KOTA - Dinas PU Sumber Daya Air Lamongan menargetkan pengerukan 29 embung tahun ini. Hingga bulan ketujuh, baru tiga yang dikeruk.
“Sebagian masih ada airnya. Jadi kita keruk yang sudah kering dulu,” ujar Sekretaris Dinas PU SDA Lamongan, M Jufri.
Ketiga embung tersebut berada di Soko, Kecamatan Tikung; Sumengko (Kedungpring), dan Kedungsoko (Mantup). Jufri menjelaskan, embung harus dibiarkan sampai habis airnya. Jika masih ada air, maka berpengaruh pada alat berat yang digunakan.
Menurut dia, kapasitas embung tidak seperti waduk. Luas embung 1 - 2 hektare. Cakupan lahan pertaniannya, hanya 10 hektare.
Ketika petani setempat sudah melakukan tanam kedua, otomatis debit embung berkurang.
Jufri menambahkan, Agustus nanti pengerukan dilanjutkan pada delapan titik. Setelah itu, proyek menyesuaikan kondisi di lapangan. Pihaknya bakal mengajukan kembali rehabilitasi dan pengerukan embung saat perubahan APBD.
Saat ini, Lamongan memiliki sekitar 300 embung. Dari jumlah itu, 50 persen di antaranya mengalami pendangkalan dan perlu dilakukan pengerukan.
Bagaimana dengan lahan puso? Jufri menjelaskan, lahan pertanian sebagian besar petani puso mengandalkan tadah hujan. Mereka tidak masuk Rencana Tata Tanam Global (RTTG). Jufri mengklaim dinasnya hanya diberi tugas mengaliri 45 ribu hektare sawah. Sisanya memanfaatkan tadah hujan. Sedangkan untuk embung, masing-masing desa diberikan hak untuk mengelola. “Termasuk pengerukan dan rehabilitasi, mereka diberikan kebebasan menggunakan alat berat yang disediakan dinas,” jelasnya.
Editor : Bachtiar Febrianto