rasa takut akan terus menghantui. Tidak sedikit korban perundungan mengalami penurunan prestasi, kehilangan motivasi belajar, bahkan menarik diri dari lingkungan sosial.
Karena itu, guru memiliki posisi yang sangat strategis. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pengamat sekaligus pelindung. Melalui kegiatan MPLS dan MATAMUDA, guru dapat mengenali karakter peserta didik sejak dini. Anak yang pendiam dapat diberikan ruang untuk berani berbicara. Anak yang terlalu dominan diarahkan agar belajar menghargai teman. Dengan demikian, potensi konflik dapat dicegah sebelum berkembang menjadi perundungan.
Peran kakak kelas pun tidak kalah penting. Ketika senior menjadi teladan dalam bersikap santun, ramah, dan membantu adik kelas beradaptasi, budaya positif akan terbentuk secara alami. Sebaliknya, apabila senior mempertontonkan arogansi, peserta didik baru dapat menganggap bahwa kekerasan adalah tradisi yang harus diteruskan.
Pada akhirnya, keberhasilan MPLS dan MATAMUDA tidak diukur dari meriahnya acara pembukaan atau banyaknya permainan yang dilakukan. Keberhasilannya justru terlihat beberapa bulan kemudian, ketika lorong-lorong sekolah dipenuhi sapaan hangat, ruang kelas menjadi tempat yang aman untuk bertanya, dan halaman sekolah menjadi ruang bermain tanpa rasa takut.
Baca Juga: MPLS, Momentum Semangat Belajar
Sekolah yang bebas dari perundungan bukanlah sekolah yang tidak pernah memiliki konflik. Konflik adalah bagian dari kehidupan. Namun sekolah yang sehat mampu mengelola perbedaan menjadi dialog, mengubah perselisihan menjadi pembelajaran, dan menjadikan empati sebagai budaya bersama.
Hari pertama sekolah sejatinya adalah hari pertama menanam benih karakter. Jika yang ditanam adalah penghormatan, persahabatan, dan kasih sayang, maka yang akan dipanen kelak adalah generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan sosial. Di situlah MPLS dan MATAMUDA menemukan makna sejatinya: bukan sekadar mengenalkan gedung sekolah, melainkan mengenalkan nilai kemanusiaan yang akan menemani peserta didik sepanjang perjalanan hidupnya.
*) Operator Madrasah MI Bahrul Ulum 1 Bulu Balen
Editor : Farhan Reza Ardiansyah