Oleh :
Nono Warnono
Pegiat pendidikan dan sosial budaya di Sanggar Pamarsudi Sastra Jawi Bojobegoro (PSJB)
ERA digital sebagai sebuah peruabahan peradaban dibarengi dengan lompatan teknologi informasi menjadikan manusia tidak hanya hidup berinteraksi dengan alam nyata. Namun dinamika jaman nan meniscayakan manusia juga berkomunikasi dengan kehidupan di dunia maya.
Di jagat kasat mata tersebut seseorang bisa membangun citra diri. Bahkan dengan akun anonim bukan nama terang, seseorang bisa bersembunyi di balik topeng media sosial untuk merencanakan lalu berbuat kejahatan. Dengan topeng dan kostum rekayasanya seseorang bisa menutup rapat jatidirinya pun bisa menghindar dari tuntutan tanggung jawab.
Sebagai contoh kekinian, sebut saja akun Fufufafa yang viral pun menjadi perhatian warganet diberbagai platform media sosial. Bukan tanpa alasan, hal ini terjadi karena jejak digital akun tersebut yang kedapatan sering mencela tokoh-tokoh kenamaan di Indonesia. Sekadar informasi, Fufufafa ini merupakan sebuah akun di platform Kaskus. Meski tampaknya sudah tidak aktif lagi, namun akun tersebut meninggalkan banyak jejak digital yang membuat warganet terkejut.
Sebelum ramai dengan hadirnya berbagai platform media social seperti saat ini, Kaskus menjadi platorm yang ramai digunakan berbagai kalangan. Mulai euphoria masyarakat berselancar di dunia maya. Euforia dengan segala keterbatasan literasi digital bagaimana seharusnya berinteraksi di jagat virtual.
Kesadaran menggunakan medsos secara bijak saat itu masih sangat rendah dan minim etika, bahkan hingga saat ini kecerdasan dan bijak (wise) memanfaatkan media sosial masih belum sepenuhnya diarusutamakan. Sehingga tak ayal dampak negatif kehadiran era digital membanjiri kehidupan maya.
Dari akun Fufufafa yang viral dan disinyalir milik tokoh elit negeri ini, mengkonfirmasi betapa konten yang diunggah sungguh memprihatinkan. Konten kebencian, caci maki pun pelecehan yang notabene dilakukan oleh tokoh yang seharusnya menjadi panutan. Realita yang tentu sangat memprihatinkan ketika pemimpin atau calon pemimpin tidak mampu memberi edukasi pun teladan bagi warganya di jagat digital.
Betapa ngeri dan miris warga negeri ini, ketika figur figur elit yang hendak mengendalikan bangsa ini sembarangan menggunakan medsos. Tokoh yang sedari awal disanjung eksestensinya, ternyata bermental pecundang nir keteladanan.
Aras arus digital yang penghuninya semakin banyak dari waktu ke waktu, akan menjadi gaduh manakala semakin masif akun semacam fufufafa tak disanksi oleh negara. Akun anonim yang dengan sekehendak hatinya berbuat apa saja tanpa bertanggung jawab. Ancaman akan semakin destruktif jika diperparah dengan maraknya para pendengung (buzzer) yang menebar hoaks, perundungan, pun ujaran kebencian. Ancaman serius terhadap kualitas informasi di media sosial akan menjadi bencana manakala semua abai norma.
Memang kita tidak bisa menggeneralisasi semua akun seperti Fufufafa, karena masih banyak akun-akun yang keberadaannya sungguh produktif membangun peradaban manusia.
Seperti apa yang dibibcang di atas, akun diberbagai platform memiliki dampak positif dan negatif. Pertama, akan muncul dampak positif manakala pengguna menampakkan jatidirinya, sejurus kemudia mendayagunakan akun dalam berinteraksi secara produktif. Membangun citra diri tanpa bersembunyi di akun anonym, dengan menampakkan jatidiri yang justru menginspirasi.
Kedua, menjadi kontraproduktif manakala akun tersebut membangun dirinya sebagai orang lain, yang dengannya dapat berbuat destruktif, merusak norma sendi-sendi kehidupan. Dengan melakukan berbagai perundungan, menebar informasi hoaks, membuncah pelecehan , hingga menebar ujaran kebencian.
Menurut hemat penulis, aras digital adalah era dimana manusia hidup di alam nyata (realita) dengan berbagai bentuk interaksi bernilai, dan hudup alam "ghaib" dengan segala tatanan baru yang harus disikapi dengan bijaksana. Saatnya peradaban manusia di aras digital ditaburi norma yang sesuai nilai-nilai humanism. Jangan jadikan kehidupan alam digital seperti perilaku akun Fufufafa nan barbar dan nista.
Memang saat ini belum ada regulasi yang mengatur berapa batasan akun maksimal yang dimiliki seseorang di setiap platform media sosial. Yang pasti rekayasa memiliki banyak akun di media sosial dengan menampilkan citra diri yang berbeda akan berdampak buruk pada kewarasan mental manusia. Bijak dan berintegritas dalam bermedia sosial adalah sebuah keniscayaan. Dengan budaya positif, bijaksana mengelola kehidupan di ranah digital, akan mendukung kehidupan nyata yang lebih produktif bagi kehidupan. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana