Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Strategi Mengelola Kekeringan

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 8 September 2024 | 21:15 WIB
Ilustrasi Kekeringan (Ainur Ochiem/R.Bjn)
Ilustrasi Kekeringan (Ainur Ochiem/R.Bjn)

 

Oleh:
HERI MULYANTI

 

KEKERINGAN didefinisikan sebagai defisit pada imbangan air. Kondisi ini disebabkan oleh curah hujan di bawah ‘biasanya’. Kekeringan berbeda dengan kelangkaan sumber daya air. Perbedaan terletak pada: “Kekeringan merupakan peristiwa alamiah yang dipicu oleh anomali iklim (van Loon dan van Lanen, 2013). Distribusi kekeringan bersifat tidak menentu, baik lokasi maupun waktu. Dapat dikatakan bahwa kekeringan merupakan ancaman yang ’tidak tahu kapan datang, tidak tahu kapan pergi’.

Ada beberapa hal yang perlu diperjelas, yaitu istilah kekeringan, kering, dan kelangkaan air. Misalkan, curah hujan bulan November ’biasanya’ berkisar 100 – 200 mm. Akan tetapi, pada suatu waktu, berkurang menjadi 50 mm. Peristiwa ini dinamakan dengan ’kekeringan’. Tetapi suatu wilayah yang selalu kurang air pada kemarau, maka kategorinya adalah ’kering’. Fenomena ini akan merambah ke istilah lain yang dinamakan dengan ’kelangkaan air’. Kelangkaan air terjadi jika kebutuhan akan air lebih banyak dibandingkan dengan air tersedia. Pada kasus kelangkaan air, hujan tidak berbeda jauh dibandingkan ’biasanya’. Oleh karena itu, mendefinisikan ’biasanya’ diperlukan dokumen historis berupa curah hujan selama minimal 30 tahun untuk mendapatkan informasi ’biasanya’ bulan A curah hujan X mm.

Berdasarkan pengertian di atas, maka kekeringan mulanya berkaitan dengan kekeringan meteorologis dalam bentuk penurunan curah hujan. Curah hujan yang berkurang menyebabkan jumlah air tanah dan permukaan berkurang, sehingga berdampak bagi banyak sektor kehidupan manusia, baik pertanian, sosial ekonomi, kesehatan, dan keberlangsungan hidup. Bermula dari kekeringan meteorologis, berakibat munculnya kekeringan hidrologis, pertanian, dan sosial ekonomi.

Ancaman dan Kerentanan

Pada dasarnya kekeringan merupakan peristiwa iklim normal yang kejadiannya akan berulang (Wilhite, 2000). Kekeringan menjadi perlu dikenali jika memberi dampak bagi masyarakat, komunitas, atau ekosistem. Kekeringan akan berubah menjadi bencana saat memberi risiko berupa kerugian atau potensi negatif yang parah dan luas bagi masyarakat/ekosistem baik secara fisik, ekonomi, dan sosial.

Besar kecilnya risiko kekeringan bergantung pada dua hal: tingkat ancaman dan tingkat kerentanan. Dengan demikian, dampak merupakan gabungan dari seberapa besar ancaman serta seberapa rentan suatu komunitas tersebut menghadapi kekeringan.

Mengukur tingkat bahaya kekeringan dapat mempertimbangkan aspek intensitas kekeringan, durasi kejadian, frekuensi, dan kekuatan kekeringan. Intensitas kekeringan dinilai sebagai aspek utama dalam penilaian tingkat bahaya kekeringan. Kekeringan dapat dinilai ekstrem jika terjadi dalam waktu lama. Sehingga intensitas kekeringan seringkali dijadikan tolok ukur keparahan kekeringan.

Kerentanan terhadap risiko kekeringan terjadi saat komunitas atau masyarakat tidak mampu bertahan saat menghadapi bahaya kekeringan. Tingkat kerentanan terjadi saat potensi atau sensitivitas bahaya berbanding terbalik dengan kemampuan adaptasinya. Komunitas atau masyarakat dengan kerentanan tinggi dan kapasitas adaptasi rendah berpotensi mengalami kerugian yang besar baik fisik maupun sosial ekonomi.

Tingkat bahaya kekeringan berkaitan dengan kondisi fisik berupa faktor ekstrinsik di luar komunitas atau maayarakat. Sedangkan, tingkat keparahan berkaitan dengan dinamika intrinsik dari komunitas atau masyarakat. Tingkat keparahan sangat berkaitan erat dengan mata pencaharian, tingkat pendapatan, infrastruktur sosial, bahkan aspek budaya dan politik.

 

Mengelola Dampak Kekeringan

Perlu dipahami bahwa kekeringan merupakan kejadian yang akan berulang. Oleh karena itu, dalam menghadapi kekeringan diperlukan perencanaan dengan sebaik-baiknya  (Wilhite, 2000). Penanganan kekeringan tidak cukup sekadar penanganan masalah pada saat kejadian kekeringan, tetapi memerlukan perencanaan jangka panjang yang mampu meningkatkan kemampuan dan kapabilitas komunitas atau masyarakat saat menghadapi kekeringan.

Penanganan kekeringan seringkali dilakukan secara kuratif dengan pendekatan manajemen krisis. Pendekatan manajemen krisis biasanya dilakukan dengan memasok (donor) air ke wilayah yang mengalami kekeringan (Smucker, 2012; Wilhite et al., 2019). Pendekatan krisis seperti ini akan meningkatkan ketergantungan masyarakat terhadap pemerintah dan mengurangi inisiatif masyarakat dalam mempersiapkan diri menghadapi kekeringan yang akan datang (Hughes et al., 2019).

Pengurangan risiko kekeringan memerlukan pendekatan manajemen dalam bahaya lingkungan jangka panjang. Tujuannya bukan hanya mengatasi permasalahan saat ini, tetapi secara berkepanjangan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, baik pemerintah maupun masyarakat, pada wilayah yang memiliki risiko kekeringan tinggi.

Upaya jangka panjang ini dilakukan pertama dengan perhatian pemerintah atau pihak berwenang untuk membuat perencanaan  penanganan bencana kekeringan berdasarkan data historis maupun penilaian dampak. Validasi hasil penilaian risiko kekeringan pada atau wilayah dengan kondisi aktual perlu dilakukan dengan didukung data yang terdokumentasikan dengan baik dan benar secara ilmiah.

Kedua, dari sisi masyarakat, upaya pengurangan risiko kekeringan dapat dilakukan dengan dua teknik, yaitu meningkatkan kemampuan adaptasi dan mitigasi masyarakat. Adaptasi dilakukan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat akan ancaman kekeringan. Sedangkan mitigasi dilakukan untuk mengurangi dampak kekeringan dengan meningkatkan kapasitas masyarakat. Kedua teknik ini, adpatasi dan mitigasi, tentu membutuhkan basis data berupa tingkat bahaya dan kerentanan masyarakat pada suatu wilayah tertentu. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#ancaman #Ekosistem #sumber daya air #kekeringan #dampak kekeringan #curah hujan #Kerentanan #strategi #kering #kesehatan #Pertanian #manajemen krisis #Kelangkaan Air #donor #Ekonomi #kehidupan manusia #masyarakat #Air #mengelola