Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Remaja Kelenteng dan Lichie di Hok Swie Bio Bojonegoro: Ruang Kaderisasi Penggerak Kegiatan di Kelenteng Hok Swie Bio

Hakam Alghivari • Rabu, 18 Februari 2026 | 08:00 WIB
Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Blora menjadwalkan kunjungan ke Kabupaten Pati pekan in, guna mempelajari proses regrouping sekolah dasar negeri yang akan diterapkan tahun ini.
Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Blora menjadwalkan kunjungan ke Kabupaten Pati pekan in, guna mempelajari proses regrouping sekolah dasar negeri yang akan diterapkan tahun ini.

 

PERAYAAN Imlek 2577 Kongzili di Kelenteng Hok Swie Bio Bojonegoro tidak hanya menghadirkan barongsai dan liong. Di balik kemeriahannya, ada proses regenerasi yang disiapkan agar tradisi dan ajaran tetap berlanjut dari generasi ke generasi.


HAKAM AKGHIFARI, Bojonegoro


“Remaja kelenteng itu hampir sama dengan remaja gereja atau remaja masjid. Sama-sama dibentuk untuk regenerasi tempat ibadah kami,”  tutur April Rachma Nirmalasari, pendamping dan guru Sekolah Minggu Khonghucu sekaligus Koordinator muda-mudi TITD (tempat ibadah tri dharma) Hok Swie Bio Bojonegoro.

Perempuan akrab disapa Mo Ay Bing itu menjelaskan, remaja kelenteng dibentuk sebagai ruang kaderisasi, serupa dengan remaja gereja atau remaja masjid.

Di lingkungan kelenteng, pembinaan generasi dibagi dalam dua lingkup. Lichie, singkatan dari Litang Chielik, adalah siswa-siswi sekolah minggu Khonghucu yang menjadi fondasi pembinaan iman sejak dini.

Sementara remaja kelenteng atau Muda-Mudi TITD bersifat lintas agama dalam naungan Tri Dharma, mencakup Khonghucu, Buddha, dan Tao.

Sekolah minggu Khonghucu sendiri mulai berjalan sejak 2000, seiring pengakuan resmi agama Khonghucu di Indonesia. Sejak itulah, sistem regenerasi berjalan lebih terarah. Anak-anak dan remaja tidak hanya mengikuti pembinaan rutin, tetapi juga dilibatkan dalam hampir seluruh kegiatan kelenteng.

“Imlek jadi semakin semarak dan ceria dengan peran aktif mereka. Tahun ini adik-adik seusia KB sampai TK turut menampilkan tarian naga,” kata April.

Harapannya generasi tersebut dapat terus berkembang dan tumbuh, serta kelak meneruskan ajaran dan tradisi yang telah diwariskan. Nilai yang ditanamkan sejak dini pun menekankan persaudaraan universal. “Di empat penjuru lautan kita semua adalah saudara,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Peribadatan Kelenteng Hok Swie Bio, Kho Tjhiang San atau Santoso, menegaskan pentingnya kesinambungan generasi muda. “Kita harapkan generasi itu dapat berkembang dan tumbuh, meneruskan ajaran,” ujarnya.

Saat ini, sekitar 20 hingga 25 anak aktif berkegiatan di Bojonegoro, sementara sekitar 50 lainnya menempuh pendidikan di luar kota. Bagi pengurus kelenteng, mereka adalah mata rantai penting dalam menjaga tradisi tetap hidup, sekaligus merawat toleransi di tengah keberagaman masyarakat. (kam/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Konghucu #Regenerasi #rumah ibadah #kelenteng #Kelenteng Hok Swie Bio #sekolah minggu #barongsai #bojonegoro #Sekolah #Tempat Ibadah Tri Dharma #ibadah #Lintas Agama