RADARBOJONGEORO.JAWAPOS.COM - Angka kemiskinan di Jawa Timur memang menunjukkan tren penurunan yang positif, namun di balik statistik menggembirakan tersebut, tersembunyi sebuah paradoks.
Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mengungkap pola pengeluaran rumah tangga miskin yang masih didominasi oleh komoditas rendah gizi dan minim produktivitas.
Fenomena ini, yang secara signifikan dipengaruhi oleh konsumsi rokok kretek filter dan mi instan, menimbulkan pertanyaan krusial: apakah penurunan kemiskinan benar-benar mencerminkan peningkatan kualitas hidup masyarakat, atau hanya sekadar pergeseran angka statistik?
Meskipun persentase penduduk miskin di Jawa Timur berhasil ditekan hingga 9,50 persen, turun 0,06 persen dari tahun lalu. Komposisi belanja harian mereka justru memperlihatkan gambaran yang kurang ideal.Secara spesifik, rokok kretek filter menempati posisi kedua sebagai penyumbang terbesar garis kemiskinan, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Di perkotaan, kontribusinya mencapai 9,61 persen setelah beras (23,47 persen).
Di perdesaan, angkanya sedikit lebih rendah namun tetap signifikan, yaitu 8,76 persen, juga di bawah beras. Angka ini mencerminkan tingginya ketergantungan dan prioritas pengeluaran untuk produk tembakau yang notabene tidak memiliki nilai gizi dan justru berdampak buruk bagi kesehatan jangka panjang.
Selain produk tembakau, konsumsi kopi sachet dan mi instan juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Kopi instan menyumbang 2,17 persen di perkotaan dan 2,32 persen di perdesaan.
Sementara itu, mi instan berkontribusi 1,92 persen di perkotaan dan 1,84 persen di perdesaan. Pola konsumsi ini mengindikasikan kecenderungan masyarakat miskin untuk memilih makanan cepat saji dan minuman adiktif yang praktis namun seringkali rendah nutrisi.
Di sisi lain, komoditas yang dikenal kaya gizi seperti telur ayam ras dan daging ayam ras memang masuk dalam daftar lima besar penyumbang garis kemiskinan. Namun, kontribusinya masih jauh lebih kecil dibandingkan produk kretek dan sumber karbohidrat utama.
Di perkotaan, telur ayam ras menyumbang 4,17 persen dan daging ayam 3,83 persen. Di perdesaan, masing-masing sebesar 3,90 persen dan 3,48 persen. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa prioritas pengeluaran masih belum bergeser ke arah pangan yang lebih berkualitas dan bergizi seimbang.
Dengan garis kemiskinan rata-rata sebesar Rp558.029 per kapita per bulan dan rata-rata 4,24 orang per rumah tangga miskin, total belanja bulanan rumah tangga miskin di Jawa Timur hanya berkisar Rp2,36 juta (lihat grafis). Dari jumlah ini, proporsi yang sangat besar, yaitu 76,29 persen, dialokasikan untuk kebutuhan makanan. Sisanya diperuntukkan bagi kebutuhan non-makanan seperti perumahan, listrik, dan perlengkapan mandi.
Data ini secara gamblang memperlihatkan bahwa sebagian besar anggaran rumah tangga miskin habis terserap oleh kebutuhan pokok harian yang bersifat mengenyangkan atau adiktif.
Belanja ini seringkali tidak memiliki dampak jangka panjang yang signifikan terhadap peningkatan kualitas hidup, seperti investasi pada pendidikan anak, pemenuhan gizi optimal, atau akses kesehatan yang memadai.
Pola konsumsi semacam ini berpotensi besar untuk mempertahankan siklus kemiskinan antar-generasi. Jika anak-anak tumbuh dengan asupan gizi yang kurang memadai karena prioritas belanja yang tidak tepat, ini dapat berdampak pada perkembangan kognitif, kesehatan, dan kemampuan mereka di masa depan. Dikhawatirkan, peluang mereka untuk keluar dari jerat kemiskinan menjadi semakin kecil. (kam/)