Oleh:
Muhammad Abadi
Penulis Lepas perantau dari Banyuwangi Kota, Jawa Timur
Di era digital hari ini dan akan datang betapa semua manusia berlomkba-lomba untuk merayakan teknologi digital dan pada akhirnya mereka semuanya tidak luput dari budaya pamer atau flexing culture di tengah dunia globalisasi tanpa batas itu. Semua manusia boleh pamer uang, harta, kekayaan atau jabatan, kedudukan, pangkat dan titel serta juga mobil dan rumah mewah. Tapi, yang pasti adalah Allah SWT sebagai Tuhan Maha Pencipta Alam Semesta diakui ataupun tidak pamer Waktu yang Abadi dan kematian manusia. Di sinilah letak perbedaan antara kecanggihan otak manusia versus Kemahakuasaan, Kemahabesaran dan Kemahaagungan Allah SWT. Meskipun kita hari ini dan akan datang merasa sombong punya segalanya, tapi hanyalah Allah SWT yang Maha Sombong!
Jika kita sangat mencintai duniawiyah secara berlebih-lebihan dan mempunyai penyakit wahan atau penyakit takut mati, maka mau tidak mau semua kita akan mengalami kematian karena cintanya kita kepada duniawiyah secara berlebih-lebihan. Jika semua manusia di dunia ini akan melawan kekuasaan, takdir dan kehendak Allah SWT, maka kita akan merasakan Waktu yang Abadi di dunia ini yang mana usia atau umur manusia tidak ada yang Abadi. Berapa pun umur atau usia semua manusia akan kalah oleh Sang Waktu yang Abadi! Di sinilah letak perbedaan antara kuasa Allah SWT versus kuasa manusia itu. Secanggih apapun otak manusia maka akan kalah oleh waktu yang tidak terbatas itu. Maka hidup di dunia di muka bumi ini tidaklah mudah ibarat mudahnya membalikkan telapak tangan kita.
Setiap hari semua manusia hidup dengan bekerja keras dan ataupun berkerja cerdas. Semuanya dipilih oleh masing-masing kita manusia. Bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bahkan untuk meraih kekayaan dan ketenaran. Waktu akan tetap berjalan dan abadi. Maka mau tidak mau semua manusia akan terus bergerak dan bergerak tanpa henti-hentinya setiap harinya. Yang kaya akan tetap ingin menjadi kaya dan yang miskin pun ingin menjadi kaya tidak mau miskin lagi. Itulah tabiat asli manusia. Semuanya akan habis oleh Sang Waktu yang Abadi. Buat apa kita pamer tentang uang, harta dan kekayaan ataupun kedudukan, jabatan, pangkat dan titel? Namanya Waktu akan Tetap Kekal Abadi selama-lamanya dan pada akhirnya kita semua akan mengalami kematian.
Baca Juga: Opini: Adaptasi Akal Imitasi
Karena tidak ada satu pun manusia di dunia di muka bumi ini yang bisa menghentikan berputarnya bumi dan Sang Waktu yang Abadi, kecuali hanya Allah SWT Tuhan Alam Semesta. Maka, mau tidak mau manusia yang hidup di dunia ini mengalami pasungan oleh waktu. Semua kita adalah fana dan sementara belaka. Secara fisik manusia itu terbatas, lemah dan akan menua. Hanyalah waktu yang akan tetap Abadi. Banyak konten di media sosial menbahas segala hdup dan kehidupan manusia di dunia di muka bumi ini yang setiap saat kita baca dan lihat. Semua konten itu sangat beragam tentang berbagai macam persoalan tentang hidup dan kehidupan manusia. Maka nasihat yang paling mahal adalah tentang persoalan Waktu tanpa batas dan kematian manusia.
Maka manfaatkanlah waktu yang Abadi itu sebaik-baiknya. Karena Allah SWT berfirman dalam Al-Quran yang artinya : “Demi waktu. Manusia itu merugi. Kecuali, orang-orang yang beriman dan beramal shalih serta saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan menetapi kesabaran” ( Surat Al- Ashr ). Maka, waktulah yang akan bicara dan batu-batu yaitu kita akan hidup dan beraktivitas di dunia di muka bumi ini. Kata tinggal kata, tulisan tinggal tulisan, apa maunya kita? Setiap manusia akan mengalami semua fase dalam hidupnya, dari lahir menjadi balita, menjadi anak-anak, menjadi remaja dan menjadi dewasa serta tua menua dan pada akhirnya akan kembali ke tanah. Semua fase itu memerlukan stamina yang tidak sedikit. Mereka semuanya sangat memerlukan stamina yang kuat dan tahan banting hingga hari tuanya dan mati meninggal dunia. Daya tahan tubuh fisik dan pikiran harus kuat sehari-hari. Maka, kita butuh makan dan minum setiap harinya.
Maka, jika kebutuhan makan dan minum sudah terjamin setiap harinya, maka kita harus bersyukur kepada Allah SWT. Tidak sedikit dari kita yang tidak bisa makan dan minum setiap harinya karena serba kekurangan secara ekonomi dan pekerjaan yang tidak layak. Maka, di era hidup dan kehidupan yang sangat keras ini kita sangat membutuhkan stamina dan tenaga yang sangat luar biasa kuatnya. Dan, tentu saja kita harus selalu tetap memohon bimbingan dari Allah SWT untuk tetap kuat dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia di muka bumi ini yang sudah tidak mudah lagi hari ini dan akan datang! Semoga! Allahu Alam Bish-Shawab! (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana