BELAKANGAN ini martabat, muru’ah, dan marwah (M-Tri) Nahdlatul Ulama (NU) terus mendapatkan rongrogan. Tidak hanya dari luar dirinya. Tetapi juga dari dalam, akibat perilaku oknum pimpinan atau oknum kadernya sendiri.
Rongrongan dari dalam yang paling hot saat ini adalah adanya beberapa orang NU yang ‘’nyelonong’ pergi ke Israel. Mereka menemui Presiden Israel. Sontak, berita ini menjadi viral. Publik mengecam mereka. Jam’iyah NU dan PB NU yang semula tidak tahu apa-apa ikut jadi korban. Istilahe wong Jowo: NU dan PB NU kenek awu anget. Gak melok mangan nangkae, melu kenek pulute (getah nagka). NU ikut kena sorotan publik.
Hampir bersamaan dengan hal tersebut, kini viral soal perhajian 2024. Ada keluhan dari sebagian jamaah haji Indonesia selama di Tanah Suci. Mereka mengeluhkan kualitas pelayanannya kurang baik, sementara biaya haji naik dari tahun sebelumnya.
Lebih dari itu, viral di media sosial dan media massa tentang adaya dugaan permainan jatah haji reguler dan jamaah haji khusus (plus). Persentase jamaah haji plus diperbanyak, sehingga jumlah jamaah haji reguler tidak sesuai dengan yang seharusnya.
Kabar buruknya, ada oknum yang mengajak main-main dengan anggota DPR-RI yang membidangi perhajian. Jika anggota wakil rakyat menyetujui skema penjatahan haji plus, maka setiap anggota dewan bidang perhajian diiming-imingi akan dikasih duit miliaran rupiah.
Publik pasti tahulah bahwa panglima tertinggi di Kemenag saat ini adalah tokoh NU. Videonya juga sempat viral ketika beliau memuji-muji kehebatan kader NU lainnya yang menjadi pimpinan komisi penyelenggara pemilu. Dan, celakanya, beberapa waktu lalu pimpinan KPU itu diberhentikan karena tersandung kasus asusila.
Belum lagi kasus-kasus orang NU yang menjadi pejabat, semisal kepala daerah. Ada beberapa kepala daerah yang juga sudah dan sedang berurusan dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Jika berurusan dengan KPK, tentu saja, kasusnya adalah dugaan korupsi, menyelewengkan uang negara, uang daerah, atau uang rakyat.
Hal-hal seperti itu, menurut saya, bisa merongrong M-Tri NU. Apalagi, jika kasus-kasus itu sengaja terus digoreng, dihembuskan, dan diviralkan oleh publik di luar komunitas NU. Karena itu, seharusnya, pimpinan NU perlu segera bergerak cepat bagaimana agar kasus-kasus yang bisa merusak citra NU itu segera dapat diredam. Dan, yang pentng lagi, di masa depan tidak ada lagi pimpinan atau kader NU yang melakukan kecerobohan seperti itu.