OPINI: Teguh Haryono
Hubungan internasional dan geopolitik, dua kata kunci yang cukup banyak muncul dalam obrolan yang saya ikuti belakangan ini. Artinya, adalah fakta bahwa masyarakat Indonesia sebetulnya sudah cukup akrab dengan kedua hal ini.
Walaupun terminologinya terdengar serius, tapi sebetulnya kedua hal ini bukan hal baru. Ambil contoh tentang sister city. Per 2023 ini, setelah saya cek di situsweb Sister Cities of the World, saya baru tahu bahwa, 34 kota di Indonesia sudah terlibat dalam kerja sama Sister City dengan kota-kota di dalam maupun luar negeri.
Sister City ini awalnya hanya sekadar kerja sama antara pemerintah kota di dua negara berbeda. Beberapa sumber yang saya baca menyebutkan, bahwa sejarahnya tercetus pada 1920 di Benua Eropa. Saat itu, Keighley di Inggris bersahabat dengan Poix Du Nord di Prancis.
Semula konsep ini bertujuan pengembangan hubungan persahabatan dan pemahaman dari dua entitas berbeda. Kini, telah meluas hingga ke berbagai bidang. Mulai dari ekonomi, pemerintahan, hingga pendidikan.
Konsep Sister City bisa disebut sebagai salah satu bentuk diplomasi paralel melibatkan entitas subnasional dalam kegiatan diplomatik yang disebut sebagai paradiplomasi. Kota-kota yang terlibat kerja sama tidak hanya menjadi saksi, tapi juga sebagai aktor aktif dalam dinamika hubungan internasional, berinteraksi, dan saling bertukar manfaat.
Sederhananya begini. Mari bayangkan dunia ini sebagai sebuah kompleks perumahan. Negara-negara adalah tetangga yang hidup berdampingan. Dalam dinamika kompleks ini, konsep Sister City dapat dianalogikan seperti menjalin hubungan dan kebersamaan dengan tetangga yang berada di sekitar rumah kita.
Sebagaimana kita merawat hubungan dengan tetangga, Sister City hadir dengan prinsip yang tidak jauh berbeda. Sebagai tetangga, jamaknya harus bersedia saling berbagi dan peduli. Saling membantu dan menjaga relasi.
Misalnya, jika istri saya habis mencoba resep masakan baru dan berhasil, maka tetangga tidak akan luput menjadi pencicipnya. Awalnya, hubungan dua Sister City bisa hanya melalui pertukaran surat atau cerita, mirip dengan tetangga saling sapa lewat pagar rumah.
Seiring waktu, hubungan ini dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih nyata dan konkret. Dalam bertetangga, kita seringkali memiliki kesamaan karakteristik yang menjadi dasar terbentuknya hubungan erat.
Begitu juga dengan Sister City, kesamaan karakteristik dan tempat menjadi pendorong utama terjalinnya kerja sama yang kokoh. Mirip dengan merawat kebersamaan dengan tetangga, Sister City mengajarkan kita untuk merajut hubungan kuat.
Juga membangun jembatan kebersamaan, dan menjaga keharmonisan di tengah kompleksitas kehidupan internasional. Dalam dunia yang semakin terhubung ini, Sister City bisa menjadi semacam "tetangga global" yang membuka pintu untuk memahami, menghargai, dan bekerja sama di antara berbagai perbedaan.
Dalam memilih teman bertetangga, kita pilih yang memiliki nilai-nilai dan minat yang sejalan. Bojonegoro bisa juga mempertimbangkan karakteristik dan keunikan kota-kota yang sekiranya cocok untuk dijadikan sebagai Sister City-nya.
Seperti kita mencari kecocokan dengan tetangga, Bojonegoro bisa juga mencari kota yang cocok untuk menjadi "twin – saudara kembar" yang sesuai dengan visi dan nilai-nilai Bojonegoro.
Melalui Sister City, Bojonegoro bukan hanya menjadi bagian dari jejaring yang kental dengan nilai-nilai kearifan lokal. Tetapi juga membuka diri pada wawasan global. Hal ini sejalan dengan semangat kebersamaan dalam keberagaman, yang merupakan ciri khas budaya Indonesia.
Bojonegoro bisa menjadi duta kecil yang membawa keindahan lokalnya ke panggung internasional. Sekaligus merangkul keunikan dari tetangga globalnya. Dalam konteks geopolitik, seperti halnya tetangga yang berbagi sumber daya dan pengalaman.
Sister City bisa menciptakan hubungan internasional yang kuat. Seiring dengan pertukaran budaya dan peningkatan kolaborasi, kita bisa membentuk suatu komunitas global yang mempromosikan perdamaian dan pemahaman lintas batas.
Analogi sederhana ini mencerminkan bagaimana keterbukaan dan kerjasama antar-kota dapat menjadi kekuatan positif dalam menciptakan harmoni di panggung geopolitik dunia.
Kalau Bojonegoro memutuskan untuk memilih tetangga globalnya, kira-kira negara mana atau kota mana yang cocok untuk menjadi Sister City dari Bojonegoro? Tidak mungkin bisa dilakukan sendiri-sendiri. Kolaborasi dan sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi salah satu kunci untuk maju dan mandiri. (*)
Editor : Hakam Alghivari