Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Opini: Ancaman Gunungan Sampah Makanan Bergizi

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 28 September 2025 | 16:00 WIB
Siswa SMP di Blora menerima makan bergizi gratis. Blora mendapatkan dua dapur MBG tambahan
Siswa SMP di Blora menerima makan bergizi gratis. Blora mendapatkan dua dapur MBG tambahan

 

Oleh:
ROY BURHANUDDIN

 

DATA Pemkab Bojonegoro menyebutkan timbunan sampah  di  Kabupaten  Bojonegoro  pada tahun  2024 mencapai  134.329,37  ton.  

Hanya  34,24 persen sampah  yang  terkelola, 15,43 persen telah ditangani, dan sisanya 65,76 persen tidak terkelola. Angka lebih dari setengah sampah tak tertangani jelas bukan kabar baik.

Sampah jarang jadi berita utama, tetapi diam-diam merusak ekosistem, kesehatan publik, bahkan keberlanjutan pembangunan.

Jenis sampah memang cukup beragam, sampah organik seperti sisa makanan, daun, atau kulit buah yang bisa terurai. Ada pula sampah anorganik seperti plastik, logam, atau kaca yang sulit diurai secara alami.

Bahkan, ada kategori sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang jika Hdak ditangani dengan tepat dapat mencemari tanah dan air dalam jangka panjang.

Kini, tahun 2025, pemerintah meluncurkan program ambisius berupa Makan Bergizi Gratis (MBG). Tujuannya mulia, memperbaiki gizi anak bangsa sekaligus menggeliatkan ekonomi masyarakat. Namun, seperti visi besar lain, program ini nampaknya akan menghadapi jalan terjal dan berlumpur.

Menurut data Badan Gizi Nasional (BGN), sudah ada 78 Satuan Pelayan Pemenuhan Gizi (SPPG). Setiap dapur memproduksi sekitar 2.000–3.000 porsi makanan bergizi per hari, kecuali hari libur. Di balik keberkahan menu sehat yang tersaji, timbunan sampah baru pun tak terelakkan mulai dari sisa makanan, plastik kemasan, hingga limbah dapur lainnya.

Sampah dari dapur MBG cukup beragam. Ada sampah organik seperti sisa sayuran, kulit buah, dedaunan, hingga kulit telur. Lalu ada sampah anorganik berupa plastik kemasan.

Bahkan, meski dapur MBG tampak sederhana, ia juga berpotensi menghasilkan sampah B-3 seperti minyak jelantah dan limbah bahan kimia pembersih. Semua ini jelas membutuhkan penanganan khusus dan serius.

Hitungan  kasarnya,  satu  dapur  MBG di  Bojonegoro  per hari memproduksi sekitar 2.000–3.000 porsi makanan. Dari kegiatan ini, potensi sampah yang muncul cukup beragam. Sampah organik diperkirakan mencapai 50–150 kg per hari, berupa sisa nasi, sayuran, dan lauk.

Sampah anorganik berkisar 20–60 kg per hari, seperti plastik kemasan,  botol  minuman,  atau styrofoam.  Sementara  itu,  sampah  kategori B3  (Bahan Berbahaya dan Beracun) sekitar 3–7 kg per hari, meliputi minyak jelantah, deterjen, dan desinfektan.

Dengan demikian, satu dapur MBG rata-rata menghasilkan 73–217 kg sampah setiap hari. Jika dikalikan dengan 78 dapur yang sudah aktif, totalnya bisa melonjak menjadi 5,6–16,9 ton per hari hanya di Bojonegoro.

Program MBG memang membawa manfaat besar memperbaiki gizi dan menggerakkan ekonomi lokal. Tapi sekali lagi, Prof. Sudharto mengingatkan, sampah sering terpinggirkan dari prioritas kebijakan. Pembangunan ekonomi berjalan cepat, sementara sampah diam-diam menumpuk tanpa solusi mendasar.

Tak berlebihan jika kita khawatir, dapur-dapur MBG justru melahirkan “gunung sampah” baru di Bojonegoro. Di sinilah mitigasi diperlukan. Elinor Ostrom peraih Nobel Ekonomi, menegaskan bahwa masalah lingkungan tak bisa diselesaikan satu aktor saja. Diperlukan polycentric governance kolaborasi lintas level: pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Maka, izinkan saya menawarkan beberapa menu pikiran untuk sahabat seperkopian.

Pertama, pemerintah daerah harus memiliki proyeksi data yang valid terkait timbunan sampah dari dapur MBG. Data ini penting sebagai dasar kebijakan. Pemerintah juga perlu menyediakan fasilitas pengolahan sampah dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

Kedua, pengelola dapur MBG mesti bertanggung jawab. Sisa makanan harus dipilah: organik diolah jadi kompos atau pakan, anorganik masuk daur ulang.

Contoh baik bisa dilihat di Desa Ngumpakdalem dengan kelompok POKDAMIRA yang berhasil mengubah sampah organik dan anorganik menjadi kompos serta sampah yang bernilai jual. Jika pola ini ditiru, dapur MBG Tidak hanya memberi makan, tetapi juga melahirkan ekonomi sirkular.

Ketiga, sektor swasta tidak boleh hanya jadi penonton atau sekadar sering menjadi supporter pendukung program pemerintah daerah. Mereka bisa berinvestasi pada teknologi modern waste to energy, biodigester, mesin daur ulang plastik, hingga komposter otomatis. Sehingga, sampah tak lagi sekadar ditimbun, tetapi diubah menjadi energi, kompos, atau bahan baku baru.

Keempat, partisipasi masyarakat sangat penting. Tak hanya soal memilah sampah, tapi juga memantau jalannya program. Sherry Arnstein sudah lama mengingatkan bahwa parHsipasi sejaH adalah ketika warga diberi ruang untuk mengawasi, mengevaluasi, dan memengaruhi kebijakan  publik.  Dengan  keterlibatan  aktif masyarakat,  pengelolaan  sampah  akan  lebih transparan, masif, sekaligus berkelanjutan.

Pada akhirnya, sampah bukan hanya soal tumpukan di jalan atau TPA. Ia adalah cermin dari cara kita mengelola hidup dan masa depan. Bojonegoro mungkin sedang berlari mengejar vis besar lewat dapur bergizi. Tapi, jangan lupa, tanpa mitigasi sampah yang terencana, visi itu bisa berubah jadi ironi. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Sampah #Ekosistem #pemkab bojonegoro #kesehatan #sisa makanan #BGN #Makan Bergizi Gratis #SPPG #bojonegoro #bahan berbahaya #menu sehat #Mbg #Makanan #program mbg