Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Fenomena Kaum Kaya dan Miskin

M. Yusuf Purwanto • Minggu, 30 April 2023 | 15:59 WIB
Photo
Photo
FENOMENA masih berkembang dan menjadi konsumen tetap semua produk ilmu pengetahuan, teknologi, dan filsafat dari negara-negara maju tentu fenomene ini sebuah pekerjaan rumah (PR) bagi negara dan pemerintah tentang adanya pemerataan ekonomi. Dibarengi kesempatan dan lapangan pekerjaan kaum miskin tidak melulu menjadi penguasaan bagi kalangan kaum kaya.

Membludaknya semua produk negara-negara asing atau maju bagi sebagian besar masyarakat ini membuat jurang kemiskinan semakin mengkhawatirkan. Perputaran uang hanya dinikmati kelas menengah ke atas. Tentu minim perhatian kelas menengah ke bawah yang menikmatinya.

Kesenjangan ekonomi sudah menjadi hal tidak tabu lagi di masyarakat kerap kali menjadi viral di media-media sosial. Akhirnya terjadi perang kebahagiaan mewarnai hidup dan kehidupan di semua lapisan masyarakat. Adanya perang kebahagiaan menjadi fakta tidak saja melanda masyarakat, bahkan para pemimpin kita ikut perang kebahagiaan itu.

Perang kebahagiaan ini sebuah fenomena masyarakat yaitu orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin. Ada beragumen : “kebahagiaan bukan melulu materi atau kemiskinan adalah kebahagiaan sejati. Namun, meskipun argumen-argumen tentang kebahagiaan tidak sedikit rasa kaya menghampiri kalangan kaum kaya akhirnya terjadi kesenjangan dan kecemburuan ekonomi di masyarakat.

Fenomena paradoks kaum kaya dan miskin masih adanya tren dan gaya hidup dari strata status sosial ekonomi masih dipercaya, ibarat pepatah: di atas langit masih ada langit. Memang, kalau kita sadari dalam ajaran agama Islam dikatakan bahwa kesenangan hidup di dunia ini adalah fana dan sementara. Tak ada abadi di dunia ini.

Maka, dari itu sebagai bangsa besar berpenduduk mayoritas memeluk muslim, kita harus menyadari pemikiran dan gerakan adanya keberpihakan kepada kaum duafa dan fakir miskin agar hidup kita bahagia.

Hidup dengan glamor dan bermewah-mewahan lupa dengan jati-diri sebagai manusia dan bahkan sebagai warga negara NKRI memiliki simbol Pancasila merupakan suatu hal tidak disukai masyarakat umumnya. Bahkan agama Islam mengkritik hidup sangat jauh dari sikap dan sifat sederhana karena dalam sejarah tertulis abadi di dalam Alquran, bagaimana seorang Qorun pernah hidup di masa Nabi Musa, ditenggelamkan semua harta dan kekayaannya ke dalam tanah oleh Allah SWT karena memiliki sikap dan sifat kesombongan mementingkan kesenangan dunia daripada ukhrowiyah.

Kenyataan terjadi di masyarakat dibanjiri produk-produk made in negara-negera maju dari gaya hidup mewah. Terjadilah apa disebut budaya pamer dari ponsel hingga mobil mewah. Budaya pamer ini fenomena sehari-hari kita lihat bersama di masyarakat negeri ini. Budaya pamer barang kali sudah terjadi di masa lalu, kini dan akan datang. Sebuah budaya dari tradisi patrimonial atau bapakisme atau istilah dikenal ABS atau asal bapak senang.

Tradisi patrimonial ini sudah mendarah-daging dari sejarah nenek moyang. Sulit dihapus ibarat pepatah: masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Peninggalan-peninggalan sejarah dari nenek moyang kita merupakan ciri khas bangsa besar ini, Indonesia meskipun di negara lain sudah maju tidak pernah ditemukan, budaya-budaya nenek moyang ini masih ada kuat di negeri ini.

Terjadilah fenomena paradoks kaum kaya dan miskin di Indonesia juga sangat susah dihilangkan karena sebuah kekayaan budaya timur seperti di negeri ini, Indonesia. Kaya dan miskin menjadikan saling butuh membutuhkan satu sama lain. Tanpa ada kaya juga tanpa ada miskin merupakan sebuah wajah uang koin sama tanpa perbedaan. Yang kaya butuh yang miskin dan yang miskin pun butuh yang kaya.

Yang kaya dan yang miskin mereka bersama-sama untuk maju. Kemajuan bukan sekadar menghilangkan kemiskinan dan kemunduran bukan menghilangkan kekayaan karena mereka maju bersama menghirup udara di bumi ini.

Barangkali, adalah soal waktu di negeri ini dapat mandiri dan berdikari sendiri. Yaitu sejajar negara maju jika para generasi berikutnya memimpin negeri ini. Kita harus mempersiapkan generasi berikutnya yaitu anak-cucu meraih estafet kepemimpinan memerlukan waktu panjang dengan mengakhiri kepemimpinan sudah tua karena warisan dan beban sejarah merupakan sunatullah atau hukum alam terjadi.

Kita berdoa kepada Allah SWT semoga anak dan cucu kita kelak dapat hidup mandiri dengan berkah perjuangan para pendahulu bangsa. Dan kita masih hidup pun hari ini harus berjuang demi kebahagiaan dan era kemajuan bangsa bagi anak-cucu kita di masa datang! Semoga! Allahu Alam Bish-Shawab! (*)

 

 

*MUHAMMAD ABADI
Penulis Menetap di Desa Kauman, Bojonegoro. Editor : M. Yusuf Purwanto
#Sosial #Miskin #Ekonomi #fenomena #kaya