Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Respon Gus Miftah Terkait Tayangan Trans7: Yang Dihina Bukan Hanya Kyai, Tapi Sejarah Spiritual Bangsa

Hakam Alghivari • Selasa, 14 Oktober 2025 | 21:54 WIB

 

Gus Miftah tulis surat terbuka untuk Trans7.
Gus Miftah tulis surat terbuka untuk Trans7.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Setelah kontroversi tayangan Trans7 yang dinilai menghina dunia pesantren, gelombang reaksi dari kalangan santri dan tokoh keagamaan terus bermunculan. Salah satunya datang dari pendakwah Gus Miftah yang menuliskan surat terbuka melalui akun Instagram pribadinya pada Senin, 14 Oktober 2025.

Dalam surat yang ditujukan kepada pihak Trans7 itu, Gus Miftah menyampaikan keprihatinannya atas tayangan yang dianggap merendahkan martabat pesantren dan para kyai, terutama di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Ia menegaskan bahwa santri memang tidak memiliki fasilitas besar seperti stasiun televisi, namun memiliki kekuatan yang jauh lebih berharga — yakni adab dan doa.

“Kami santri tidak punya stasiun TV, tidak punya studio megah, lighting mahal, atau kru profesional. Tapi kami punya sesuatu yang mungkin Anda lupakan: adab dan doa,” tulis Gus Miftah dalam unggahannya.

Ia menambahkan bahwa kemarahan santri bukan semata karena hinaan, melainkan rasa sedih karena masih ada pihak yang belum memahami bahwa kehidupan pesantren berakar pada nilai keikhlasan dan pengabdian.

“Kami tidak marah karena dihina. Kami hanya sedih, karena yang menghina mungkin tidak tahu bahwa setiap hari kami mendoakan negeri ini — termasuk Anda di dalamnya,” lanjutnya.

Dalam surat tersebut, Gus Miftah juga menegaskan bahwa para kyai bukanlah sosok yang haus penghormatan, melainkan mereka yang mengajarkan generasi muda untuk beradab dan berkhidmah. Karena itu, ia meminta agar lembaga pesantren dihormati sebagai penjaga moral bangsa yang telah berkontribusi selama ratusan tahun.

“Kami tidak menuntut banyak, cukup satu: hormatilah lembaga yang sudah ratusan tahun menjaga moral bangsa,” tulisnya lagi.

Gus Miftah menutup surat terbuka itu dengan ajakan kepada pihak Trans7 agar datang langsung ke pesantren untuk melihat seperti apa kehidupan santri yang sesungguhnya. Ia menegaskan bahwa pesantren adalah tempat yang mendidik dengan cara paling lembut — melalui ilmu, adab, dan doa.

“Yang kamu hina bukan cuma santri dan kyai, tapi sejarah panjang spiritual bangsa Indonesia,” tutupnya.

Sebelumnya, Trans7 telah menyampaikan permintaan maaf atas tayangan yang memicu protes dari berbagai pihak, termasuk Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dalam pernyataannya, pihak Trans7 mengakui adanya kekeliruan dalam penayangan dan berkomitmen untuk lebih berhati-hati dalam memilih konten siaran yang sensitif terhadap nilai-nilai keagamaan dan sosial. (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#gus miftah #trans7 #Lirboyo #kyai #Tayangan #kontroversi #pendakwah #kediri