Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Opini: Viral Baru Ingat Sehat

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 14 September 2025 | 22:00 WIB
Ilustrasi kesehatan.
Ilustrasi kesehatan.

 

Oleh:
Prima Trisna Aji
Dosen prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang

 

FENOMENA kesehatan di Indonesia kerap kali baru menjadi perhatian serius setelah muncul peristiwa yang viral. Baru-baru ini, kasus “Raya” yang ramai diperbincangkan publik mendadak menggiring masyarakat untuk berbondong-bondong membeli obat cacing. Dampaknya, stok di pasaran menjadi menipis, harga melambung, dan sejumlah apotek melaporkan kesulitan memenuhi permintaan. Fenomena ini bukan sekadar soal kelangkaan obat saja, melainkan potret rapuhnya sistem kesehatan publik kita yang lebih reaktif ketimbang preventif.

Kesadaran masyarakat terhadap penyakit cacingan sebenarnya sudah lama menjadi perhatian para ahli Kesehatan di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) mencatat bahwa prevalensi infeksi cacing pada anak usia sekolah di beberapa daerah masih cukup tinggi, mencapai 20 - 30 persen. Namun, selama bertahun-tahun isu ini cenderung tenggelam, kalah oleh topik kesehatan lain yang dianggap lebih “trending” serta menjual media massa.

Ironisnya, setelah kisah seorang anak yang viral di media sosial, kesadaran itu justru melonjak tajam. Obat cacing yang sebelumnya mudah didapat tiba-tiba menjadi barang yang cukup langka. Apakah kesadaran kesehatan masyarakat harus selalu dipicu oleh rasa takut yang ditimbulkan oleh sebuah cerita viral? Pertanyaan ini sangatlah penting, karena kesehatan publik seharusnya dibangun atas dasar edukasi berkelanjutan, bukan ketergantungan pada media sosial semata.

Fenomena kelangkaan obat cacing bukan sekadar cerita. Beberapa daerah melaporkan stok yang menipis bahkan habis dalam waktu singkat. Di Kota Palu sendiri sejumlah apotek mengaku tidak lagi mendapat pasokan albendazole dari distributor akibat lonjakan permintaan yang cukup tajam. Di kota Bandung, kelangkaan hampir merata di seluruh apotek, ditambah kenaikan harga yang cukup mencolok tajam seperti Combantrin tablet yang biasanya Rp20 - 23 ribu melonjak menjadi Rp23 - 25 ribu, sementara sirup bahkan mencapai Rp30 ribu per 10 ml. Situasi serupa terjadi di kota Padang, di mana obat cacing anak benar-benar kosong di rak apotek. Di kota Surabaya juga mengalami lonjakan pembelian yang membuat stok cepat habis, sedangkan di kota Cilacap permintaan meningkat sejak awal bulan sehingga ketersediaan obat terus menipis.

Ada gejala yang menarik dari fenomena ini, dimana masyarakat Indonesia cenderung mencari solusi instan. Begitu muncul kabar bahwa obat cacing dapat “menyelamatkan”, permintaan melonjak cukup tajam. Namun, konsumsi obat bukanlah jawaban tunggal untuk masalah kesehatan masyarakat. Dalam kasus cacingan, penyebab utama justru adalah sanitasi lingkungan, kebersihan diri, serta pola hidup sehat yang masih jauh dari kata ideal.

Membeli obat dalam jumlah besar tanpa edukasi justru sangat berisiko. Pemakaian obat yang tidak tepat dosis bisa menimbulkan resistensi atau efek samping. Fenomena ini mengingatkan pada panic buying vitamin C dan suplemen pada awal pandemi Covid-19, ketika orang berebut produk kesehatan tanpa pemahaman yang memadai tentang Obat.

Indonesia pernah menghadapi pola serupa pada kasus-kasus sebelumnya. Saat pandemi Covid-19, kita menyaksikan masyarakat berebut masker, hand sanitizer, hingga ivermectin. Pada akhirnya, banyak dari produk tersebut tidak terbukti efektif atau digunakan secara berlebihan. Fenomena kelangkaan obat cacing ini seakan mengulang pola lama: krisis kecil menjadi besar karena kepanikan publik yang tidak diimbangi edukasi yang baik.

Untuk menghindari berulangnya krisis serupa, pemerintah perlu memperkuat manajemen stok obat esensial dengan menyiapkan cadangan yang bisa segera didistribusikan ketika permintaan melonjak. Langkah ini harus disertai dengan mekanisme redistribusi cepat antar apotek sehingga ketersediaan obat tetap terjaga di tingkat masyarakat.

Pengawasan harga juga tidak kalah penting agar situasi kelangkaan tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengambil keuntungan berlebih. Pembatasan jumlah pembelian per keluarga bisa menjadi langkah sementara untuk mencegah panic buying. Selain itu, pemerintah dapat segera membuka akses obat dengan kandungan sejenis, seperti mebendazole, sehingga kebutuhan masyarakat tetap bisa terpenuhi tanpa harus menunggu satu merek tertentu tersedia kembali.

Aspek edukasi publik menjadi kunci utama. Pesan kesehatan harus menekankan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, sanitasi lingkungan, serta konsumsi obat sesuai indikasi medis, bukan hanya karena dorongan rasa takut. Kampanye yang konsisten di sekolah, puskesmas, dan media massa akan lebih efektif daripada menunggu isu viral menggiring masyarakat ke apotek.

Data dari Palu, Bandung, Padang, Surabaya, hingga Cilacap memperlihatkan pola yang sama: permintaan melonjak, stok distributor tersendat, harga eceran terdorong naik. Artinya, masalah bukan pada publik yang panik semata, melainkan pada arsitektur pasok yang belum siap menghadapi gelombang viral.

Kesehatan merupakan hak semua warga negara Indonesia, bukan barang mewah yang hanya bisa diperoleh saat trend naik. Kita membutuhkan sistem yang lebih matang: masyarakat yang sadar kesehatan karena edukasi, pemerintah yang tanggap dengan distribusi obat, dan media yang berperan sebagai kanal edukasi, bukan sekadar penyampai sensasi. Sehat seharusnya dimulai dari kesadaran, bukan dari ketakutan. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#suplemen #infeksi cacing #cerita viral #harga obat #obat cacingan #indonesia #cacingan #kesehatan #Obat #pandemi #anak #Edukasi #harga #fenomena #Sekolah #viral #panic buying #apotek