Oleh:
Ahmad Budianto
Dosen Institut Attanwir Bojonegoro
BEBERAPA hari terakhir jagat maya ramai dengan tagar #BoikotTrans7. Tayangan yang menyinggung kehidupan pesantren itu dianggap menampilkan relasi kiai–santri secara tidak proporsional, seolah pengabdian santri kepada kiai hanyalah bentuk ketundukan buta. Sebagai seseorang yang hidup dekat dengan dunia pesantren, saya merasa narasi ini perlu diluruskan.
Tradisi “mengabdi kepada kiai” bukanlah ekspresi feodalisme atau relasi kuasa yang menindas, melainkan bagian dari sistem pendidikan karakter yang khas dan kontekstual. Di pesantren, nilai-nilai seperti keikhlasan, tanggung jawab, disiplin, dan empati tidak ditanamkan lewat ceramah panjang, tetapi melalui praktik hidup sehari-hari. Santri belajar kesabaran ketika harus melayani; belajar rendah hati ketika membersihkan lingkungan; dan belajar tangguh ketika hidup sederhana jauh dari keluarga.
Budaya khidmah (pengabdian) dalam pesantren sejatinya adalah bentuk experiential learning — pembelajaran berbasis pengalaman nyata. Santri tidak hanya mendengarkan nilai, tetapi menghidupinya dalam tindakan. Teori ini sejalan dengan konsep social learning dari Albert Bandura yang menyebut bahwa perilaku moral terbentuk melalui proses meniru model sosial yang dihormati. Di pesantren, figur kiai menjadi model itu: panutan moral, guru kehidupan, dan sumber keteladanan yang nyata.
Penelitian Dwi Puspitarini dkk. (2023) di Pertanika Journal of Social Sciences and Humanities menunjukkan bahwa pendidikan karakter di pesantren berjalan efektif karena memadukan keteladanan, pembiasaan, dan integrasi nilai spiritual dalam aktivitas harian. Nilai tidak diajarkan secara verbal, tetapi dijelmakan dalam keseharian. Temuan serupa dikemukakan Karim dkk. (2025) dalam Social Sciences and Humanities Open, bahwa kepemimpinan spiritual kiai bukan hanya membentuk moralitas, tetapi juga menumbuhkan kemandirian dan semangat wirausaha di kalangan santri.
Dalam konteks itu, relasi kiai–santri bukan relasi kekuasaan, melainkan relasi pembelajaran yang menumbuhkan karakter. Thomas Lickona (1991) menyebut bahwa pendidikan karakter sejati melibatkan tiga unsur: moral knowing, moral feeling, dan moral action. Santri tidak hanya tahu mana yang baik, tetapi juga merasakan kebaikan itu dalam interaksi sehari-hari, dan akhirnya menjadikannya kebiasaan yang melekat.
Riset lain di Pesantren Al-Istiqomah Kebumen (2023) menemukan bahwa kedekatan santri dengan kiai membentuk solidaritas sosial dan tanggung jawab kolektif. Nilai-nilai itu lahir bukan dari doktrin, tetapi dari praktik keseharian yang sederhana: gotong royong, kerja sama, serta kesetiaan pada komunitas. Maka, khidmah bukan sekadar ritual lama yang perlu ditinggalkan, tetapi mekanisme sosial yang menumbuhkan resiliensi moral dan sosial di tengah zaman yang serba cepat dan individualistik.
Di era digital, banyak lembaga pendidikan modern berusaha menanamkan soft skills dan karakter melalui kurikulum formal. Pesantren telah melakukannya jauh sebelum istilah itu populer. Disiplin, tanggung jawab, kemampuan beradaptasi, kepemimpinan, dan kepedulian sosial — semua dilatih lewat ritme hidup pesantren. Dari bangun subuh, membersihkan lingkungan, mengaji, hingga mengatur jadwal belajar. Semua aktivitas itu adalah hidden curriculum yang membentuk santri menjadi manusia yang tahan banting dan berakar pada nilai.
Karena itu, viralnya #BoikotTrans7 seharusnya tidak hanya disikapi dengan emosi, tetapi dijadikan momentum refleksi. Publik luas perlu memahami bahwa dunia pesantren memiliki logika pendidikan yang khas: menanamkan karakter melalui keteladanan dan kedekatan, bukan sekadar lewat instruksi. Media pun perlu lebih sensitif ketika merepresentasikan tradisi lokal, agar tidak terjebak pada pandangan luar yang dangkal.
Sebaliknya, pesantren juga perlu membuka diri untuk menjelaskan makna dari praktik budaya mereka secara lebih komunikatif. Di era media sosial, transparansi makna menjadi penting agar publik tidak mudah salah tafsir. Pengabdian kepada kiai harus dijelaskan bukan sebagai ketaatan buta, melainkan sebagai latihan spiritual dan moral untuk mengasah keikhlasan, disiplin, dan kesetiaan pada nilai.
Karakter santri yang kuat bukan lahir dari ruang kelas atau modul formal, melainkan dari interaksi hidup yang penuh makna. Ia belajar menahan diri, menghormati perbedaan, menunda keinginan pribadi demi tanggung jawab kolektif. Dalam dunia yang kini mudah lelah dan kehilangan arah, pendidikan seperti itu adalah kekayaan moral yang tidak bisa diremehkan.
Ketika banyak institusi pendidikan modern berfokus pada capaian akademik, pesantren justru menanamkan fondasi karakter. Dan mungkin, di situlah mengapa pesantren tetap relevan: karena ia tidak hanya mengajarkan apa yang harus dipelajari, tapi juga bagaimana menjadi manusia yang berkarakter dalam menjalani hidup. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana