Oleh:
Ali Efendi
Kepala SMPM-14 PP Karangasem Paciran dan Penulis Buku: “Cahaya Ramadan di Pantura” 2025
RAMADAN merupakan bulan suci yang ditunggu-tunggu umat Islam di seluruh penjuru dunia, kehadirannya senantiasa disambut dengan gembira dan suka cita. Karena di dalam bulan Ramadan terdapat perintah wajib menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh sebagaimana dalam Alquran QS. Al Baqarah: 183. Pada bulan Ramadan terdapat banyak keistimewaan, di antaranya bulan penuh rahmat, barakah, ampunan, seluruh amalan baik akan dilipatgandakan, dan setan-setan dibelenggu. Selain itu, terdapat peristiwa Nuzulul Qur’an atau Alqur’an diturunkan dan peristiwa Lailatul Qodar malam yang ditunggu-tunggu umat Islam.
Semarak menyambut bulan Ramadan tidak hanya berlaku bagi umat Islam berusia dewasa (baligh), tetapi anak-anak juga tidak ketinggalan turut serta meramaikan syiar Ramadan. Walaupun secara syariat, anak-anak belum berkewajiban menjalankan ibadah puasa tetapi di Indonesia anak-anak berpuasa telah menjadi tradisi. Dasar pijakan orangtua membiarkan anak-anak berpuasa sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya: “Perintahkan anak ketika ia sudah menginjak usia tujuh tahun untuk shalat. Jika ia sudah menginjak usia sepuluh tahun, maka pukullah ia (jika enggan salat)” (HR. Ahmad dan Abu Daud). Hadits ini berkaitan dengan salat, tetapi dapat dianalogikan dan diterapkan orangtua memerintahkan bagi anak-anaknya belajar berpuasa.
Tradisi anak-anak berpuasa di Indonesia menurut perspektif pendidikan merupakan sarana untuk belajar dan latihan menahan lapar dan dahaga, serta menanamkan rasa kepedulian sosial terhadap sesama. Termasuk anak-anak pesisir di daerah pantai utara (pantura) Lamongan dalam perpartisipasi mensyiarkan Ramadan menjadi kajian yang unik dan menarik.
Level Puasa Anak Pantura Berdasarkan Tradisi
Potret kebiasaan anak-anak menjalankan puasa telah tertanam dengan baik sejak dahulu sebagaimana terlihat di komunitas pantura Lamongan, tepatnya di Desa Paciran. Setiap saat Ramadan tiba, anak-anak usia sekolah dasar menyambut kedatangannya dengan riang gembira. Anak-anak pantura menjalankan puasa sesuai dengan keinginannya sendiri atau tanpa diperintah orangtunya. Mereka tidak hanya berpuasa, tetapi berpartisipasi dalam memeriahkan kegiatan Ramadan secara istiqamah selama sebulan.
Anak-anak pantura mengikuti kegiatan yang diselenggarakan masjid dan musalla dengan semangat bersama orangtua atau dengan teman-temannya. Tidak lupa aktivitasnya tercatat dengan rapi dan lengkap dengan tanda tangan imam atau penceramah dalam buku jurnal kegiatan harian sebagai tugas dari sekolah atau madrasah. Berdasarkan tradisi di pantura Lamongan, potret anak-anak berpuasa terbagi menjadi dua level, yaitu; poso bedhug dan poso maghrib.
Pertama, poso bedhug (puasa dhuhur). Tradisi puasa yang dijalankan anak-anak usia Sekolah Dasar (SD/MI) kelas I – II atau anak usia 7 – 8 tahun. Biasanya anak-anak menjalankan puasa sampai waktu dhuhur, ketika mendengar suara adzan dhuhur anak-anak sudah dibolehkan untuk membatalkan puasa. Istilah bedhug mengacu pada tradisi di Jawa, saat masuk waktu dhuhur biasanya bedhug yang berada di maasjid atau musalla ditabuh berulang-ulang sebelum melakukan adzan dhuhur. Maka di kalangan masyarakat Jawa berkembang ungkapan “wes bedhug” (sudah dhuhur). Maknanya sudah masuk waktu dhuhur dan anak-anak disilahkan oleh orangtuanya untuk berbuka.
Kedua, puasa maghrib (puasa maghrib). Tradisi puasa yang dijalankan anak-anak usia Sekolah Dasar (SD/MI) kelas III – VI atau anak usia 9 – 12 tahun. Mayoritas anak-anak menjalankan puasa sampai waktu maghrib selama sebulan penuh sebagaimana orang dewasa atau orangtuanya menjalankan puasa. Walaupun menjalankan puasa seperti orang dewasa, tetapi kebiasaan dan perilakunya selama berpuasa masih terlihat sifat aslinya kekanak-kanakan. Biasanya anak-anak minta kepada orangtuanya untuk dibelikan beragam makanan dan minuman yang dilihat sepanjang hari untuk persiapan berbuka.
Bagi anak-anak pria biasanya turut ke masjid atau musalla salat jama’ah ashar dan mendekarkan pengajian bakda ashar, selesai pengajian biasanya mendapatkan nasi bungkus gratis dan dibawa pulang. Dalam menjalankan puasa bedhug dan puasa maghrib, anak-anak juga melakukan ibadah sunnah seperti orang dewasa. Anak-anak pantura turut serta makan sahur, buka bersama, menjalankan shalat tarawih dan witir, serta tadarus Al-quran bersama kelompok anak-anak. Bahkan anak-anak lebih konsisten dalam menjalankan amalan sunnah, jika dibandingkan dengan orang-orang dewasa. Tradisi berpuasa bagi anak-anak di pesisir Lamongan menjadi bagian pendidikan yang masih terjaga dengan baik sampai sekarang dan bahkan seluruh kegiatan tercatat dalam buku agenda.
Ramadan merupakan merupakan momentum yang tepat untuk membangun kesadaran anak-anak pantura belajar bertanggungjawab kepada Allah. Selain itu, anak-anak dididik bertanggungjawab kepada dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Hal ini senada dengan sebutan Ramadan sebagai bulan syahrut tarbiyah atau bulan pendidikan. Berpuasa sejak usia dini merupakan salah satu pendidikan yang telah berkembang dengan baik, dengan harapan supaya kelak di usia dewasa mampu menjalankan kewajiban puasa dengan baik. Tentu saja kebiasaan yang ditanamkan orangtua menganjurkan anak-anaknya melakukan ibadah puasa berdasarkan Alquran dan Sunnah. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana