Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Menyorot Guru dan Murid Masa Kini

Hakam Alghivari • Minggu, 26 November 2023 | 19:00 WIB

 

Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)

 

Oleh:
Nur Qoni’atul Mushlihah
Pustakawan UNUGIRI

 

Beberapa waktu lalu ramai diperbincangkan di media sosial lokal maupun nasional, kasus guru di salah satu sekolah di Kabupaten Bojonegoro yang menyiram ponsel pintar milik beberapa murid hingga mengakibatkan kerusakan dan berujung protes dari orang tua murid.

Jika pembaca menelusur di laman pencarian internet dengan kata kunci “kasus guru di Bojonegoro” maka akan ditemukan jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan kata kunci “prestasi guru di Bojonegoro”. Hal ini tentu saja tidak dapat dijadikan patokan bahwa sebenarnya guru di Bojonegoro minim prestasi ketimbang kontroversi, karena bisa jadi yang riuh dibicarakan oleh media adalah kasus kontroversial, sedangkan hal-hal positif kurang mendapatkan sorotan media dan kamera.

Menjadi guru di zaman serba digital bukan hal yang mudah. Hal-hal sepele yang dilakukan antara guru dan murid bisa menjadi permasalahan rumit jika digelindingkan di dunia maya. Seperti sebuah video viral beberapa minggu lalu, di mana seorang guru di Bojonegoro menyorot muridnya yang membawa bekal berupa ulat sagu. Beberapa kalangan menanggapi hal ini dengan kecaman, beberapa yang lain menganggapnya hanya sebuah guyonan tanda keakraban.

Hubungan antara guru dan murid perlu dilihat dari perkembangan zaman. Jika zaman dulu murid tidak berani bertanya pada guru, justru kini banyak mudir kritis yang aktif bertanya dan membangun ruang diskusi dengan guru dan murid lain.

Hubungan antar guru dan murid yang mengalami pergeseran, tidak lepas dari pengaruh beberapa faktor, di antaranya adalah perbedaan generasi antara guru dan murid. Jika dilihat dari usia produktif manusia, guru saat ini banyak diisi dari generasi X (1960-1980), Milenial (1981-1996), dan sebagian kecil dari generasi Z (1997-2012). Sedangkan murid yang diajar adalah dari generasi Z dan generasi Alpha (2012+).

Perbedaan generasi ini tentu mempengaruhi bagaimana guru mengajar dan bagaimana pandangan murid terhadap proses belajar. Para pengajar tidak dapat menyamakan bagaimana mereka dulu menjadi pelajar dan dididik oleh generasi sebelumnya. Guru dituntut untuk terus mengikuti perkembangan zaman dan menyesuaikan metode pengajaran dengan kurikulum terbaru, karena yang mereka hadapi adalah pelajar dari generasi yang berbeda.

Perbedaan generasi merupakan hal yang kompleks sebab tiap generasi memiliki khas masing-masing, mereka tumbuh dalam kondisi sosial, politik, ekonomi, dan teknologi yang berbeda. Misalnya saja, guru yang tumbuh dari kondisi sosial ekonomi yang masih rendah pada saat itu, lalu bertemu dengan para murid yang merasakan kondisi ekonomi negara yang lebih mapan, tidak dapat mengatakan bahwa “murid jaman sekarang manja karena mendapat berbagai fasilitas dengan mudah”.

Cara pandang seperti ini perlu diubah dengan mengedepankan pemikiran bahwa “semakin mudah fasilitas yang didapat, maka murid dapat selangkah lebih maju dan meng-explore banyak hal”.

Selanjutnya, menyadari perbedaan perkembangan teknologi antar generasi juga menjadi hal yang penting. Mengutip artikel jurnal milik Putra (2016) yang berjudul Teori Perbedaan Generasi, menyebutkan bahwa generasi X menjadi generasi pertama yang tumbuh dengan teknologi internet. Tetapi, pada saat itu perkembangan internet di Indonesia belum semasif saat ini. Artinya, tidak dapat dipastikan bahwa generasi X secara merata mendapatkan kesempatan belajar dengan teknologi internet.

Jika dibandingkan dengan para murid yang lahir sebagai generasi Z dan Alpha, perbedaan ini jelas terasa. Generasi Z ke bawah menjadi generasi yang dibesarkan bersama dengan teknologi informasi dan internet, sehingga pendekatan yang dilakukan antara guru dan murid harus mempertimbangkan faktor tersebut. Namun, kabar baiknya, masih dari jurnal yang sama menyebut bahwa generasi X adalah generasi yang mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial dan teknologi baru.

Menjadi guru bagi generasi Z dan Alpha menuntut kita untuk mengembangkan skill berteknologi, bersosial media, dan berkomunikasi ala anak jaman now. Mau tidak mau guru harus masuk ke dunia generasi Z dan Alpha, bukan hanya untuk memenuhi tuntutan kurikulum, namun untuk merasakan secara langsung hidup sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi internet, supaya guru lebih memahami dan tau bagaimana berhadapan dengan murid dari generasi yang berbeda.

Saat ini, di media sosial seperti YouTube, Instagram, dan TikTok mudah menemukan akun-akun yang kerap membagikan pengalamannya sebagai guru. Mereka juga sering membagikan tips, metode, dan cara-cara unik mengajar yang bisa dengan mudah diterima oleh murid dari generasi Z dan Alpha.       

Guru bukan hanya seorang pengajar, tetapi seorang pendidik, di mana ia berperan sebagai orang tua kedua bagi murid. Tantangan guru akan berbeda di setiap zaman, namun justru itulah ciri khas dari seorang guru, ia bukan hanya sedang mentransfer pengetahuan, tetapi kembali menjadi seorang pembelajar yang ‘dipaksa’ untuk terus belajar menghadapi murid, menyiapkan media-media pembelajaran, sekaligus menjadi teladan bagi muridnya.

Selamat Hari Guru Nasional! Terima kasih telah menjadi sosok yang turut mencerdaskan anak bangsa. (*)

Editor : Hakam Alghivari
#Guru #hari guru #Pendidikan #bojonegoro #murid