Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Prabowo Luncurkan Gerakan Indonesia ASRI: Perang Lawan Sampah hingga Proyek 'Gentengisasi' Rumah Warga

Bhagas Dani Purwoko • Senin, 2 Februari 2026 | 16:09 WIB

GENTENGISASI: Presiden Prabowo Subianto canangkan Proyek Gentengisasi.
GENTENGISASI: Presiden Prabowo Subianto canangkan Proyek Gentengisasi.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Isu lingkungan bukan lagi sekadar wacana pinggiran bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Senin (2/2/2026), Presiden Prabowo menyampaikan visi tegas mengenai penataan wajah Indonesia yang lebih manusiawi dan bermartabat.

Dua sorotan utama yang menjadi perbincangan hangat adalah ancaman krisis sampah di TPA dan sebuah gagasan unik bernama "Gentengisasi".

1. Ancaman TPA Penuh 2028 & Solusi Waste to Energy

Presiden Prabowo membuka fakta yang cukup mengkhawatirkan mengenai kondisi manajemen limbah nasional. Indonesia sedang berpacu dengan waktu sebelum tempat pembuangan sampah kita kolaps.

Baca Juga: 5 Poin Arahan Tegas Presiden Prabowo di Rakornas 2026: Dari Ancaman Perang Dunia III, Sukses MBG, hingga Program 'Gentengisasi'

“Sampah ini menjadi masalah, diproyeksi hampir semua TPA sampah akan mengalami overcapacity pada tahun 2028, bahkan lebih cepat,” tegas Presiden Prabowo.

Tidak ingin negara ini tertimbun masalah, pemerintah bergerak cepat dengan strategi hilirisasi sampah. Tahun ini, 34 proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (Waste to Energy) akan segera dibangun di 34 kota prioritas.

Bagi Presiden, kebersihan adalah fondasi ekonomi, terutama pariwisata. “Sampah itu bencana, sampah itu penyakit. Kita akan berbuat, kita akan dukung, Saudara-saudara. Ini 34, kita segera mulai. Begitu ada uang, kita arahkan ke sini juga. Bagaimana kita mau jual, kita mau harapkan pariwisata, kalau lingkungan kita enggak benar, jorok, kotor,” tambahnya.

2. Gerakan "Corve" Massal: Kembali ke Budaya Gotong Royong

Untuk mendukung visi tersebut, Presiden meluncurkan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah). Presiden menekankan kata "Resik" bukan sekadar slogan, melainkan aksi nyata yang melibatkan semua elemen, mulai dari birokrat hingga pelajar.

Baca Juga: Merawat Tanaman Hias Indoor: Panduan Lengkap untuk Pemula agar Rumah Asri dan Sejuk

“Resik saya tanya artinya apa? Artinya bersih, tertib, dan sebagainya. Ini hanya suatu, katakanlah, nama, tapi wujudnya tadi, semua instansi pemerintahan harus memimpin korve,” ujar Presiden.

Beliau juga mengajak sekolah-sekolah untuk menghidupkan kembali kebiasaan operasi semut atau kerja bakti singkat sebelum pelajaran dimulai. “Anak sekolah enggak apa-apa. Pagi-pagi 10 menit, 15 menit, setengah jam. Kalau ratusan ribuan itu, cepat itu,” imbuhnya.

3. Mengapa Seng Harus Diganti? (Proyek Gentengisasi)

Gagasan yang paling menarik perhatian publik adalah kritik Presiden terhadap penggunaan atap seng yang masif di permukiman rakyat. Menurutnya, atap seng menciptakan lingkungan yang panas, tidak nyaman, dan secara estetika terlihat kumuh karena mudah berkarat.

“Seng ini panas untuk penghuni, seng ini juga berkarat. Jadi tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng,” ucap Presiden.

Baca Juga: 50 Ruas Jalan Tol Resmi Jadi Proyek Strategis Nasional (PSN): Peta Jalan Infrastruktur Pemerintahan Prabowo

Pemerintah menargetkan transformasi visual dan kenyamanan hunian ini dapat terlihat hasilnya dalam waktu singkat. “Saya berharap dalam 2-3 tahun, Indonesia tidak akan kelihatan karat, karat lambang degenerasi, bukan lambang kebangkitan. Indonesia bangkit, Indonesia harus kuat, Indonesia harus indah. Rakyat kita harus bahagia,” tandasnya.

Fakta Ilmiah & Perspektif Global: Mengapa "Gentengisasi" Itu Masuk Akal?

Gagasan Presiden Prabowo untuk mengganti atap seng dengan genteng (tanah liat/keramik) ternyata sejalan dengan berbagai studi ilmiah global mengenai kenyamanan termal dan kesehatan.

1. Efek "Oven" pada Atap Seng: Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Building Engineering menyebutkan bahwa atap logam (seperti seng) memiliki konduktivitas termal yang tinggi namun kapasitas panas yang rendah. Artinya, seng memindahkan panas matahari ke dalam ruangan dengan sangat cepat.

Baca Juga: 5 Tanaman 'Sultan' yang Ubah Rumah Biasa Jadi Mewah Seketika, Bisa Bikin Tetangga Iri!

Di negara tropis seperti Indonesia, rumah beratap seng bisa memiliki suhu dalam ruangan 3-6°C lebih panas dibandingkan rumah beratap genteng tanah liat, yang memiliki sifat isolator alami lebih baik.

2. Kesehatan Mental dan Fisik: Penelitian di Sierra Leone dan negara-negara Sub-Sahara Afrika yang beralih dari atap tradisional ke seng menunjukkan peningkatan risiko heat stress (stres panas) pada penghuninya. Suhu ruangan yang terlalu panas terbukti menurunkan kualitas tidur, meningkatkan iritabilitas, dan menurunkan produktivitas.

3. Estetika dan "Urban Heat Island": Karat pada seng tidak hanya masalah visual. Secara fisik, permukaan yang gelap karena karat menyerap lebih banyak panas matahari dibandingkan permukaan bersih, memperparah efek Urban Heat Island (fenomena di mana area permukiman jauh lebih panas dari area sekitarnya).

Dengan demikian, program "Gentengisasi" ini bukan sekadar soal estetika agar "tidak terlihat karat", melainkan langkah strategis meningkatkan kualitas kesehatan dan kenyamanan hidup rakyat Indonesia. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#Sampah #Presiden Prabowo #Gentengisasi #rakornas 2026 #pembangkit listrik #indonesia asri #Gotong Royong