RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Mungkin ketika Anda dulu membaca rilis, laporan kegiatan, atau berita dari pemerintahan dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, Anda menyadari bahwa gaya bahasa yang digunakan seringkali formal dan kaku. Namun sekarang, artikel-artikel tersebut menggunakan bahaya yang lebih luwes dan tidak baku, atau bahkan kadang minim teks.
Hal tersebut tidak lepas dari perubahan zaman, serta kewajiban keterbukaan informasi oleh pemerintah dan OPD untuk menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Selain itu, media yang digunakan untuk menyampaikan informasi tersebut juga ikut berubah.
“Sebagai pemerintah, kita harus mengikuti dinamika masyarakat. Kita tidak bisa lagi mempertahankan pola komunikasi publik zaman dulu,” papar Direktur Informasi Publik Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Nursodik Gunarjo saat mampir ke studio Podcast Radar Bojonegoro pada November lalu.
Nursodik melanjutkan, jika dulu masyarakat dapat menerima informasi secara utuh melalui televisi dan koran, kini mereka cenderung mencari informasi lewat media sosial, dan perlu ditarik perhatiannya dengan cara menimbulkan rasa penasaran. Selain itu, kini informasi lebih menarik jika disajikan dalam bentuk ringkas dan santai.
“Sekarang, karena trennya adalah orang hanya melihat dan mendengar sekilas, kita gunakan strategi yang lebih menarik, humanis, dan dalam tanda kutip 'receh'. Tujuannya agar informasi ini gampang disebarluaskan. Kita tidak lagi membuat komunikasi panjang dan serius. Konten harus menyentuh, menarik, dan menggugah rasa penasaran. Kalau tidak menarik, akan ter-scroll saja,” jelas pria yang juga seorang novelis tersebut.
Sehingga menurut Nursodik, kemampuan kreasi konten adalah kunci untuk menyampaikan informasi publik secara efektif, di samping kemampuan untuk membuat informasi sebagai pondasi utama. “Dalil komunikasinya, beri apa yang publik inginkan, bukan apa yang kita inginkan,” tambahnya.
Namun tentu, dengan mudahnya masyarakat saling berbagi informasi, ada saja pihak-pihak yang secara sengaja maupun tidak sengaja menyebarkan informasi sesat atau bahkan bohong, alias hoax. “Belum tentu yang viral itu benar. Tantangan kita adalah hoax, disinformasi, misinformasi, dan malainformasi,” ungkap Nursodik.
Pria kelahiran Wonosobo tersebut juga mengakui bahwa dengan lanskap dunia maya dan penggunanya di Indonesia saat ini, memerangi kebohongan juga bukan hal mudah. Sehingga saat ini, cara paling mudah dan efektif untuk melawan hoax adalah memberikan klarifikasi atau pernyataan yang mengungkap fakta yang benar.
“Ini adalah tantangan kita yang paling berbahaya, karena literasi digital masyarakat masih belum tinggi. Kalau orang-orang baik tidak bergerak menghasilkan konten baik, ruang publik digital akan diisi oleh orang-orang buruk dengan konten buruk yang kemasannya lebih menarik dan penuh clickbait, sehingga kita melawan dengan menyajikan informasi yang benar sebagai pembanding,” papar Nursodik. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana