Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Bandara Ngloram: Dari Mimpi Besar Menjadi “Monumen Sunyi, Akankah Cepu Raya dan Padangan Kota Baru Menghidupkannya?

Bachtiar Febrianto • Jumat, 15 Agustus 2025 | 17:21 WIB
BELUM ADA AKTIVITAS: Kondisi Bandara Ngloram saat masih ada penerbangan komersil oleh maskapai Citilink.
BELUM ADA AKTIVITAS: Kondisi Bandara Ngloram saat masih ada penerbangan komersil oleh maskapai Citilink.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Tiga tahun lalu, publik Blora dan sekitarnya menyambut gegap gempita. Presiden Joko Widodo meresmikan Bandara Ngloram di Cepu pada 17 Desember 2021, sebuah proyek yang diharapkan menjadi pintu gerbang udara kawasan Blora dan Bojonegoro.

Anggaran Rp 132 miliar sudah dicurahkan, landasan pacu sepanjang 1.500 meter dibangun, terminal modern berdiri, dan papan nama megah menyambut siapa saja yang datang. Namun kini, bandara itu lebih sering menyambut angin dan debu.

Tidak Ada Penerbangan Berjadwal

Maskapai Citilink dan Wings Air memang sempat mencoba peruntungan. Rute Jakarta–Cepu dibuka, tiket dijual, promosi gencar dilakukan. Tapi, kursi penumpang tak pernah terisi penuh.

Beberapa kali penerbangan dibatalkan, hingga akhirnya seluruh jadwal menghilang. Satu-satunya momen ramai hanya saat keberangkatan jamaah umrah pada 2023. Setelah itu, Bandara Ngloram resmi kembali ke titik nol: Tak ada penerbangan berjadwal sejak Juni 2025.

Ironisnya, biaya perawatan tetap mengalir. Dari gaji pegawai, perawatan landasan, hingga listrik terminal. Semuanya menguras APBN dan APBD, tanpa satu pun pesawat komersial yang mendarat rutin.

Alasan Migas Tak Jadi Penopang

Salah satu alasan pembangunan Bandara Ngloram adalah memfasilitasi aktivitas industri minyak dan gas di Blora dan Bojonegoro, yang merupakan bagian dari sentra migas nasional. Tapi nyatanya, pekerja dan eksekutif migas tidak memanfaatkan bandara ini secara signifikan. Banyak dari mereka tetap memilih jalur darat menuju Surabaya atau Semarang yang memiliki jadwal penerbangan lebih pasti.

Sehingga tidaklah salah bila mulai ada yang mempertanyakan: Apakah kajian kelayakan pembangunan dulu terlalu optimistis? Atau justru ada salah strategi sejak awal?

Masalah Klasik: Runway dan Daya Tarik

Kendala teknis ikut membebani. Landasan pacu sepanjang 1.500 meter hanya mampu melayani pesawat ATR-72 atau sekelasnya. Pesawat jet berbadan lebar, seperti Boeing 737, tak bisa mendarat. Padahal, jenis pesawat besar inilah yang sering digunakan untuk rute jarak menengah hingga jauh dengan kapasitas penumpang yang menguntungkan maskapai.

Dari sisi pasar, Blora belum memiliki magnet wisata atau pusat ekonomi yang mampu menarik arus penumpang signifikan. Wisata budaya Samin, kuliner sate Blora, dan edukasi sumur minyak tua memang unik, tapi belum dikemas menjadi destinasi besar berskala nasional.

Harapan Baru: Kawasan Ekonomi Khusus Cepu Raya

Di tengah kelesuan ini, muncul harapan baru. Menko PMK, Pratikno, bersama Pemkab Blora dan Bojonegoro menggagas pembentukan ‘’Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Cepu Raya’’ dan “Padangan Kota Baru”. Dua kawasan yang saling berdekatan. Yaitu Kota Cepu di Blora dan Kota Padangan di Bojonegoro.

Konsepnya sederhana namun ambisius: menjadikan Cepu sebagai pusat ekonomi lintas daerah, memadukan industri migas, pendidikan energi (PEM Akamigas), serta sektor perdagangan dan jasa modern. Dan didukung oleh konsep Padangan Kota Baru sebagai pusat niaga, pendidikan, kesehatan, serta ruang terbuka hijau, menggabungkan modernisasi dengan pelestarian heritage. 

Harapan itu tidak salah. Sebab, Cepu merupakan kota pusat perdagangan sejak era kolonial Belanda. Sehingga penataannya, Blora sebagai ibu kota pemerintahan, Cepu ibu kota ekonomi. Hal ini menegaskan bahwa wilayah ini punya potensi besar, hanya saja tertidur terlalu lama.

Jika KEK ini benar-benar terealisasi, maka arus investor, pekerja, dan wisatawan bisnis diyakini akan meningkat. Dalam skenario ideal, mereka membutuhkan akses cepat — dan Bandara Ngloram menjadi pilihan logis.

Namun, ada syarat mutlak jika Bandara Ngloram ingin kembali beroperasi:

  1. Penyesuaian Runway — Memperpanjang landasan pacu agar bisa menampung pesawat jet berkapasitas besar.
  2. Integrasi Moda Transportasi — Menghubungkan bandara dengan stasiun KA Cepu, terminal bus, dan jalur tol.
  3. Paket Wisata dan Bisnis — Mengembangkan promosi terpadu yang menggabungkan potensi migas, heritage, dan kuliner.
  4. Subsidi Rute Awal — Pemerintah daerah dan pusat perlu memberikan insentif atau subsidi kursi agar maskapai mau membuka rute kembali.

Tanpa langkah konkret, KEK Cepu Raya sekalipun tak akan mampu menghidupkan Bandara Ngloram.

Antara Kebanggaan dan Beban

Saat ini, Bandara Ngloram adalah monumen kebanggaan yang berubah menjadi beban. Masyarakat ingin melihatnya hidup, bukan hanya menjadi latar foto peresmian presiden.

Cepu Raya bisa menjadi babak baru yang mengubahnya menjadi jantung transportasi udara kawasan perbatasan Jateng–Jatim. Tapi waktu terus berjalan, dan publik semakin lelah dengan wacana tanpa eksekusi.

Jika momentum ini lewat, Bandara Ngloram akan benar-benar terkubur sebagai catatan sejarah dan contoh nyata, bagaimana mimpi besar bisa berakhir sebagai bangunan kosong.(feb)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Jawa Timur #bandara #bandara ngloram #Jawa Tengah #Transportasi #cepu #Ekonomi #Cepu Raya #KEK #Monumen #blora #ngloram #runway