RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pada awal 2025, Kabupaten Bojonegoro diproyeksikan menjadi lokasi produksi bioetanol dan metanol. Selain ramah lingkungan, keduanya dapat diproduksi dari bahan alami alih-alih menggunakan bahan sulit terbarukan seperti minyak bumi.
Serupa namun tak sama, baik bioetanol maupun metanol dapat diproduksi menggunakan bahan tumbuhan. Keduanya sama-sama membutuhkan bahan yang dapat difermentasikan, seperti jagung, tebu (termasuk ampasnya), singkong, kentang, ubi jalar, kedelai dan lain sebagainya sebagai bahan baku penyulingan.
Namun umumnya, metanol juga dapat diproduksi dari hasil distilasi atau penyulingan kayu, sehingga juga disebut sebagai alkohol kayu. Penyulingan ini dilakukan untuk menghasilkan reaksi katalis antara karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2) dan hidrogen sehingga terbentuk metanol (CH3OH).
Karena reaksi yang melibatkan CO tersebut, berbeda dengan bioetanol yang tergolong aman untuk kebutuhan umum dan bahkan bisa dikonsumsi (namun menyebabkan mabuk), metanol perlu dipakai secara hati-hati karena bersifat beracun dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.
Selain itu metanol juga rawan kebakaran, dan perlu penanganan khusus jika terjadi kebakaran akibat metanol. Hal ini karena berbeda dengan api kebakaran dari mayoritas sumber api yang dapat dilihat dengan mudah, metanol memiliki api kebiruan yang hampir tak kasat mata jika terbakar, bahkan dalam jumlah besar sekalipun. Namun jangan khawatir, metanol juga dapat dipadamkan menggunakan pasir atau alat pemadam seperti halnya sumber api lain.
Menurut catatan laman Echemi, api yang tak terlihat tersebut dapat terjadi karena pembakaran metanol hanya menghasilkan CO2 dan air, berbeda dengan sumber api lain yang juga menghasilkan CO dan berbagai hidrokarbon lain. Dengan ini pembakaran metanol sebagai bahan bakar hayati jauh lebih bersih ketimbang bahan bakar fosil, namun hal ini juga mengakibatkan metanol lebih mudah menguap dan terbakar ketimbang bahan bakar lain.
Masyarakat Indonesia umumnya lebih mengenal metanol sebagai spiritus, yang sering digunakan sebagai bahan bakar untuk menghangatkan makanan prasmanan, terutama dalam acara hajatan. Jangan takut keracunan jika mengkonsumsi makanan yang dipanaskan dengan spiritus, karena sebagaimana telah dijelaskan, pembakaran spiritus hanya menghasilkan CO2 dan air, dan jumlah spiritus yang diperlukan sebagai bahan bakar tergolong kecil dan umumnya telah dicampur dengan bahan lain.
Berbeda dengan etanol yang populer sebagai bahan bakar kendaraan di Brazil, metanol lebih populer sebagai bahan bakar di Tiongkok, terutama untuk kendaraan umum seperti taksi dan bus. Namun penggunaan lebih ekstrem terdapat di Amerika Serikat, dengan metanol populer sebagai bahan bakar mobil balap dengan kategori terpisah, serta kru pemadam kebakaran terlatih saat mobil-mobil tersebtu berlomba.
Sama seperti etanol, penggunaan metanol membutuhan perubahan komponen jeroan mesin. Namun modifikasi yang diperlukan lebih intensif ketimbang etanol, berhubung salah satu produk pembakaran metanol adalah air, sehingga berpotensi menimbulkan karat dalam mesin.
Namun jangan khawatir, agar lebih aman dan mudah untuk digunakan, metanol dapat juga diolah kembali menjadi etanol. Menurut laman Hero Future Energies, caranya cukup sederhana, yakni menyuling kembali metanol, sehingga pemanasan metanol menambah molekul hidrogen dan mengubah susunan kimianya menjadi C2H5OH.
DI luar kegunaan sebagai bahan bakar dan sumber panas, metanol juga terkenal sebagai salah satu bahan pelarut berbagai produk, seperti tinta, cat, lem, kosmetik, dan banyak lagi. Selain itu metanol juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar produk kebersihan rumah tangga selain peralatan makan, seperti pembersih kaca, pembersih kendaraan, dan banyak lagi. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana