Oleh:
CHOIRUL ANAM
Ketua PAC Ansor Balen
SETIAP Idul Adha datang, aroma sate kambing dan gulai sapi seperti jadi soundtrack tahunan yang menggugah selera sekaligus kesadaran. Di balik gempita itu, ada satu pertanyaan mendasar yang sering terlewat: Sebenarnya, berkurban itu ibadah pribadi atau ibadah sosial?
Mari kita buka ceritanya dari sebuah masjid kecil di pinggiran kota. Seorang bapak paruh baya, Pak Darno, setiap tahun rajin berkurban seekor kambing. Beliau tidak pernah absen. Bahkan saat pandemi melanda dan penghasilannya sebagai tukang becak menurun drastis, ia tetap menyisihkan uang demi seekor kambing kurban. Saat ditanya mengapa tetap berkurban, ia menjawab dengan sederhana, “Ya ini kan buat Allah. Biar saya bisa lebih dekat sama-Nya.”
Dari Pak Darno, kita belajar sisi privat dari ibadah kurban. Ini adalah bentuk taqarrub ilallah, pendekatan diri kepada Allah. Ia menjadi ekspresi ketakwaan, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Hajj [22]:37, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya...”
Namun, cerita tidak berhenti di situ.
Daging kurban Pak Darno tidak ia bawa pulang semua. Sebagian besar dibagikan ke tetangga sekitar, termasuk ke Bu Sarmi, janda tua yang hidup sendiri dengan warung kecil seadanya. Setiap tahun, Bu Sarmi mendapat bagian daging dari kurban Pak Darno. Dan setiap tahun, ia menyunggingkan senyum penuh haru. “Jarang-jarang bisa makan daging, Mas. Alhamdulillah.”
Nah, dari Bu Sarmi, kita melihat sisi sosial dari ibadah kurban. Ia hadir sebagai manifestasi solidaritas dan keadilan sosial. Daging kurban bukan hanya simbol pengorbanan, tetapi juga alat distribusi kesejahteraan.
Baca Juga: Meningkatkan Kualitas Demokrasi Indonesia: Agenda Pembangunan yang Holistik
Dimensi Ganda dalam Kurban
Di sinilah menariknya ibadah kurban. Ia adalah ibadah dengan dua wajah: satu menengadah ke langit, satu lagi menapak ke bumi. Wajah pertama mengarah ke dimensi spiritual, sebagai bentuk ketaatan kepada perintah Allah, yang diteladankan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Wajah kedua mengarah ke aspek sosial, sebagai sarana berbagi kepada sesama, terutama kaum dhuafa yang sering terpinggirkan dari akses pangan berkualitas.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Fazlur Rahman, seorang cendekiawan Muslim modern dari Pakistan, yang menekankan pentingnya dimensi sosial dalam ajaran Islam. Dalam karyanya, ia sering menekankan bahwa ibadah bukan hanya ritual, tapi juga memiliki makna etis dan sosial yang mendalam. Dalam konteks kurban, artinya bukan sekadar menyembelih hewan, tapi juga menghidupkan semangat berbagi dan keadilan.
Kritik terhadap Kurban yang Sekadar Simbolik
Namun, tidak bisa dimungkiri bahwa ibadah kurban hari ini kerap terjebak dalam simbolisme kosong. Kita menyaksikan orang berebut pamer di media sosial, mem-posting sapi limousin seharga puluhan juta dengan caption religius. Tapi, distribusi dagingnya? Bisa jadi tidak merata, bahkan terkesan asal-asalan.
Ada pula yang menjadikan kurban sebagai ajang prestise sosial. Semakin besar hewannya, semakin naik pamor di masyarakat. Ironisnya, di desa atau kampung, yang menyumbang sapi malah yang dari kota; sementara masyarakat sekitar justru menjadi penonton.
Pertanyaannya: apakah semangat kurban yang diajarkan Nabi Ibrahim hanya soal besar-besaran dan gengsi?
Jawabannya tentu tidak. Kurban bukan ajang adu kemewahan, melainkan pengingat akan pengorbanan. Ia mengajarkan bahwa yang utama bukan daging atau darah, tapi ketundukan kepada Allah dan empati kepada sesama.
Menghidupkan Kembali Ruh Sosial Kurban
Sudah saatnya kita menghidupkan kembali ruh sosial kurban. Tidak cukup hanya dengan menyembelih dan membagikan daging, tapi juga menata sistem distribusinya agar lebih adil. Lembaga-lembaga zakat, masjid, dan panitia kurban bisa mengadopsi prinsip distributive justice—keadilan distribusi, agar kurban benar-benar sampai ke yang berhak dan membutuhkan.
Beberapa inovasi sudah mulai dilakukan. Ada program “kurban untuk daerah rawan gizi”, “kurban untuk pelosok”, hingga “kurban untuk korban bencana”. Ini adalah bentuk reorientasi dari ibadah yang sebelumnya bersifat lokal dan seremonial, menjadi lebih luas dan fungsional. Kurban tidak lagi sekadar ritual tahunan, tapi menjadi alat perubahan sosial.
Kurban sebagai Momentum Edukasi
Di samping itu, kurban juga bisa menjadi momen edukatif bagi keluarga. Mengajak anakanak menyaksikan prosesi kurban, menjelaskan maknanya, dan mengajak mereka ikut membagikan daging bisa menjadi pelajaran hidup yang membekas. Mereka belajar tentang empati, pengorbanan, dan pentingnya berbagi.
Baca Juga: Opini: Ulan Besar; Akeh Buwuhan Akeh Keluhan
Bayangkan, jika setiap keluarga yang berkurban menyertakan anak-anaknya dalam proses ini, maka generasi mendatang tidak hanya paham cara menyembelih, tapi juga tahu mengapa mereka harus menyembelih. Dan yang lebih penting: untuk siapa daging itu diberikan.
Akhirnya, Kembali ke Diri Sendiri
Pada akhirnya, berkurban memang ibadah pribadi. Tapi dampaknya harus bersifat sosial. Ia bukan urusan antara “aku dan Tuhanku” semata, tapi juga tentang “aku dan masyarakatku”. Seperti shalat yang mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka kurban pun harus mencegah dari sikap egois dan eksklusif. Berkurban adalah tentang menyembelih ego, bukan cuma kambing. Tentang membagi rasa, bukan hanya daging. Dan tentang menjadi manusia yang tak hanya taat kepada Allah, tapi juga peka terhadap sesama. Seperti Pak Darno, yang kurbannya tak hanya membuatnya dekat dengan Tuhan, tapi juga membuat Bu Sarmi tersenyum.
Bukankah itu bentuk ibadah yang paling utuh? (*)