RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench), yang dikenal sebagai salah satu sereal terpenting kelima di dunia, adalah tanaman yang tangguh dan memiliki peran ganda: sebagai pangan utama di kawasan semi-kering dan sebagai pakan ternak di negara maju.
Data produksi global menunjukkan adanya konsentrasi kekuatan produksi di beberapa negara. Di Indonesia sendiri jumlah produksi Sorgum masih terbilang rendah. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2020, jumlah produksi Sorgum di Indonesia masih sekitar 4.000-6.000 ton per tahun.
Berikut adalah rangkuman komprehensif mengenai peta produksi sorgum dunia dan relevansinya bagi Indonesia, khususnya Bojonegoro.
10 Besar Negara Produsen Sorgum Dunia
Produksi sorgum global didominasi oleh segelintir negara yang secara kolektif menyumbang lebih dari 70% total pasokan dunia. Berdasarkan data produksi terkini (2024/2025), Amerika Serikat, Nigeria, dan Meksiko secara konsisten berada di posisi teratas.
| Peringkat | Negara Produsen Utama | Produksi (Juta Ton Metrik) | Peran Utama |
| 1 | Amerika Serikat | 8,7 | Pakan ternak dan eksportir utama |
| 2 | Nigeria | 6,5 | Pangan utama (Afrika) |
| 3 | India | 6,0 | Pangan utama (Asia) |
| 4 | Brazil | 6,0 | Pakan ternak dan bahan baku industri |
| 5 | Meksiko | 4,2 | Pakan ternak dan impor penting |
| 6 | Ethiopia | 4,1 | Pangan utama (Afrika) |
| 7 | Argentina | 3,5 | Eksportir dan pakan ternak |
| 8 | Sudan | 3,3 | Pangan utama (Afrika) |
| 9 | Tiongkok | 3,0 | Pakan ternak dan konsumsi domestik |
| 10 | Australia | 2,3 | Eksportir dan pakan ternak |
Catatan: Angka produksi dapat bervariasi tergantung sumber data (FAO, USDA) dan tahun laporan, namun urutan 10 besar umumnya stabil.
Fokus Penggunaan Global
-
Negara Maju (AS, Australia, Argentina): Sorgum sebagian besar digunakan untuk pakan ternak (feed) dan sebagai komoditas ekspor.
-
Negara Berkembang (Nigeria, India, Ethiopia): Sorgum adalah sumber pangan pokok yang krusial bagi jutaan penduduk di wilayah semi-kering.
-
Penggunaan Lain: Secara global, sekitar 47,5 persen produksi sorgum digunakan untuk pangan, dan 34,7 persen untuk pakan. Sisanya digunakan untuk benih dan pemrosesan industri.
Bojonegoro: Masa Depan Energi Nasional Berbasis Sorgum
Indonesia, meskipun belum masuk dalam 10 besar produsen global, menempatkan sorgum pada posisi strategis sebagai bagian dari program ketahanan pangan dan energi nasional. Peran sorgum di Indonesia kini bergerak melampaui pangan menjadi bahan baku bioenergi.
A. Proyek Strategis Bioetanol Sorgum di Bojonegoro
Bojonegoro, Jawa Timur, telah dicanangkan sebagai bagian dari proyek strategis pemerintah untuk pengembangan energi terbarukan. Sebuah pabrik bioetanol-metanol skala besar direncanakan akan dibangun di kawasan ini, dengan target beroperasi pada akhir tahun 2027.
Investor, seperti PT Butonas Petrochemical Indonesia, berencana menjadikan sorgum sebagai bahan baku utama untuk produksi bioetanol.
Pemilihan sorgum didasarkan pada keunggulannya yang tahan kekeringan dan membutuhkan air serta pupuk yang lebih sedikit dibandingkan bahan baku lain, menjadikannya ideal untuk lahan marginal di Bojonegoro.
B. Peluang Ekonomi untuk Petani
Kehadiran pabrik bioetanol ini menciptakan pasar yang terjamin bagi petani lokal. Tidak hanya bijinya, tetapi seluruh bagian tanaman sorgum, daun dan pohonnya, juga dapat diolah di pabrik tersebut, sehingga tidak ada yang terbuang (zero waste).
Proyek ini diprediksi membutuhkan pasokan sorgum dalam jumlah besar, membuka peluang bagi petani di lahan hutan (melalui kerjasama dengan Perhutani) dan lahan masyarakat untuk membudidayakan sorgum secara intensif.
Kesimpulan: Sorgum, Tanaman Multi-Peran Global
Sorgum telah membuktikan dirinya sebagai komoditas multi-peran yang vital. Di tingkat global, ia memastikan ketahanan pangan di Afrika dan menjadi pakan ternak utama di Amerika.
Di Indonesia, khususnya di Bojonegoro, sorgum sedang bertransformasi menjadi emas hijau yang menjembatani sektor pertanian dengan sektor energi, mendukung program mandatori energi terbarukan dan memperkuat posisi Indonesia dalam transisi energi global. (bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko