Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Memahami Kekeringan di Jawa Timur

Hakam Alghivari • Minggu, 21 Januari 2024 | 22:15 WIB

Ilsutrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilsutrasi (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

Penulis: Heri Mulyanti

Secara sederhana, kekeringan dapat diartikan sebagai kondisi saat suplai air tidak mencukupi kebutuhan atau permintaan dari lingkungan. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mendefinisikan kekeringan sebagai kondisi kekurangan curah hujan berkepanjangan yang mengakibatkan kekurangan air. Kekeringan dapat terjadi dalam empat bentuk: meteorologis, agrikultul, hidrologi, dan sosial-ekonomi (Wilhite dan Glantz, 1985). Kekeringan meteorologis terjadi dengan berkurangnya curuh hujan selama periode tertentu yang mengakibatkan menurunnya jumlah air tanah dan air permukaan. Kondisi ini berpengaruh terhadap kondisi pertanian, terutama sawah dan lahan yang tergantung dengan curah hujan. Kekeringan area pertanian dengan kondisi tanah yang berkurang kelembabannya menjadi sebab berkurangnya peresapan air ke dalam tanah, akibatnya terjadi kekeringan hidrologis. Berkurangnya cadangan air akan berdampak secara umum terhadap kehidupan sosial dan ekonomi manusia.

Kekeringan merupakan salah satu jenis bencana yang sulit diprediksi baik dari lokasi maupun waktu kejadian, diikuti ketidakpastian kapan akan berakhir. Kekeringan baru disadari saat telah menjadi bencana alam yang mengancam kehidupan sosial dan ekonomi manusia (A. AghaKouchak, 2018). Peristiwa ini merupakan fenomena yang permulaannya berjalan lambat dengan dampak langsung yang tidak terlalu terlihat. Meskipun begitu, kekeringan dapat memberikan dampak kerusakan yang besar pada keberlangsungan makhluk hidup, kelestarian lingkungan hidup, keruskan ekosistem, dan menggangu kehidupan sosial ekonomi manusia terutama mengancam keamanan pangan (W. Kron, 2019).

Kekeringan di Provinsi Jawa Timur

Bagian utara Provinsi Jawa Timur sebagian besar merupakan dataran aluvial yang cocok untuk budidaya padi. Wilayah tengah ditandai dengan pegunungan vulkanik, sedangkan wilayah selatan terdiri dari perbukitan terjal. Provinsi Jawa Timur terletak di belahan bumi selatan dan mengalami iklim muson tropis. Di daerah tropis, curah hujan merupakan faktor utama yang mempengaruhi seberapa parah kekeringan berlangsung. 

Kekeringan di Provinsi Jawa Timur sebenarnya bukan hal baru. Daerah ini menurut Abram, dkk. (2003) pernah mengalami kekeringan ekstrem pada zaman Holosen (20 ribu tahun lalu). Penelitian yang dilakukan Rodysill dkk. (2013) dengan menggunakan data lingkar tahun pohon serta sedimen danau menunjukkan bahwa kekeringan parah terjadi bersamaan dengan anomali iklim di Samudra Pasifik. Analisis karang menunjukkan bahwa kekeringan di Jawa lebih parah pada pertengahan Holosen (20 ribu tahun lalu). Sebelum abad ke-10, Provinsi Jawa Timur dan Pulau Jawa secara umum didominasai oleh kondisi yang lebih lembab. Kondisi tersebut menjadi lebih kering mulai tahun 960-1090 M, 1260-1300 M, 1380-1450 M, 1600-1690 M, 1790-1800 M, dan 1840-1900 M (Konecky, 2013).

Studi kekeringan historis menunjukkan hubungan yang kuat antara kekeringan di Jawa Timur dan kejadian positif ENSO (El-Niño Southern Oscillation). Studi lain mengungkapkan beragam pola kekeringan meteorologis akibat El-Niño berkaitan dengan karakteristik lokal sebuah wilayah. Kekeringan di Pulau Jawa berkaitan dengan kejadian El-Niño. Wilayah Selatan Pulau Jawa cenderung lebih stabil dari pengaruh luar, sementara wilayah utara lebih terpengaruh oleh perubahan suhu permukaan laut. Distribusi kekeringan bervariasi berdasarkan faktor topografi dan letak geografi (D’Arrigo, 2006; Aldrian, 2008; Siswanto, 2022; Rodysill, 2013). Saat El-Niño suhu lautan menjadi lebih dingin sehingga menyebabkan pembentukan awan hujan berkurang. Kondisi ini menjadi penyebab menurunnya jumlah curah hujan yang turun di area pesisir. Kejadian El-Niño ekstrem berjalan simultan dengan kejadian kekeringan ekstrem di Pulau Jawa. Data DIBI BNPB menunjukkan 331 kejadian kekeringan di Provinsi Jawa Timur yang berdampak ke 1.5 juta orang dalam periode 20 tahun terakhir.

Perubahan iklim yang berlangsung cepat menyebabkan anomali kenaikan suhu permukaan air laut terutama di Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Iklim yang lebih hangat meningkatkan terjadinya kenaikan suhu dan defisit curah hujan. Studi, proyeksi, dan skenario berkaitan dengan perubahan iklim menunjukkan bahwa kenaikan suhu permukaan laut meningkatkan potensi terjadinya kekeringan lebih intens, ketersediaan air berubah, dan dampak bagi kehidupan makin membesar. Sebagai contoh, berkurangnya sumber daya air akan berakibat keberlangsungan kegiatan pertanian. Organisasi Pangan Dunia (FAO) tahun 2018 melaporkan bahwa kekeringan menyebabkan 83% kerugian dan kerusakan hasil panen pertanian (N. S. Diffenbaugh, 2015).

Mengatasi Kekeringan

Provinsi Jawa Timur memiliki karakteristik curah hujan yang lebih rendah dibandingkan provinsi lain di Pulau Jawa serta musim kemarau yang panjang. Musim kemarau berkepanjangan paling banyak mempengaruhi wilayah dataran, khususnya Jawa Timur yang secara alami menerima lebih rendah curah hujan dan bulan-bulan kering terpanjang berturut-turut. Catatan sejarah kekeringan pada periode pertengahan Holosen menunjukkan potensi terjadinya kekeringan ekstrem yang berulang di masa depan. Peristiwa kekeringan terkini terjadi pada tahun 1982/1983, 1997/1998, dan 2015/2016 mempunyai dampak buruk terhadap sumber daya air, ekosistem, dan pertanian. Terulangnya pola-pola seperti ini dapat menimbulkan ancaman serius, terutama bila dikombinasikan dengan tren pemanasan yang makin cepat.

Salah satu pendekatan untuk mengatasi kekeringan di masa depan adalah dengan melokalisasi ilmu pengetahuan mengenai iklim dan mengembangkan strategi adaptasi berbasis Masyarakat (community-based). Update informasi peristiwa kekeringan, hubungannya dengan fenomena iklim seperti ENSO, peningkatan intensitas dan frekuensi gabungan sirkulasi Samudera Pasifik dan Hindia penting untuk penyelidikan lebih lanjut. Membangun ketahanan dalam bentuk mitigasi dan adaptasi terhadap kejadian kekeringan di masa depan kemungkinan besar akan mengubah perilaku masyarakat, membantu mereka menerima kondisi yang selalu berubah, bahkan dalam kondisi ekstrem yang lebih parah.

Editor : Hakam Alghivari
#kebutuhan #Jawa Timur #kekeringan #suplai air #opini