RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Penanganan dampak gempa bumi yang mengguncang Sulawesi Tengah masih terus berlangsung. Di tengah proses evakuasi dan pendataan, jumlah warga terdampak yang tercatat hingga Rabu malam (17/6) mencapai 6.458 jiwa yang tersebar di sejumlah wilayah, dengan Kabupaten Sigi menjadi daerah yang mengalami dampak paling besar.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 2.012 kepala keluarga terdampak akibat gempa berkekuatan magnitudo 6,7 tersebut. Dari jumlah itu, sebanyak 1.991 kepala keluarga atau 6.418 jiwa berada di Kabupaten Sigi. Sementara itu, 21 kepala keluarga atau 40 jiwa lainnya tercatat berada di Kabupaten Parigi Moutong.
Baca Juga: Gempa Bumi Pacitan M6,4 Terasa Hingga Bojonegoro dan Tuban, Namun Tidak Berpotensi Tsunami
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan hingga saat ini tidak terdapat penambahan korban meninggal dunia. Namun, jumlah korban yang mengalami luka-luka masih bertambah seiring proses pendataan yang terus dilakukan petugas di lapangan.
“Terdapat 15 korban luka berat dan 64 korban luka ringan. Seluruh data korban masih dalam proses verifikasi dan pembaruan,” ujar Abdul Muhari, Kamis (18/6).
Selain korban jiwa dan luka-luka, gempa juga menyebabkan kerusakan cukup luas pada permukiman warga. BNPB mencatat sedikitnya 1.456 rumah mengalami kerusakan ringan, 112 rumah rusak sedang, dan 47 rumah rusak berat. Sebagian besar kerusakan tersebut berada di Kabupaten Sigi yang menjadi wilayah terdampak paling parah.
Baca Juga: Gempa M5,5 Guncang Wilayah Selatan Jawa Timur, Dipastikan Tidak Berpotensi Sebabkan Tsunami
Di luar kerusakan rumah tinggal, sejumlah fasilitas umum juga mengalami dampak signifikan. Tercatat 35 rumah ibadah, 10 fasilitas pendidikan, 11 gedung perkantoran, dua jembatan, lima unit usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), empat hotel, satu villa, satu gedung pertemuan, serta satu rumah adat mengalami kerusakan akibat guncangan gempa.
Meski penanganan darurat terus dilakukan, proses pendataan belum sepenuhnya berjalan optimal. BNPB mengungkapkan masih terdapat wilayah yang sulit dijangkau, khususnya di Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso. Putusnya jaringan komunikasi, keterbatasan personel, serta minimnya sarana transportasi menjadi kendala utama yang dihadapi tim di lapangan.
Baca Juga: Protes Kreatif: Mengapa Aksi Tanam Pohon Sering Dipilih untuk Menyindir Jalan Rusak?
“Kondisi tersebut menyebabkan asesmen dan pendataan dampak di wilayah tersebut belum dapat dilakukan secara optimal,” kata Abdul Muhari.
Sementara itu, di Kota Palu, Jembatan Palu III masih ditutup sementara setelah ditemukan keretakan pada struktur bangunan. Pemerintah daerah setempat masih melakukan kajian teknis lanjutan sekaligus mengatur arus lalu lintas di sekitar lokasi demi menjaga keselamatan masyarakat.
Untuk mempercepat proses penanganan bencana, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah menetapkan status tanggap darurat gempa bumi selama tujuh hari, mulai 17 hingga 23 Juni 2026. Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Sigi juga tengah menyiapkan penetapan status darurat selama 14 hari guna mendukung percepatan penanganan dan pemulihan di wilayah terdampak.
BNPB memastikan koordinasi dengan BPBD serta berbagai instansi terkait terus dilakukan agar seluruh kebutuhan korban dapat terpenuhi, sekaligus mempercepat proses pendataan dan penanganan di daerah-daerah yang hingga kini masih sulit diakses. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari