Jika di Bali ada I Nyoman Nuarta, pematung yang terkenal dengan karyanya Garuda Wisnu Kencana (GWK), di Tuban ada Janjang Berdikari yang sudah membuat ribuan patung. Mahakaryanya diakui Pemkab Tuban hingga dipercaya membuat sembilan patung kuda yang merupakan ikon Bumi Ronggolawe.
SAAT ditemui Jawa Pos Radar Tuban di rumahnya Dusun Bejagung Kidul, Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, Senin (13/12) pagi, Janjang Berdikari sedang menyelesaikan tiga patung kuda di halaman rumahnya. Saat ini, Janjang sapaan akrabnya men dapat pesanan membuat sembilan patung kuda yang nantinya akan dipasang di Bundaran Sleko, Tuban. Enam patung di antaranya sudah rampung dan terpasang. ‘’Kurang tiga patung, ini tinggal finishing saja,’’ kata dia.
Pria yang berulang tahun ke-56 pada 23 Desember mendatang ini bukanlah seniman baru di Tuban. Setelah lulus S-1 seni rupa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya pada 1986 lalu, dia langsung terjun menjadi pematung. Karya pertamanya adalah tugu di Kota Malang. ‘’Sejak salah satu guru saya menyuruh jadi seniman yang laku di pasar, saya memutuskan jadi pematung,’’ tuturnya. Bapak tiga anak ini mengakui tidak semua seniman bisa hidup dari karya yang dihasilkan. Karena itu, dia mencari cara bagaimana bisa hidup dari karya-karyanya. Nah, menjadi pematung adalah salah satu jalan. Janjang sebenarnya bisa membuat patung dari berbagai jenis bahan baku. Namun, dia memilih fokus menelateni patung dari cor semen. ‘’Saya juga bisa buat patung pahatan kayu, tapi lebih fokus buat patung semen saja,’’ ucapnya. Karya-karya Janjang banyak dikenal di seluruh Indonesia.
Sebagian besar kelenteng di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat memintanya membuat patung di lingkungan tempat ibadah tersebut. Begitu juga sejumlah lokasi wisata banyak yang menggunakan jasanya untuk membuat patung. Kepada wartawan koran ini, Janjang mengaku membutuhkan waktu sekitar 1 – 3 minggu untuk menyelesaikan sebuah patung. Lamanya waktu tergantung dari kerumitan dan besar patung yang dibuat. ‘’Hampir semua jenis patung, mulai orang, hewan, tokoh animasi, dan kartun pernah saya buat,’’ terangnya. Untuk patung di Tuban, hampir semua patung yang dibuat dalam satu dekade terakhir adalah karyanya. Sebagian besar patung di TITD Kwan Sing Bio Tuban adalah karya Janjang. Juga patung di destinasi wisata, sekolah, dan tugu desa. ‘’Biasanya pemesan memberi foto rencana patung yang ingin dibuat dan disebutkan karakte ristiknya seperti apa, lalu saya eksekusi,’’ tuturnya.
Seperti halnya saat mendapat pesanan membuat patung kuda di Bundaran Sleko, Janjang mendapat pesanan membuat kuda yang gagah dan kukuh layaknya Megalamat, Gagar Manik, dan Nilam Ambara, tiga nama kuda Ronggolawe. Selanjutnya, pe sanan tersebut divisualkan menjadi sebuah patung yang nantinya akan memperindah salah satu titik keramaian tersebut. ‘’Selain patung kuda, saya juga membuat patung penari yang akan dipasang di Taman Sleko,’’ ujarnya. Berapa harga sebuah patung karyanya? Lulusan STM Negeri Tuban ini enggan menyebutkan. Untuk patung kuda Ronggolawe, Janjang mengaku tak mematok harga khusus. Dia hanya berharap ada ke banggaan dengan turut memberikan sumbangsih karya untuk Tuban. ‘’Ingin menunjukkan kepada anak-anak saya bahwa patung kuda ikon Tuban itu salah satunya dibuat bapaknya,’’ kata dia yang kemudian tertawa.
Editor : Khorij Zaenal Asrori