RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Memasuki detik-detik pergantian bulan menuju 1 April 2026, jagat media sosial sempat diramaikan oleh isu panas kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Kekhawatiran masyarakat bukan tanpa alasan; eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia yang kini menembus angka USD 100 per barel.
Namun, bagi Anda para pengendara di Bojonegoro dan seluruh penjuru tanah air, ada kabar melegakan langsung dari Istana Negara. Pemerintah memastikan bahwa tidak ada kenaikan harga BBM, baik subsidi maupun nonsubsidi, per 1 April 2026.
1. Instruksi Langsung Presiden Prabowo: Rakyat Didahulukan
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan bahwa keputusan untuk menahan harga BBM ini diambil setelah koordinasi intensif antara Pemerintah dan Pertamina. Langkah ini merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga: Tinggal Sehari Sebelum Isu Kenaikan Harga BBM, Begini Jawaban dari Menteri ESDM dan Mensesneg
"Pertamina belum akan melakukan penyesuaian harga, baik untuk BBM subsidi maupun BBM nonsubsidi. Keputusan ini mengedepankan kepentingan rakyat dalam setiap pengambilan keputusan," ujar Mensesneg dalam pernyataan resminya, Selasa (31/3/2026).
Pemerintah juga menjamin bahwa stok BBM nasional dalam kondisi aman, sehingga masyarakat diimbau untuk tidak melakukan panic buying.
2. Tekanan Global: Harga Minyak Dunia Tembus USD 100
Meski harga di SPBU tetap stabil, tekanan pada kas negara sebenarnya cukup berat. Lonjakan harga minyak dunia saat ini memberikan beban ekstra pada APBN. Berdasarkan data historis keuangan negara, setiap kenaikan USD 1 pada harga minyak dunia berpotensi menambah beban fiskal hingga Rp 6,7 triliun.
Kondisi ini diperparah dengan dinamika kurs rupiah terhadap dolar yang sangat fluktuatif, sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022 tentang formula harga dasar dalam perhitungan harga jual eceran jenis BBM umum.
3. Pandangan Pakar: Kenaikan BBM Nonsubsidi Sebenarnya Wajar?
Ekonom dari Universitas Airlangga (UNAIR), Wisnu Wibowo, menilai bahwa secara teknis, penyesuaian harga BBM nonsubsidi (seperti Pertamax Series dan Dex Series) adalah hal yang logis. Hal ini karena skema penetapan harganya mengikuti mekanisme pasar internasional.
"Kenaikan BBM nonsubsidi saya prediksi masih di bawah 10 persen, sekitar 5 sampai 10 persen. Ini adalah konsekuensi logis dari variabel harga acuan dan kurs yang dinamis," ungkap Wisnu mengutip dari Jawa Pos.
Meski badan usaha memiliki kewenangan untuk melakukan penyesuaian harga, keputusan Pemerintah untuk menahan harga per 1 April ini dipandang sebagai langkah taktis untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian geopolitik.
Baca Juga: Radar History: Ketika Harga BBM Naik pada 2005 Lalu, Sebabkan 8 Ribu Liter BBM Amblas dalam Dua Jam
Transparansi Informasi Publik
Kepastian informasi mengenai harga energi sangat vital bagi stabilitas ekonomi makro. Berdasarkan laporan dari International Energy Agency (IEA), gangguan pasokan minyak di Timur Tengah selalu berdampak langsung pada biaya logistik global. Oleh karena itu, langkah Pemerintah RI yang memberikan jaminan harga tetap merupakan strategi krusial untuk menekan laju inflasi di sektor transportasi dan distribusi pangan.
Tetap Tenang dan Pantau Jalur Resmi
Masyarakat diminta untuk mengabaikan informasi simpang siur yang tidak bersumber dari kanal resmi Pemerintah atau Pertamina. Hingga saat ini, harga Pertalite, Solar, hingga Pertamax tetap stabil sesuai kebijakan bulan sebelumnya. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko