Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Penyebab Cuaca Panas Menyengat di Indonesia, BMKG Beri Penjelasan!

Bhagas Dani Purwoko • Kamis, 16 Oktober 2025 | 02:04 WIB
TANPA BAYANGAN: Hari tanpa bayangan atau kulminasi utama akan mencapai puncaknya di Kabupaten Bojonegoro pada 10 hingga 11 Oktober
TANPA BAYANGAN: Hari tanpa bayangan atau kulminasi utama akan mencapai puncaknya di Kabupaten Bojonegoro pada 10 hingga 11 Oktober

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Apa penyebab cuaca sangat panas menyengat akhir-akhir ini? Sebuah pertanyaan yang sangat valid bagi setiap orang di Indonesia. 

Lantaran gelombang suhu panas tinggi yang dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia belakangan ini telah memicu pertanyaan besar:

Selain mengapa cuaca terasa begitu panas? Lalu, kapan kondisi panas ini akan berakhir? Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis penjelasan resmi mengenai fenomena cuaca yang disebut "panas menyengat" ini.

BMKG menegaskan, bahwa suhu panas ekstrem yang dirasakan di Indonesia bukanlah fenomena gelombang panas (heatwave) yang melanda negara-negara subtropis.

Alih-alih gelombang panas, cuaca terik ini merupakan hasil dari kombinasi dinamika atmosfer dan musim yang spesifik.

Berikut adalah tiga faktor utama penyebab cuaca panas menyengat yang dirasakan di Indonesia, serta prediksi BMKG mengenai kapan kondisi ini akan mulai mereda.

1. Pergeseran Semu Matahari dan Fenomena "Hari Tanpa Bayangan"

Salah satu kontributor utama cuaca panas menyengat adalah pergerakan posisi Matahari. Saat ini, posisi Matahari berada di sekitar wilayah ekuator dan bergerak menuju selatan.

Kondisi ini memicu fenomena astronomis yang disebut Kulminasi Utama atau dikenal luas sebagai Hari Tanpa Bayangan.

Kulminasi utama terjadi ketika Matahari berada tepat di posisi paling tinggi di langit, atau berada di titik zenit di atas kepala pengamat.

“Saat deklinasi Matahari sama dengan lintang pengamat, fenomenanya disebut sebagai Kulminasi Utama. Pada saat itu, Matahari akan tepat berada di atas kepala pengamat atau di titik zenit. Akibatnya, bayangan benda tegak akan terlihat ‘menghilang,’ karena bertumpuk dengan benda itu sendiri. Karena itu, hari kulminasi utama dikenal juga sebagai hari tanpa bayangan,” jelas BMKG dalam rilisnya.

Fenomena ini menyebabkan penyinaran Matahari ke permukaan Bumi berlangsung secara intensif, terutama pada siang hari, yang secara langsung meningkatkan suhu udara.

2. Puncak Musim Kemarau dan Minimnya Tutupan Awan

Penyebab kedua adalah faktor musiman. Sebagian besar wilayah Indonesia, terutama yang berada di selatan ekuator seperti Jawa hingga Nusa Tenggara, masih berada dalam periode musim kemarau.

Kondisi cuaca selama musim kemarau cenderung cerah dan sangat minim pertumbuhan awan pada pagi hingga siang hari.

Kurangnya tutupan awan ini menghilangkan penghalang signifikan terhadap radiasi Matahari.

Akibatnya, sinar Matahari langsung mengenai permukaan Bumi tanpa hambatan, menyebabkan suhu pada siang hari terasa sangat terik dan menyengat. Intensitas radiasi Matahari dan sinar UV menjadi sangat tinggi selama periode ini.

3. Pengaruh El Nino dan Angin Kering Australia

Dinamika iklim global seperti El Nino juga turut berkontribusi secara tidak langsung. Meskipun tidak menjadi penyebab tunggal, fenomena ini memperkuat kondisi cuaca kering di Indonesia.

Selain itu, BMKG juga mencatat adanya pengaruh dari sirkulasi Monsun Australia. Pergerakan angin timuran yang bersifat kering dari Australia menuju Indonesia memperkecil peluang terbentuknya awan hujan, sehingga langit tetap cerah dan suhu makin terasa panas.

Kapan Cuaca Panas Menyengat di Indonesia Diprediksi Mereda?

Berdasar prediksi BMKG, masyarakat diimbau untuk bersabar. Cuaca panas menyengat ini diperkirakan akan berangsur mereda seiring dengan berakhirnya periode transisi musim dan masuknya musim hujan.

BMKG memprediksi kondisi ekstrem ini akan mulai membaik pada akhir Oktober hingga awal November 2025.

Prediksi tersebut didasarkan pada pergerakan semu Matahari yang terus menjauhi ekuator ke arah selatan dan, yang terpenting, peningkatan tutupan awan yang menjadi indikasi datangnya musim hujan.

“Cuaca panas ekstrem kemungkinan akan mulai mereda akhir Oktober hingga awal November, seiring masuknya musim hujan dan peningkatan tutupan awan,” ujar Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dikutip dari beberapa laporan media.

Imbauan Kesehatan dari BMKG

BMKG mengimbau masyarakat untuk mengambil langkah-langkah pencegahan guna menghindari dampak buruk dari cuaca panas yang menyengat:

1. Hindari Paparan Langsung: Sebisa mungkin hindari paparan sinar Matahari langsung, terutama antara pukul 11.00 hingga 15.00 WIB.

2. Cukupi Cairan atau Terhidrasi: Pastikan untuk menjaga kondisi stamina tubuh dan mencukupi kebutuhan cairan harian untuk mencegah dehidrasi.

Baca Juga: BPBD dan Dindamkarmat Bojonegoro: Waspadai Potensi Kebakaran di Puncak Kemarau  

3. Gunakan Pelindung: Kenakan topi, kacamata hitam, dan pakaian pelindung saat berada di luar ruangan. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#gelombang panas #penyebab cuaca panas #Tanpa Bayangan #BMKG #panas menyengat #heatwave