Oleh:
Dicky Andriyanto
PERANG dagang antara China dan Amerika semakin kompetitif dengan berbalas kenaikan tarif. Amerika memukul China dengan tarif yang bisa dikatakan tidak wajar karena pajak sebesar 245 persen sudah sangat tinggi untuk pengenaan pajak impor bagi suatu negara.
Kontan, Trump memperoleh sejumlah protes dari pengusaha Amerika yang masih membutuhkan barang impor terutama dari China seperti bahan semikonduktor untuk kegiatan industri.
Pada akhirnya Amerika melunak pada China yang secara khusus menurunkan tarif barang elektonik untuk menjaga industri dalam negeri, sedangkan China mulai berhenti impor suku cadang pesawat boeing dari Amerika.
Sematan negara adi daya nampaknya sangat cocok disandang China kali ini karena dominasi Amerika nyatanya tidak membuatnya gentar dan terus memberikan perlawanan.
Justru saat ini China telah melakukan kongsi dengan beberapa negara yang tergabung dalam BRICS menunjukkan semakin kuat pengaruh China untuk memperlebar bisnis di kancah dunia.
Menjadi pertanyaan adalah bagaimana China bisa sangat percaya diri memberikan perlawanan kepada Amerika?.
Faktor kesigapan, China untuk mempersiapkan SDM, kebijakan efisiensi yang telah lama diimplementasi, dan memperbaiki tata kelola negara.
Terkait SDM, China dikenal unggul karena didukung sistem pendidikan yang baik, bahkan sejak di level dasar lebih menekankan aspek motorik, sehingga secara langsung mengasah ketrampilan.
Maka tidak mengherankan SDM mereka lebih kreatif dan gesit ketika dihadapkan pada suatu pekerjaan. Secara bersamaan pengembangan teknologi dilakukan secara serius dan mulai berhenti bergantung kepada negara barat.
Alhasil, pengembangan AI China yang dikenal Deepseek mulai menggeser dominasi ChatGPT buatan Amerika. Lebih menakjubkan bahwa Deepseek menghabiskan $US 6 juta atau 10 kali lebih hemat dibanding ChatGPT. Ditambah teknologi berbasis 10G yang baru dipublikasikan semakin memperkuat dominasinya di dunia pada aspek teknologi.
Sekali lagi, China membuktikan bahwa mereka memiliki modal penting berupa SDM unggul yang mampu mengembangkan teknologi berkualitas secara efisien dan murah di pasaran.
Hal inilah yang menyebabkan Trump melunakkan pajak impornya kepada China dikhususkan pada produk semikonduktor atau bahan baku elektronik lainnya karena industri di Amerika lebih banyak mengimpor bahan baku dari China.
Dari sisi tata kelola negara, China sangat serius membenahi manajemen pemerintahannya. Salah satu contoh adalah hukuman mati koruptor, pembatasan partisipasi mantan koruptor dalam pemerintahan, penyitaan aset, dan budaya malu dari rakyat China untuk korupsi.
Hasil positif diperoleh China yang mewujudkan pemerintahan bersih dari peringkat Indeks Persepsi Korupsi mengalami peningkatan di peringkat 76 dari 180 negara pada tahun 2024.
Kemudian faktor kesalahan Trump memainkan strategi untuk mewujudkan “The Great America” melalui pajak impor adalah kesalahan besar. Trump cenderung memproteksi produknya dari barang impor karena meyakini bila cara tersebut mampu meningkatkan pendapatan negara dan keunggulan kompetitif produknya, sehingga menaikkan tarif impor adalah solusinya.
Namun, dia lupa memikirkan bagaimana industri Amerika yang masih bergantung bahan baku kepada negara lain, sehingga menyebabkan efek domino seperti keterbatasan bahan baku berdampak terhadap langkanya barang dipasaran sampai dengan timbul resesi di kemudian hari.
Pemerintah Indonesia perlu mencermati dan memilah kembali permintaan Amerika yang terkesan merugikan. Disamping itu, Indonesia perlu bertransformasi dan mencari kawan baru di kancah perdagangan internasional.
Transformasi di sini memiliki arti penting untuk menata lagi Indonesia menjadi lebih baik sebagaimana yang telah dilakukan oleh China. Meliputi supremasi hukum harus diatur secara tegas. Alotnya pengesahan UU Perampasan Aset menjadi bukti mundurnya mental dan hukum di Indonesia. Wacana pengaktifan hukuman mati bagi koruptor tampaknya berakhir sama dengan UU Perampasan Aset yang tak jelas ujungnya.
Peniadaan remisi koruptor seharusnya diterapkan juga supaya efek jera untuk korupsi benar-benar maksimal.
Kemudian kebijakan efisiensi dan pemanfaatannya harus ditujukan untuk kegiatan yang lebih produktif, sehingga rantai pasok menjadi lebih efektif.
Contohnya, pembangunan ruas tol yang masih terpusat di Pulau Jawa bisa dikembangkan di pulau lain. Efisiensi tidak hanya menyangkut infrastruktur, melainkan penyederhanaan kelembagaan dan administrasi yang ramping dapat mempercepat pelayanan publik.
Hal inilah yang sering dikeluhkan oleh investor karena mendirikan bisnis di Indonesia rumit dan membutuhkan banyak biaya, sehingga tidak mengherankan mereka pindah ke Vietnam yang dikenal sangat mudah membangun bisnis, bahkan pemerintah turun tangan langsung menyediakan tenaga kerja dan lahan.
Penyesuaian kurikulum pendidikan yang tidak hanya berfokus kepada aspek kognitif saja, namun juga perlu mengedepankan aspek motorik seperti pendidikan di China yang mencetak SDM unggul secara intelektual dan tangkas/terampil.
Belajar dari China bukan berarti condong ke salah satu pihak dan tidak ada salahnya Indonesia belajar darinya. Visi Presiden Prabowo mewujudkan Indonesia sebagai negara mandiri dapat mencontoh China saat ini yang perlahan-lahan menunjukkan eksistensinya dan menggeser dominasi Amerika. China dengan percaya diri melawan Amerika karena telah mempersiapkan segalanya termasuk membentuk birokrasi bersih dari KKN yang saat ini masih menjadi penyakit utama Indonesia. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana